<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890</id><updated>2011-09-29T04:26:08.694+08:00</updated><category term='catatan kuliah'/><category term='Expresi Muda'/><category term='Sospol'/><category term='puisi'/><category term='pendidikan'/><category term='artikel'/><category term='tokoh'/><category term='esai'/><title type='text'>ideoblogger</title><subtitle type='html'>ide-ide goblok seorang blogger</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8012740137472309949</id><published>2009-03-31T16:26:00.002+08:00</published><updated>2009-03-31T16:38:42.829+08:00</updated><title type='text'>YANG MERUBAH DUNIA</title><content type='html'>"Here's to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square hole. The ones who see things differently. They're not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can't do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. And while some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apple Computer Inc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8012740137472309949?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8012740137472309949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8012740137472309949&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8012740137472309949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8012740137472309949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/03/yabf-merubah-dunia.html' title='YANG MERUBAH DUNIA'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7313676900829903455</id><published>2009-03-24T10:56:00.003+08:00</published><updated>2009-03-24T11:03:42.427+08:00</updated><title type='text'>Menikmati Diskrimanasi Lelucon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SchNgOkZlNI/AAAAAAAAAHY/jhU5HjKSflg/s1600-h/jlvn63l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 191px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SchNgOkZlNI/AAAAAAAAAHY/jhU5HjKSflg/s200/jlvn63l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316584576172790994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelucon, banyulan, komedi, dan sejenisnya, bagi sebagian besar kita, barangkali adalah pemantik tawa yang kita nikmati bersama, meski pada saat yang bersamaan para pemain berlaku diskriminatif berbasis tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi lelucon berbasis tubuh memang berbeda dengan beberapa diskriminasi berbasis gender, ras, ekonomi, politik dan sebagainya. Dalam diskriminasi lelucon perbedaan tubuh ganteng-jelek, cantik-buruk rupa, sebagai dasar dalam diskriminasi, lebih sebagai sebuah pemantik tawa. Tubuh, dalam lelucon ini, dijadikan sebagai bahan sekaligus arena yang bersifat merendahkan lawan main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa kita lihat pada beberapa  acara televisi swasta yang menyiarkan tayangan komedi (situasi). Sepanjang pengamatan saya pada beberapa tayangan komedi tersebut banyak terjadi pendiskreminasian pada pemain yang memiliki tubuh tidak proporsional untuk ukuran masyarakat umumnya: muka kotak, hidung tidak  mancung, gigi tidak rapi dan “menonjol”, kulit tidak putih atau kecoklatan dan kehitam-hitaman, badan tidak tinggi, yang mengarah pada paras ketidaktampanan. Bisa dibilang sebentuk tubuh yang sangat “Indonesia”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya pemain yang buruk rupa akan menjadi objek bulan-bulan dan bahan olok-olokan, dari lawan main yang lebih tampan atau lebih cantik seperti “muka lu kayak monyet!” , “mana ada cewek/cowok yang mau sama lu, muka babak belur en ancur kayak gitu!” dan seterusnya. Biasanya ucapan dibarengi tindakan pemukulan fisik atau pengambilan gambar close up pada bagian muka yang diejek. Bahkan sering pemain yang buruk rupa tidak mendapatkan pelayanan yang selayaknya dan keberadaannya dianggap tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa komedi yang kita saksikan di layar kaca, para pemain yang  bertampang “minim” biasanya menjadi pihak yang kalah, tersingkir, sial dan apes. Demikian juga nama mereka seakan harus mencerminkan muka mereka, maka kita bisa menyebut nama seperti Budi Anduk yang terus membawa anduk untuk menyeka mukanya yang berkeringat, Udin Penyok, dan sebagainya. Bahkan komedian Budi Anduk tidak boleh mengganti namanya dengan yang “khusus”  untuk orang ganteng seperti nama Andre oleh temen-temen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengecualian mungkin hanya pada acara parodi politik. Memang parodi politik sudah menunjukkan kemajuan dibandingkan dengan tayangan komedi lainnya mulai dari Didin Miing dalam kelompok Bagito, Republik BBM dan Republik Mimpi yang dipopulerkan oleh Efendi Ghazali, sampai pada Democrazy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan komedi kita sebenarnya tidak beranjak jauh sejak kemunculan komidian Ateng, Srimulat, trio Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), bahkan yang terbaru angkatan API (Akademi Pelawak Indonesia), dan presenter kondang Tukul Arwana. Masih dengan bahan diskriminasi berbasis tubuh.&lt;br /&gt;Diskriminasi Estetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah bangsa yang sudah dari dulu akrab dengan lelucon. Lelucon bisa kita telusuir jejaknya mulai dari cerita wayang dalam segmen gara-gara dan tokoh Cangik dan Limbuk, seorang ibu yang kecil dan anak perempuan yang bongsor dan tentunya para punakawan. Ikonografi dalam pewayangan memang tidak bisa dengan sendiri dianggap diskriminatif. Dalam pewayangan ikonografi Semar, pimpinan sekaligus ayah para punakawan, tidak bisa dikatakan sebagai sebuah diskriminasi karena memiliki pemaknaan tersendiri terutama dari bentuk badan dan tatapan mata yang sayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah, para dalang jarang yang menonjolkan lelucon dari bentuk tubuh, lebih pada isi ucapan dan petuah-petuah yang bijak dan terkadang menyentil para penonton. &lt;br /&gt;Namun secara umum, ikonografi para tokoh gara-gara adalah sebuah bentuk diskrimianasi estetetik. Sebuah diskriminasi yang seakan tabu untuk melucu kalau mukanya bagus dan sebab itu para tokoh gara-gara layak melakukannya dan menertawakan diri sendiri dan juga tuan-tuan mereka. Maka kita tidak pernah menonton adegan melucu dari para kesatria dan dewa. Sebuah diskrimanasi yang tidak kita anggap. Diskrimanasi ini, sebagaimana dikatakan oleh Anthony Synnott (1993), “tersebar begitu luas, seakan-akan telah menjadi sebuah norma budaya sendiri; dan diskriminasi ini diterima begitu saja seakan-akan tidak ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bukan hanya dalam bahasa, laku tawa menghilangkan subjek seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohamad (2008), “Aku tertawa, maka aku nyaris tidak ada”, tapi juga dalam laku sosial. Namun ada beda jauh antara dua laku ini. Yang pertama menghilangkan subjek dan merayakan keterpelantingan bahasa, sedangkan yang kedua menghilangkan ketidakbertanggungjawaban subjek dalam perilaku diskriminatif dalam ranah sosial. Yang pertama hendak tidak mengacu pada apapun, yang kedua jelas mengacu pada objek muka (tubuh) yang buruk, namun masih menyisakan subjek yang berperilaku diskriminatif tanpa sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita tidak pernah menyadari apalagi memberontak melawan sikap diskriminasi ini. Kita seringkali menikmati diskriminasi, dan kita tertawa, lalu nyaris tidak ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7313676900829903455?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7313676900829903455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7313676900829903455&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7313676900829903455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7313676900829903455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/03/menikmati-diskrimanasi-lelucon.html' title='Menikmati Diskrimanasi Lelucon'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SchNgOkZlNI/AAAAAAAAAHY/jhU5HjKSflg/s72-c/jlvn63l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7005116172965303042</id><published>2009-03-17T10:32:00.004+08:00</published><updated>2009-03-17T10:47:57.740+08:00</updated><title type='text'>Batu Berpetir Ponari:  Kesaktian Batu Atau Kesaktian Media?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/Sb8PUnzfoQI/AAAAAAAAAGk/p4OMopnQAPM/s1600-h/ponari-sweat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 181px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/Sb8PUnzfoQI/AAAAAAAAAGk/p4OMopnQAPM/s320/ponari-sweat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313982932277240066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Ponari sakti bukan karena “berpetir”, tapi karena kesaktian media. Sebuah majalah nasional GATRA memberitakan seorang kakek, Maschan Incok Sunarya, berumur 69, yang mengantri selama tiga hari. Dia harus mengantri bersama sekitar 10.000 orang. Kenapa dia berani nekat pergi ke dukun cilik Ponari? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Surya tertarik datang berobat ke Jombang setelah menonton berita di televise tentang “kesaktian” Ponari. Ribuan orang mengantre setiap hari untuk mendapatkan kesembuhan dari bocah ini. Panitia yang berjumlah 500 personel, terdiri dari aparat Polsek Megaluk, Polres Jombang, koramil, satpol PP, serta aparat desa sempat, kewalahan mengatur jalannnya pengobatan.” Judul tulisan itu:&lt;a href="http://wap.gatra.com/versi_cetak.php?id=123345"&gt;"Dukun Cilik Sugesti Batu Sakti Ponari”&lt;/a&gt;. Dan ajaibnya: semua televisi memberitakan Ponari, dan media cetak, dan media elektronik seperti internet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan penggalan kutipan langsung tersebut, terutama kalimat pertama. Di situ jelas tertulis bahwa yang “memaksa” sang kakek adalah sebuah perantaraan yaitu media televisi. Kalau dirasionalisasi kejadian batu sakti ponari tersebut akan seperti ini: pada mulanya adalah sebuah keanehan, “the unusual is news”, “what’s the different is news” (baca buku Dasar-Dasar Jurnalistik Radio Dan Televisi yang ditulis oleh J. B. Wahyudi terbitan Grafiti), coba-coba hal yang baru (batu berpetir! Satu dalam satu melenium!) mengakibatkan beberapa orang berkumpul, dan kemudian media menciumnya, sampai di sini sudah layak diberitakan (keanehan dan human interest plus magnitude), maka menjadi saktilah Batu Berpetir Ponari tanpa pernah media memberitakan orang yang pernah disembuhkan oleh batu tersebut (ini berdasarkan pembacaanku, kamu punya berita lain yang membukti bahwa ada juga orang yang sembuh secara ajaib dan diberitakan oleh wartawan?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang permasalahannya bukan pernah dan mampu menyembuhkan atau memang terbukti sakti, tapi lebih karena media telah memberitakannya. Kalau kita berbicara media, kita sudah harus melepaskan beberapa unsur rasional, apalagi jika itu adalah media televisi. Kita tahu bahwa tayangan televisi kita hampir semuanya  adalah irasional mulai dari iklan komersial produk, serial sinetron, bombardier infotaimen bahkan sampai iklan politik. Pemirsa kita sudah diindoktrinasi dan dijadikan sebagai penonton tanpa perlu mereka harus berpikir. Maka saat media memberitakan, sekali memberitakan dalam tayangan berita, pemirsa sudah langsung mendapatkan suatu pembenaran oleh tayangan berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa boleh buat, media, bagi kita, hampir tanpa kecuali, adalah “nabi-nabi” yang membawa risalah kebenaran. Media adalah penghubung dan sekaligus pembawa risalah kehidupan kita saat ini dan beberapa tahun bahkan beberapa abad ke depan. Media menjadi sumber informasi dari sekian banyak tangan reporter; kita tidak bisa langsung mengecek sumber utama berita. Kita tidak bisa bertanya kepada Ponari dan membuktikan bahwa batu itu benar-benar terkena petir secara ilmiah. Apalgi kalau harus bertanya satu persatu pada setiap pasien Ponari untuk membuktikan keampuhan Batu Berpetir. Dan sayangnya lagi, atau tragisnya lagi, para dokter kita pasti akan langsung memvonis tidak mungkin dan tidak masuk akal kalau sebongkah batu bisa menyembuhkan (maklum berpendidikan  ala dokter barat bukan dokter jebolan gunung Slamet!). Kita terpaksa dan dipaksa menerima berita tanpa pernah bisa mengecek (memverifikasi) sendiri. (Tentu saja kita kita tidak terpaksa percaya bukan?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seperti dikatakan oleh David (??? Sori lupa namanya) dalam bukunya Berita Di Balik Berita bahwa berita koran yang jatuh di depan pintu kita, adalah berita yang dikerjakan secara terburu-buru. Ini masih koran yang notabene mempunyai waktu sampai sore bahkan sampai malam hari. Lalu bagaimana dengan televisi yang, seperti menjadi sifat dasarnya, ingin lekas-lekas memberitakan secara ekslusif dan langsung dari tempat kejadian. Tentu saja hal ini bisa mengurangi kedalaman dan proses verifikasi berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memverifikasi berita adalah perbuatan dan laku yang tidak masuk akal alias irasional bagi masyarakat informasi. Belum lagi, psikologi pasien tentu saja adalah sebuah keadaan jiwa-mencoba, berikhtiar, nothing to lose, toh belum ada seorang pun yang mati setelah berobat ke Ponari. Bandingkan dengan orang yang mati setelah berobat ke dokter dengan pendidikan ala Barat itu, jumlahlah tidak kehitung! Malpratekteklah, ini-itulah! Belum lagi mahal dan mengerikan: jarum tajam, bau tempat dan obatnya seperti mayat beberapa bulan dan memang beberapa obat dibuat dari mayat! Klop sudah. &lt;br /&gt;Maka berbondong-bondonglah mereka, ngalap berkah Batu Berpetir Ponari. Bukan, tapi kotak ajaib televisi! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 13 Maret, 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7005116172965303042?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7005116172965303042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7005116172965303042&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7005116172965303042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7005116172965303042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/03/batu-ponari-sakti-bukan-karena-berpetir.html' title='Batu Berpetir Ponari:  Kesaktian Batu Atau Kesaktian Media?'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/Sb8PUnzfoQI/AAAAAAAAAGk/p4OMopnQAPM/s72-c/ponari-sweat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6958307961353540281</id><published>2009-02-27T11:26:00.001+08:00</published><updated>2009-02-27T11:26:49.062+08:00</updated><title type='text'>Kebenaran: Diciptakan?</title><content type='html'>Dalam suasana gundah, cemas dan merasa penuh dosa, Leo (Lev) Nikolayevich Tolstoy (1828-1910) melalui toko utamanya dalam novel Kebangkitan, Nekhlyudov, mengecam sekaligus menitahkan dirinya sendiri: “Akan kurobek-robek kebohongan yang menjerat diriku berapapun susahnya, dan akan kuakui segalanya, dan kepada semua orang akan kunyatakan kebenaran dan akan kuciptakan kebenaran itu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku risau dengan pernyataan itu, terutama pada anak kalimta terakhir “akan kuciptakan kebenaran itu.” Seorang bisa saja membongkar kedok kebohongan dan menyampaikannya. Tapi menciptakan kebenaran? Adakah kebenaran itu ciptaan? Atau, kebenaran adalah sesuatu yang sudah ada, ada, dan akan ada sebagaimana ia adanya? Saat Copernicus mengatakan bumi bulat, kita tidak bisa mengatakan bahwa sebelumnya bumi tidak bulat. Bumi tidak pernah tidak bulat sebelum Copernicus mengatakannya bulat. Jadi, bisa dikatakan Copernicus tidak bisa menciptakan bumi menjadi bulat, ia hanya sekadar mengungkapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kebenaran itu mewaktu yang merambat menjalar melalui saluran-saluran sejarah, peristiwa penemuan ilmiah, atau semacam kejadian keterbukaan (ketersingkapan) yang mengejutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku maksud dengan saluran-saluran sejarah adalah “keberanran” yang pemegang pembenarannya adalah para penguasa. Oleh karena itu bisa salah-dan-benar, atau juga, dengan kata lain, yang-dibenarkan atas suatu wewenang (otoritas) baik melalui lembaga atau suatu otoritas keilmuan (meski monopilistik) tertentu yang melekat pada seseorang tapi masih di bawah kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan persistwa penemuan ilmiah adalah kejadian berualang-ulang yang diformulasikan pertama kali, yang biasanya menghinggapi seorang pada saat memikirkan sesuatu (ilmu) fenomena tertentu, seperti yang dialami oleh Galileo, Einstein, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang terakhir, kejadian ketersingkapan, adalah kejadian yang mengejutkan dan mendadak yang menimpa seseorang , bisa nabi atau orang biasa, semacam mukjizat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembenaran ketiga kebenaran ini berbeda. Yang pertama melalui kekuasaan; yang kedua melalui percobaan dan metodologi; dan yang terakhir melalui kejadian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga hal ini, kita mau tidak mau membicarakan pembenaran. Kebenaran tidak bisa tampil sendiri tanpa adanya pembenaran. Dari tiga pandangan ini, aku kira tidak ada satupun yang hendak menciptakan kebenaran. Yang pertama lebih menghendaki dampak dari pembenaran, yang kedua memfokuskan pada mencari dan menelusuri kebenaran dan yang ketiga bersifat menerima atau membuka diri pada kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, aku tidak tahu apa itu kebenaran. Yang sedikit banyak aku tahu adalah cara-cara menerima dan menuju ke sana, seperti berbagai metodologi atau epistemology. Maka menjadi menarik untuk menanyakan ini: bisakah aku sampai pada kebenaran melalui jalan-jalannya tanpa mengetahu lebih dahulu apa itu kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengatakan demikian, sebenarnya aku sudah masuk dalam pemikiran yang menyatakan bahwa kebenaran itu tidak diciptakan tapi sudah ada, ada, dan akan ada, yang akan dicari. Lalu bisakah menciptakan kebenaran? Entahlah. Menurut G.M. dalam bukunya Tuhan Dan Hal-hal Yang Tak Selesai, kebenaran adalah momen ketersingkapan, yang bukan sebuah percobaan atas sebuah pengulangan fenomena seperti dalm ilmu pengetahuan. Apakah memang demikian adanya? Aku juga tidak bisa tahu apalagi yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu kebenaran, cara-cara mencari kebenaran dan penemuan kebenaran atau penerimaan-kesiapan terhadap kebenaran, tidak begitu merisaukan aku, barangkali (meski terkadang menghantui). Tapi yang satu ini: Adakah kita belajar sejak TK sampai kuliah S1, S2, S3 dan belajar seterusnya untuk kebenaran dan mencari kebenaran, atau bahkan untuk mencipatakan kebenaran? Sekali lagi, benarkah kita mencari (dan mempelajari) kebenaran, meski untuk diri sendiri (tidak sebagaimana Galileo yang harus dihukum mati)? Sungguh sulit untuk mengatakan iya, pada zaman kita sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, kalau kita berani dan nekat menjalaninya, maka kita harus terlebih dulu berhadapan dengan berikut ini: perlukah kebenaran? Ya, apa boleh buat, zaman manusia, sejak manusia berpikir, berkuasa, dan bermimpi, di luar Tuhan, adalah zaman pencarian pembenaran-pembenaran sehingga lupa pada kebenaran itu sendiri, dan efeknya begitu besar di tangan kekuasaan manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita, yang di kampus dan lupa kebenaran, terkadang menikmatinya. Begitu juga aku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 18 February 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6958307961353540281?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6958307961353540281/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6958307961353540281&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6958307961353540281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6958307961353540281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/kebenaran-diciptakan_27.html' title='Kebenaran: Diciptakan?'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7990425533194868458</id><published>2009-02-23T12:49:00.004+08:00</published><updated>2009-02-23T12:51:44.586+08:00</updated><title type='text'>Catatan “The Secret”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaIq_0UoVzI/AAAAAAAAAGM/EiUXS7LysAs/s1600-h/TheSecretCD.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 297px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaIq_0UoVzI/AAAAAAAAAGM/EiUXS7LysAs/s320/TheSecretCD.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305850586861164338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semuanya berdasarkan hukum tarik menarik dengan bantuan (alat) pemikiran yang distimulus oleh perasaan, lalu dimana posisi atau peran Tuhan beserta takdirnya? Atau, memakai alternative penalaran, Tuhan “bekerja” dengan instrument pemikiran sebagaimana dikatakan oleh Rhonda Byrne? Jika semuanya adalah kepastian lalu di mana ketidakpastian, di mana misteri juga rahasia, dimana hukum negativitas alam (hitam-putih, juga abu-abu)?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7990425533194868458?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7990425533194868458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7990425533194868458&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7990425533194868458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7990425533194868458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/catatan-secret_23.html' title='Catatan “The Secret”'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaIq_0UoVzI/AAAAAAAAAGM/EiUXS7LysAs/s72-c/TheSecretCD.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9166371579442222927</id><published>2009-02-23T12:19:00.002+08:00</published><updated>2009-02-23T12:35:01.669+08:00</updated><title type='text'>Pelangi Rasa, Hati, Cinta Dan Badai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaInPOp66HI/AAAAAAAAAF8/EdXrGqrpY60/s1600-h/rainbow_6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaInPOp66HI/AAAAAAAAAF8/EdXrGqrpY60/s320/rainbow_6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305846453581310066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah apa maksudnya, Nidji pada ulang tahunnya yang entah ke berapa (ke-7?) mengusung tema “Pelangi Cinta”. Barangkali sederhana alasannya, sebagaimana banyak dipahami orang: “cinta berjuta rasanya”. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya sedikit pengalaman yang berarti tentang pelangi. Pernahkah kamu benar-benar melihat pelangi yang melengkung dengan pendaran warna-warnanya, dengan kedua kornea matamu? Orang yang tinggal di kota, juga kamu, jarang melihat pelangi secara langsung. Paling-paling melalui gambar, yang diperlihatkan oleh guru TK-nya dulu atau melihat gambar pelangi entah di mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku cukup beruntung tentang hal ini, aku dulu sering melihat pelangi pada waktu kecil, karena aku anak yang pernah tinggal di desa. Desa dengan pohon-pohon dan sawah yang luas membentang adalah tempat dimana setiap kali hujan datang dan matahari menyusul butir-butir hujan yang bening nan jernih, yang kebanyakan sudah menyentuh tanah-tanah dan menjadikan tanah memiliki kekuatan ajaib Tuhan untuk menghidupkan rerumputan, mengairi tanaman para petani, juga pada akhirnya memberi makan sapi-sapi, kerbau, dan kambing…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelangi, bagi aku pada waktu itu, tidak ubahnya sebuah keajaiban dunia yang belum tercipta oleh manusia. Sesuatu yang tidak akan manusia gapai meski manusia pernah menginjak bulan. Pelangi ada untuk menghibur anak-anak desa setelah mereka berhujan-hujanan menantang butir-butir bening sampai menggigil kedinginan. Di depan beranda rumah, setelah hujan mereda, datanglah pelangi ciptaan alam di atas langit untuk menghibur mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasiku pada waktu itu terbatas, juga penafsiranku tentang pelangi. Orang-orang di kota barangkali bisa lebih fasih menguraikan hal ini dengan tafsir-tafsir ilmiahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sejak aku sedikit berani berpikir dan berkhayal, juga dibantu oleh Isaac Newton dengan teori Cincin Newton tentang pelangi dan warna, walau sudah dipatahkan oleh sang jenius abad ke-20 Albert Einstein, yang sampai sekarang otaknya masih ada —karena dia menghibahkan pada sebuah lab di Amerika—, diteliti, dan jadi mitos, ada perihal lain pada pelangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak lupa tentang kedua teori dua orang itu. Mereka menurutku adalah makhluk yang penuh dengan daya imajinasi, yang bekerja mendahului otak kiri mereka. Tapi satu hal yang aku tahu tentang pelangi: ia datang setelah badai. Ya, pelangi datang setelah badai hujan (mungkin juga salju) dan matahari menyentuh butir-butir air bening yang beterbangan di langit yang masih diselimuti awan kelabu. Pada pertemuan antara matahari dan butir-butir air bening tercipta pelangi yang memantulkan beraneka spectrum warna matahari. Dan, kita menyebutnya pelangi dengan perasaan bahagia, yang melekat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melihat pelangi di alam raya kita sering melupakan badai, sang pembawa butir-butir air, yang menjadi medium pengejawantahan spectrum warna matahari. Kita terfokus melihat warna-warni pelangi. Dalam kehidupan, terutama cinta, kita juga hanya melihat warna-warna tapi sebagai sebentuk badai: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“akh...hidup...lima menit yang lalu biru, sekarang abu, dan sedetik kemudian mungkin hitam...kelam...sekelam malam....&lt;br /&gt;begitu pula gejolak perasaan ku....sepuluh menit lalu haru biru, setelah itu kuning tanda perasaan mulai kering, lalu hijau kacau, merah marah, ungu nafsu...”(D.A.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sering, penglihatan kita berakhir dengan dikotomis: sedih dan bahagia. Adakah yang salah dengan cara kita melihat pelangi yang berpendaran di alam hati? Manusia, sepanjang yang aku ketahui sejak aku lahir sampai sekarang, adalah makhluk yang tahu —tapi tak hendak mau berpenyadaran— tentang pelangi rasa di hatinya, yang berpendar melengkung seperti pelangi alam. Tapi sering-sering mereka pada akhirnya buta warna: yang mereka temui adalah sering hitam dan putih, sedih dan bahagia, benar dan salah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah yang keliru dengan semua ini? Entahlah. Orang arab barangkali sudah tahu dari dulu, maka dari itu, untuk  medium perpendaran cahaya jiwa, layaknya butir-butir air di langit yang menjadi medium spectrum warna matahari, mereka menyebutnya qolbu, yang-berubah-ubah warna. Dan kita menyebutnya hati, yang jika diucapkan atau ditulis berulang, akan berbentuk peringatan, kewaspadaan, dan penunjuk kesehatan: hati-hati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, Hotel Fortuna, February 22, 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9166371579442222927?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9166371579442222927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9166371579442222927&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9166371579442222927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9166371579442222927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/pelangi-rasa-hati-cinta-dan-badai.html' title='Pelangi Rasa, Hati, Cinta Dan Badai'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SaInPOp66HI/AAAAAAAAAF8/EdXrGqrpY60/s72-c/rainbow_6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8114368427084374152</id><published>2009-02-17T14:36:00.003+08:00</published><updated>2009-02-17T14:49:33.822+08:00</updated><title type='text'>Einstein Dan Dua Malaikat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZpcxS09NMI/AAAAAAAAAFs/IJ29W0kvOC8/s1600-h/_371698_einstein_brain150.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 142px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZpcxS09NMI/AAAAAAAAAFs/IJ29W0kvOC8/s320/_371698_einstein_brain150.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303653513119478978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Menurut catatan dua teman saya, Rokib pencatat segala kebaikan manusia and Atib pencatat segala keburukan manusia, kamu sudah ditasbihkan sebagai manusia paling jenius. Terjenius. Terpintar di antara yang pintar. Emhm…” Malakait Munkar dan Nakir nampak bimbang terhadap pertanyaan yang hendak diajaukan, pada manusia terjenius itu. &lt;br /&gt;Einstein tampak lugu di hadapan makhluk aneh ini. &lt;br /&gt;Munkar dan Nakir, penegak keadilan dan penghukum di alam kubur, agak trauma berhadapan dengan manusia jenius. Pernah, entah suatu siang atau malam, mereka berhadapan dengan sang jenius pemberontak-ahli bahasa Imam Sibaweh. Mereka kewalahan saat menanyakan beberapa pertanyaan. Belum apa-apa mereka berdua malah diinterogasi balik tentang tata bahasa yang mereka gunakan dalam bertanya. Maka bingunglah kedua malaikat itu dan balik ke langit, bertanya kepada Allah: siapa sebenarnya manusia yang satu itu. Allah malah menyuruh membiarkan sang Imam. &lt;br /&gt;“Pertanyaan apa yang sebaiknya kita tanyakan pada manusia jenius itu?” Munkar dan Nakir berembuk. Munkar mengusulkan untuk menanyakan pertanyaan seperti biasa: masalah tuhan, kitab suci, Nabi, dan seterusnya. Nakir agak keberatan dengan pertanyaan biasa itu. Orang jenius sudah hampir pasti bisa menjawab semua pertanyaan itu. Jangan-jangan malah kita yang diinterogasi seperti dulu, kata Nakir. &lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita tanyai aja masalah-masalah ilmiah, kayak hitung-hitungan? Itukan masalah yang sulit?” usul Munkar. “Jangan. Jangan. Dia ahli fisika kawakan di abad ke-20,” jawab Nakir sambil membolak-balik buku catatan Rokib dan Atib tentang Einstein. &lt;br /&gt;Einstein bingung di depan dua makhluk udik itu, dengan dua pentongan besar di pundak.&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita tanyakan saja tentang masalah-masalah kemanusiaan. Bukankah dari dulu, berdasarkan catatan Rokib dan Atib, masalah kemanusiaan menjadi masalah semua bibir manusia dengan bahasa yang berbeda? Pasti membingungkan dan menyulitkan si jenius ini,” usul Munkar, sekali lagi. “Oke,” jawab Nakir.&lt;br /&gt;Einstein masih diam. Dan tidak tampak berpikir. &lt;br /&gt;“Hei, si jenius!” dengan nada keras dan menggelegar, Munkar menggertak Eistein. “Apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu pikrikan pada waktu Perang Dunia II? Apa yang ada dalam perasaanmu saat membuat bom nuklir? Apa yang ada dalam pikiranmu saat melihat ribuan korban mati seketika dan mati perlahan-lahan? Apakah ada setitik penyesalan dalam hatimu?” Tanya Munkar hampir tanpa jeda.&lt;br /&gt;Einstein diam, dan tak tampak hendak menjawab. &lt;br /&gt;“Cepat jawab semua pertanyaan kami, sebelum kami menghancur-leburkan seluruh ragamu itu. Menghancurkan. Menghancur. Menghancurkan,” tampak nada geram, “Lagi. Lagi dan lagi. Menghancurkan otakmu! Ayo cepat!” Nakir mulai tidak sabar setelah Munkar mengulang-mengulang pertanyaannya dan tak tambak akan ada jawaban dari sang jenius. &lt;br /&gt;Diam. Einstein hanya diam.&lt;br /&gt;“Mungkin kita salah orang. Bukan ini orang yang dijuluki si jenius abad ke-20. Masak tidak bisa menjawab pertanyaan kita sama sekali,” Munkar tampak gelisah. Nakir tidak menjawab, dia membuka buku catatan Rokib dan Atib, “Tidak mungkin salah! Malah si Rokib dan Atib  juga mencatatan salah satu gambarnya dengan pose tersenyum sambil menjulurkan lidah. Iya, dia orangnya.”&lt;br /&gt;Mereka membentak dan mengancam Einstein. Sekali lagi. Dan berulangkali. Tak ada jawaban dari si jenius. &lt;br /&gt;Akhirnya mereka menghadap Allah, hendak mengadukan manusia yang bernama Einstein, yang terkenal sebagai si jenius abad ke-20, otak di balik pembuatan bom nuklir dan pencetus toeri relativitas mengalahkan sang jenius abad ke-19 Isaac Newton. Dalam perjalanan mereka bingung sekaligus takut menghadap Allah, jangan-jangan malah mereka yang dimarahi seperti yang terjadi pada Imam Sibaweh, sang linguis. Mereka tidak akan menyiksa Einstein tanpa ada interogasi terlebih dulu. Mereka mau tidak mau harus menghadap Allah. &lt;br /&gt;Sesampai di haribaan Allah, mereka memasang muka takut, takjub sekaligus takdim. Allah sudah tahu kenapa gerangan mereka menghadap. “Aku tahu apa yang kalian hendak tanyakan. Dia memang makhluk yang jenius. Tapi dia belum mengggunakan seluruh otaknya seperti yang pernah dikatakan beberapa ahki otak di bumi. Dia baru menggunakan 5% kekuatan otaknya. Kalian tidak usah menanyakannnya lagi. Dia tidak punya otak sekarang. Otaknya tertinggal di Bumi. Lebih tepatnya dia hibahkan pada sebuah lap penelitian. Sebagai Tuhan dan pencipta otak, barang tercanggir teruntuk manusia, Aku sangat menghargainya, karena dia mau dan berani menggunakan otaknya. Itu lebih baik dari pada sebuah negeri yang tidak pernah mendapatkan hadiah nobel dari Manusia apalagi dari Aku.” Ada jeda beberapa detik, dan nampak nada menyesal. “Kalian kerjakan saja urusan berikutnya.” &lt;br /&gt;“Kami mendengar dan patuh,” sembah kedua malaikat itu. Mereka memeriksa orang mati berikutnya dan membiarkan Einstein.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8114368427084374152?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8114368427084374152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8114368427084374152&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8114368427084374152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8114368427084374152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/einstein-dan-dua-malaikat.html' title='Einstein Dan Dua Malaikat'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZpcxS09NMI/AAAAAAAAAFs/IJ29W0kvOC8/s72-c/_371698_einstein_brain150.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-848063696260139995</id><published>2009-02-12T14:35:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:36:24.068+08:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa: Kasihan Deh Lu!!</title><content type='html'>P&lt;br /&gt;engesahan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) bisa dikatakan sebagai potret kegagalan gerakan mahasiswa pascareformasi. Hampir tidak terdengar gerakan mahasiswa yang mendukung RUU BHP, yang berarti gerakan mahasiswa sebenarnya bisa menggalang solidaritas yang solid dan kuat antar entitas gerakan. &lt;br /&gt;Maka menjadi pertanyan yang menarik: kenapa gerakan mahasiswa seperti “kecolongan “ saat RUU BHP disahkan oleh pemerintah yang didukung penuh oleh DPR? Pertanyaan ini penting karena gerakan mahasiswa yang mengemuka di arena publik saat ini adalah demonstrasi sporadis, reaktif dan tawuran yang sedikit banyak mencoreng gerakan mahasiswa. Sekaligus, sebagai momentum membentuk platform perjuangan yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reposisi “Musuh Bersama”&lt;br /&gt;Banyak kalangan (bagaimana dengan sikap mahasiswa?) yang mengamini bahwa kegamangan dan kemunduran gerakan mahasiswa pascareformasi disebabkan oleh tidak adanya “musuh bersama” yang represif (seperti Soeharto) sebagaimana dikemukakan oleh Agus Suwignyo (Kompas, 22/11/2008). Hal ini juga saya rasakan saat memasuki masa perkuliahan. Banyak gerakan mahasiswa yang kehilangan orientasi perjuangannya.  &lt;br /&gt;Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah “khittah” gerakan mahasiswa hanya sekadar menumbangkan rezim totaliter yang represif, katakanlah sebagai “visi-misi” bersamanya? Saya pikir tidak ada gerakan mahasiswa yang akan mengiyakan secara serempak. Selama ini gerakan mahasiswa terjebak dalam retorika “musuh bersama” yang secara tidak langsung sebenarnya mengarahkan sekaligus mengharuskan gerakan mahasiswa sebagai gerakan berbasis aksi. Hal ini mendapatkan momentum pengesahannya pada saat mahasiswa secara massif berdemonstrasi di gedung DPR untuk menggulingkan Soeharto. &lt;br /&gt;Gerakan yang berbasis aksi sebenarnya sudah tidak efektif lagi dalam demokrasi (liberal/konstitusional) sekarang. Dalam demokrasi liberal, yang paling penting untuk dilakukan gerakan mahasiswa adalah berdasarkan rentetan berikut: memenangkan opini publik, mengusulkan atau mengawal proses legislasi, dan memastikan berjalannya semua ini untuk kepentingan rakyat. &lt;br /&gt;Opini publik, dalam kasus RUU BHP, adalah bagaimana memberikan pemahaman terhadap publik bahwa UU BHP sejatinya adalah menjual pendidikan kepada publik (rakyat) yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai warga negara. Pemahaman publik akan menjadi modal kerangka berpikir publik dalam merespon kebijakan-kebijakan pemerintah. Sayangnya hal ini sepertinya tidak digarap oleh gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Gerakan mahasiswa selama ini cenderung menggunakan gerakan berbasis aksi seperti demonstrasi sebagai ciri khasnya. Model gerakan ini tidak akan memenangkan opini publik. Publik tidak mendaptkan pemahaman yang memadai untuk memberikan respon dan mengambil sikap. Akibatnya gerakan mahasiswa dalam mengawal RUU BHP tidak banyak mendapat dukungan baik dari civitas akademika ataupun masyarakat. Buntutnya sudah bisa kita lihat, pengesahan RUU BHP. &lt;br /&gt;Maka di sini perlunya mereposisi “musuh bersama” dan membentuk platform gerakan yang berbasis ide atau pemikiran. Musuh bersama yang berbentuk rezim seharusnya direposisi menjadi cita-cita bersama, katakanlah seperti “Indonesia yang Kita Cita-citakan” yang pernah dilakukan oleh Kelompok Cipayung pada 19-22 Januari 1972 (Kompas, 10/12/2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini Publik dan Daoed Yoesoef&lt;br /&gt; Memenangkan opini publik mengharuskan adanya pemikiran yang solid secara intern dan kuat secara ekstern. Solid secara intern dan kuat secara ekstern berarti pemikiran itu komprehensif dan tahan terhadap gempuran kritik dari luar. Dalam hal ini kita ingat kembali alasan menteri pendidikan dan kebudayaan yang pernah “membredel” gerakan mahasiswa, Daoed Yoesoef, dengan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). &lt;br /&gt;Daoed Yoesoef memberikan definisi mahasiswa, yang sekaligus sebagai alasan kebijakannya, “Mahasiswa pada hakikatnya, bukanlah “manusia rapat umum” (man of public meeting), tetapi manusia penganalisa bukan semata pemburu ijazah, tetapi seharusnya penghasil gagasan (ide) yang disajikan dalam bentuk pemikiran yang teratur, yang banyak sedikitnya sesuai dengan hakikat ilmu pengetahuan yaitu goerdend denken… hakikat kemahasiswaannya, adalah kekuatan penalaran dan pikiran individual.”&lt;br /&gt;Dalam konteks masa itu (70-an), ide seperti ini memang tampak tidak relevan dengan tuntutan zaman dan cenderung mengebiri. Gerakan mahasiswa (organsisasi ekstra kampus) dikeluarkan dari kampus yang berbuntut kurang solidnya gerakan mahasiswa dan mahasiswa cenderun “study oriented” tanpa mengenal dan peka terhadap lingkungan masyarakatnya. &lt;br /&gt;Namun pada saat ini, ide seperti ini menjadi sesuatu yang banyak ditunggu oleh masyarakat. Masyarakat sudah jenuh dengan gerakan berbasis aksi yang cenderung negatif (dengan tidak bermaksud mengeneralkan). Maka inilah celah bagi gerakan mahasiswa untuk mengedepankan gagasan dan pemikiran, menjadi gerakan berbasis pemikiran.&lt;br /&gt;Dengan gerakan yang berbasis ide atau pemikiran, gerakan mahasiswa sangat mungkin akan menghasilkan pemikir-pemikir yang kuat. Dan pemikiran orang-orang inilah yang harus dikemukakan pada publik sebagai sebuah cita-cita, solusi dan respon. Kalau kita melihat sejarah pergerakan bangsa ini sejak, kita melihat semua pergerakan berasal dari sebuah gagasan (cita-cita) yang solid secara intern dan kuat secara ekstern, bukan sekadar respon. Dan gagasan ini menjadi arus utama dalam kesadaran masyarakat atau menjadi opini publik, sehingga publik menyambut dan mendukung.&lt;br /&gt;Jika proses pembentukan pemikir ini tidak terlaksana, bisa dipastikan kita akan melihat gerakan mahasiswa jalanan namun yang bukan parlemen jalanan. Aksi-aksi demonstrasi yang reaktif dan sporadis yang sangat mungkin akan tidak terhindari aksi anarkisme. Jika hal yang pertama ini tidak terlaksana kemungkinan besar proses pengawalan pembentukan undang-undang (bukan proses pengusulan draf undang-undang) akan menjadi agenda yang sia-sia karena tanpa dukungan publik.&lt;br /&gt;Melihat realita gerakan mahasiswa sekarang, nampaknya semua itu akan tetap terjadi dan pengabaian-pengabaian akan terus berlanjut. Yang sering mengemuka dalam berbagai pertemuan antar gerakan mahasiswa dan berbagai forum dialog, kita menemukan sebuah realita yang jauh dari definisi yang dikemukakan oleh Daoed Yoesoef tersebut. Kita sering membaca berita yang mengatakan sekarang mahasiswa malas berpikir dan, seperti biasa, akan mendapatkan momentum kritisnya saat perayaan Sumpah Pemuda. &lt;br /&gt;Dan beberapa kegagalan ini akan dirasakan oleh generasi mahasiswa pada periode berikutnya, seperti dikatakan dalam tulisan “Bercermin BHMN, Menolak BHP” oleh Ali Khomsan (KOMPAS, 27/12).&lt;br /&gt;So, siapa yang harus mengatakan kasiannn: Lhoe, Bapak lhoe, atau elhoe-elhoe? Atau, pertanyaannya kita balik: Kasihankah gerakan mahasiswa sekarang atau mahasiwa berikutnya? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Kutipan dari perkataan Daoed Yoeseof di atas penulis ambil dari bukunya Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, halaman 30, terbitan PT.Remaja Rosdakarya, BAndung (cetakan ke-8, tahun 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Surakarta, 7 January 2009&lt;br /&gt;©M.FZ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-848063696260139995?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/848063696260139995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=848063696260139995&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/848063696260139995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/848063696260139995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/gerakan-mahasiswa-kasihan-deh-lu.html' title='Gerakan Mahasiswa: Kasihan Deh Lu!!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8901148134528923135</id><published>2009-02-12T14:34:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T14:34:42.058+08:00</updated><title type='text'>Uang, Uang, Uang..</title><content type='html'>Bagaimana uang diproduksi, didistribusikan, dan dinilai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau uang, yang Cuma kertas, bisa dibuat oleh sebuah Negara, kenapa juga mereka harus meminjam keluar negeri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal-muasal uang, bagaimana kita menentukan sebuah barang dengan uang? Kok bisa sepotong roti berharga demikian (Rp. 500)? Pada mulanya tidak ada uang, tapi ada barang, yang dalam keadaan darurat katkanlah perang, tentu saja lebih berharga dari pada uang sekalipun uang emas, lalu bagaimana uang bisa dibuat oleh Negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada muala tidak ada uang, lalu dalam perdagangan, orang membutuhkan uang, dan semakin banyak perdagangan semakin banyak uang yang diperluka dan tentunya harus dicetak, bagaimana pemerintah mengukur berapa banyak uang yang harus dicetak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8901148134528923135?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8901148134528923135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8901148134528923135&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8901148134528923135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8901148134528923135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/uang-uang-uang.html' title='Uang, Uang, Uang..'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7812092284399005006</id><published>2009-02-12T14:33:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T14:33:59.153+08:00</updated><title type='text'>Kebohongan, Tontonan, dan Diri</title><content type='html'>SAAT kita menonton film dan seorang aktris atau actor berakting dengan baik bahkan nyaris sempurna, yang membuat kita terkadang tertawa, kecut, menahan nafas beberapa menit, haru, tawa, tangis, dan sebagainya, betapa kita, manusia, sungguh pandai memerankan hidup, menjadi orang lain, dan tentu saja semua itu adalah pura-pura (bisakah dikatakan sebagai kebohongan?). Kita sadar dan menyadarinya: Cuma sekadar acting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita yang dibuat menangis, haru, dan sebagaianya, tidak pernah menyangkal bahwa itu semua hanya kebohongan, meski ia timbul dari proses kepura-puraan dari sang pemeran. Di sini, ada semacam pemisahan antara keduanya: kebohongan dan kepura-puraan. Kita, meski demikian, bahkan sama-sama menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita berada di zaman yang menghargai kepura-puraan. Kita memeberi penghargaan pada mereka yang bisa berakting (perpura-pura?) dengan mewah dan meriah. Namun kita tidak akan pernah menghargai orang yang pandai berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beda antara berakting dan berbohong. Keduanya seakan saling menjauh meski tidak saling bertolak belakang, dalam sebuah jarak yang jauh. Kita tahu semua itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kita sering alpa bahwa manusia adalah makhluk yang peling pandai-cerdik berbohong. Terkadang saya berpikir bahwa berbohong itu butuh, dan kita bisa bahkan mampu menjalaninya dengan sempurna dan setelah itu menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang bilang antara berakting (berpura-pura), berbohong, dan jujur hanya dibatasi oleh niat dalam hati. Dan kita tidak pernah tahu siapa yang berakting, berbohong, dan berlaku jujur saat semua itu dijalankan dengan sepenuh hati dan penjiwaan yang totol. Dan sering, akulah pembohong itu, salah satunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7812092284399005006?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7812092284399005006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7812092284399005006&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7812092284399005006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7812092284399005006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/kebohongan-tontonan-dan-diri.html' title='Kebohongan, Tontonan, dan Diri'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9212200108317314714</id><published>2009-02-12T14:29:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T14:29:46.085+08:00</updated><title type='text'>Awas, Jangan Demo!</title><content type='html'>(Mengkritisi Kegagalan Gerakan Mahasiswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas, jangan demo: bayangkanlah bahwa apa yang kamu teriakkan di tengah jalan tidak memekakkan telingan orang yang kau demo. Jalanan menjadi tempat sunyi, meski setiap detik kamu mendengarkan bunyi mobil lalu lalang. Tidak ada yang perlu lagi kamu teriakkan di tengah jalan. Suaramu bahkan telah serak, lalu sedikit demi sedikit menghilang. Sedang kata-katamu , setalah keluar dari megafon, menguap ditelan bising mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau duduk di pinggir trotoar jalan, minum es teh yang sudah tidak dingin lagi. Kamu kelelahan. Dan baru pertama kalinya kamu merasakan sesuatu yang telah lama kamu abaikan: ternyata udara kota di pinggir trotoar tidak sejuk bahkan berbau bensin, got, dan berbagai sampah manusia kota. Broooookk. Prakkkk. Kepalamu tiba-tiba berada di bawah tanah. Copot? Kamu melihat sepatu lars petugas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praaaakkkk. Terdengar suara sengau nyeri yang aneh lagi. Kali ini seorang petugas roboh terkena batu bogem besar dari seorang mahasiswa. Heehhhh, ada apa semua ini. Praaak. Toosss. Broookkk. Praaakk. Toooossss. Braaakkk. Berkali-kali. Bertubi-tubi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menang? Kalaupun ada yang menang. Pentingkah menang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tulisan sebenarnya mau nulis apa? Baiklah kita fokus pada kegagalan gerakan mahasiswa p terkait engesahan UU BHP yang hampir semua elemen gerakan mahasiswa menentangnya. Ada satu hal yang paling mendasar dari kegagalana ini. Yakni, penekanan yang terlalu fokus pada demontrasi sudah tidak lagi efektif dan tidak memberikan opini public yang menyadarkan. Bahkan sebaliknya, persitiwa di atas sering dilakukan oleh mahasiswa yang merugikan bagi citra gerakan mahasiswa. Mahasiswa harus menyudahi bentuk gerakan berbasis pada aksi (demontrasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa harus menyudahi bentuk gerakan berbasis pada aksi (demontrasi). Dan beralih pada gerakan yang mengedepankan pembentukan opini public yang berkerakyatan. Sampai di sini, gerakan mahasiswa mau tidak mau harus menjadi sebuah gerakan yang mengarah pada gerakan berbasis pemikiran. Pemikiran-pemikiran ini harus menyebar dalam berbagai media, atau gerakan mahasiswa harus memiliki corong (media) yang kuat dan sering dikutip oleh berbagai media nasional dan local. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advokasi atau perjuangan untuk melawan RUU BHP adalah contoh nyata kegagalan kerakan berbasis aksi. Mahasiswa berteriak lantang di boulevard kampus, trotoar, bahkan di gedung-gedung DPR/D tapi tak seorangpun mendengarkan semua ini. Demontrasi yang dilakukan secara sporadic di berbagai kampus meski secara kuantias banyak tapi secara kualitas tidak berarti apa-apa. Demo-demo itu bahkan tidak mendapat dukungan dari mahasiswa dalam kampus sendiri. Hal ini bisa dipahami karma gerakan mahasiswa tidak menang dalam opini public bahkan di tingkat bawah yang menjadi korban dari RUU BHP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, gerakan mahasiswa harus kembali pada bentuk gerakan berbasis pemikiran untuk membentuk opini public yang kuat dan merakyat sekaligus merata. Awas, jangan demo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah, semua ini dilakukan oleh gerakan mahasiswa di tengah menjamurnya berbagai media dan LSM? Memang berat. Tapi bukankah mahasiswa pernah memiliki media yang cukup kuat katakanlah seperti Mingguan KAMMI? Yang menjadi pertanyaan genting adalah merumuskan platform gerakan pemikiran yang kuat dan membentuk jaringan antar gerakan yang berbasis di kampus-kampus. Teknologi sudah menyiapkan semuanya, tinggal kesungguhan dan momentum yang tepat. Kita tidak akan lagi menghadirkan gerakan berbasis aksi tanpa adanya dukungan public yang kuat. Kita tetap memerlukan aksi untuk saat momentum mengharsukan, seperti pada gerakan ’65 dan 98. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, December 18, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9212200108317314714?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9212200108317314714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9212200108317314714&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9212200108317314714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9212200108317314714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/awas-jangan-demo.html' title='Awas, Jangan Demo!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9111055153065839986</id><published>2009-02-12T14:28:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T14:28:51.116+08:00</updated><title type='text'>Perihal Semangatnya “Semangat”</title><content type='html'>“Semangat!”, “Tetap semangat”, atau sesekali aku mendengarkannya dalam bahasa Inggris, “Keep spirit!” dan sejak saat itu ada yang melonjak dalam dada kita. Andrenalin naik sekian drajat dan dengan itu terkikis rasa malas yang terus menghantui kita, yang selalu memberati gerak kita. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Kita membutuhkan penyemangat dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada yang kurang setiap kali memompa diri kita, mensugesti diri dengan selalu bersemangat. Ada kalanya kita perlu semangat bersedih, dan murung. Mungkin ini adalah ide murahan dan sangat absurd dalam kehidupan kita yang selalu terdoktrinasi untuk selalu berbahagia, bersuka ria dalam menghadapi kehidupan ini. Ia ide yang tidak dapat diterima dalam komunitas manusia yang selalu menginginkan keriangan dan tawa. Tidak mausk di akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa boleh buat, “semangatisme”, kalau boleh dikatakan demikian, adalah sikap dan wadah dimana kita bisa memasukkan hampir setiap ide ke dalam diri kita, ke dalam otak kita, tanpa perlu merespon dengan cara yang tidak bersemangat. Dalam setiap respon yang diberikan oleh semangatisme adalah sebuah afrimasi. Hal ini akan sangat terlihat dalam aku mencerna berbagai pertarungan ide yang masuk dalam system otak kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangatisme adalah semacam sugesti diri untuk selalu antusias dalam melakukan berbagai hal. Dan ini tentu saja perlu sikap positif dan membuang jauh sentiment atau sikap-sikap negative. Tapi apa itu sikap negative?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekap negative bagiku adalah terkadang inspiratif dan sugestif. Hal ini akan semakin jelas dalam diri….(sebelum selesai!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9111055153065839986?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9111055153065839986/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9111055153065839986&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9111055153065839986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9111055153065839986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/perihal-semangatnya-semangat.html' title='Perihal Semangatnya “Semangat”'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-1256677683969762179</id><published>2009-02-12T14:27:00.001+08:00</published><updated>2009-02-12T14:27:40.109+08:00</updated><title type='text'>Yang Kecil dan Sedikit</title><content type='html'>Kebenaran kecil dan kesalahan sedikit…, itulah, barAngkali, CINTA, yang manusia menikmati, sekaligus, yang mereka sesali. Bersamaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-1256677683969762179?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/1256677683969762179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=1256677683969762179&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1256677683969762179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1256677683969762179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/yang-kecil-dan-sedikit.html' title='Yang Kecil dan Sedikit'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8676043902579793440</id><published>2009-02-12T14:25:00.003+08:00</published><updated>2009-02-12T14:49:04.476+08:00</updated><title type='text'>Teks, Takdir, Puisi Liris</title><content type='html'>Bunyi: itu kesimpulan terpendek tentang puisi dalam perdebatan puisi liris. Menurut pembicara NgudirasaSastra (7/2/09), Triyanto Triwikromo, liris adalah takdirnya puisi. Teks menyatu pada bunyi, penyebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pembicara, hal ini disebabkan oleh, semua hal yang berkaitan dengan bahasa (lisan atau tulis) mengandung bunyi (yang berteks). Jika demikian, mungkinkah sebuah post-liris? Bisa iya, bisa tidak. Untuk jawaban tidak, sudah banyak dibahas oleh pembicara dan sulit untuk menyanggah bahkan sekadar memberikan alternative apalagi mendekonstruksinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iya? Inilah jawaban saya: hlangkan semua teks, pikiran, berikut bunyi, meski yang menggema dalam hati!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8676043902579793440?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8676043902579793440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8676043902579793440&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8676043902579793440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8676043902579793440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/teks-takdir-puisi-liris.html' title='Teks, Takdir, Puisi Liris'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-5153552729891640691</id><published>2009-02-12T14:23:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:25:03.982+08:00</updated><title type='text'>Pertanyaan Murid Mbolosan</title><content type='html'>Bu Rini (bolehkah aku memanggil demikian?), yang saya hormati. Entah karena apa, dalam beberapa minggu ini saya menemui banyak masalah dan terutama dalam bentuk psikologis, dan.saya minta maaf untuk itu jika sampai membuat Bu Rini kerepotan dan menyusahkan. Sekali saya minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, maaf mungkin lebih besar artinya dari pada sebuah “nilai”. Karena secara akademis juga secara social-kultural hal ini mungkin saja  laik mendapatkan nilai yang jauh lebih jelek. Ya, saya akui itu. Dan untuk itu, saya minta maaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sejak beberapa semester yang lalu, memang banyak hal yang terjadi dalam diri ini. Tapi untuk semester ini, ada beberapa pertayaan yang sedikit membuatku bertanya-tanya (sesuatu yang biasanya saya sendiri mencarinya di buku-buku dan tidak menanyakannya langsung pada dosen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa pertanyaan ini saya belum bisa menemukannya dalam beberapa literature. Pertanyaan pertamaku: apa sebenarnya metode Kajian Amerika? Dalam beberapa kali pertemuan mata kuliah Kajian Amerika, saya sering mendapatkan kebingungan. Sebenarnya kita itu mau diajari apa: semiologikah, budaya popkah, cultural studieskah, atau sebuah, seperti, kajian sosiologi pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat dari pertama kali saya masuk kuliah Metode Kajian Amerika, saya langsung teringat bukunya Roland Barthes yang pernah saya baca (terjemahan) terutama sub tema Myth (Mitos Dewasa Ini). Dalam kajian budaya popular, metode ini memang banyak dipakai meski sanggahan terhadap mitologi Barthes ada lobang kekurangan filosofis terutama dalam menarik penafsirannya yang, menurut beberapa pemikir, terlalu arbitrer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Amerika, seperti dalam kuliah Bu Fitria, adalah kajian yang memakai berbagai metode. Tapi yang saya sayangkan adalah kenapa tidak dibahas secara mendalam konprehensif dalam mata kuliah tersendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai membahas semiologi Roland Barthes, perkuliahan beranjak pada pembahasan mitodologis dalam beberapa bahasan, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat budaya popular yang kehilangan estetika dan rasionalitasnya. Ya, sesuatu yang menurut sepengetahuan saya hampir sama dengan yang banyak dibahas dalam posmodenisme. Juga hampir sama dengan pembahasan dalam cultural studies. (Ahmad Sahal pernah menulisnya dalam Rubrik Bentara di Harian KOMPAS, dengan judul : Cultural Studies Yang Menyingkirkan Esttetika).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kedua: sebenarnya kita belajar Orientalisme atau Oksidentalisme? Terus terang saya belum tahu kemana arah dari “jurusan” Kajian Amerika di sastra Inggris ini. &lt;br /&gt;Fotokopi yang kita terima pada masa kuliah Metode Kajian Amerika, adalah pengantar bukunya Said Edward, dengan judul Orientalism. Sebuah buku yang banyak membongkar maksud-maksud tersembunyi dalam kajian orientalisme. Buku ini memang saya belum membacanya, karena masih dalam pencarian buku itu sendiri yang diperpus sepertinya memang tidak ada. Sedangkan yang kedua, Oksisdentalisme, adalah kajian yang membahas peradaban barat. Ada juga buku yang berjudul sama yang ditulis oleh Hasan Hanafi. Hal ini pernah dibahas dalam jurnal Universitas Paramadina yang berusaha menengahi pertentangan Orientalisme dan Oksidentalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkuliahan, saya bingung kemana arah yang hendak dijejakan: menkaji pemikiran barat dengan demikian menjadi oksidentalis; atau menkaji barat tanpa ada rasa atau tujuan “akademis”, bukan orientalis atau oksidentalis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Berikut ini sekadar usul: bagaimana kalau penjurusan Kajian Amerika ditetapkan pada semester lima? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan untuk usul ini. Pertama, secara personal saya merasa bahwa saat saya masuk Kajian Amerika, saya seperti dimasukkan dalam lorong waktu yang memiliki system waktu yang berbeda dalam kecepatan. Kita harus berpacu dan melaju terus. Kita harus menguasai, atau paling tidak bisa ngomong dalam presentasi, beberapa permasalahan ekonomi, politik, sosiologi, budaya, berikut pemikiran dibaliknya atau asumsi-asumi yang mendasarinya, secara serempak tanpa ada “pengantar” yang bisa dijadikan peta atau arah. Kita tiba-tiba saja sudah ada di medan perdebatan, sejenak sebelumnya tanpa kita punya persiapan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, terus terang Kajian Amerika adalah kajian yang sangat luas dan komples. Saya yakin para dosen menyadari hal ini. Tidak seperti major study lainnya, kajian Amerika adalah kajian yang “belum” siap secara akademis jika dibandingkan dengan kajian lainnya. Kajian sastra dan lingiuistik merupkan kajian yang sudah cukup matang dan dewasa dibandngkan dengan kajian lainnya. Berikutnya adalah penerjemahan yang lumayan siap secara akademis dan dan teknis. Kajian Amerika? Entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dengan menetapkan penjurusan Kajian Amerika pada semester lebih awal (lima), paling tidak hal ini akan memberikan nafas yang lebih lega dan lama pada mahasiswa untuk memikirkan proposal dan mendalami Kajian Amerika dengan lebih komprehensif. Kenapa kita tidak melakukan ini seperti halnya Komunikasi FISIP? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Terima kasih atas segalanya. Bukan bermaskud menyinggung atau apa. Tapi sekadar rasa gelisah saya terhadap diri ini, barangkali. Terakhir, mohon maaf atas kelancangan tulisan ini. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 15 January 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-5153552729891640691?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/5153552729891640691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=5153552729891640691&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5153552729891640691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5153552729891640691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/pertanyaan-murid-mbolosan.html' title='Pertanyaan Murid Mbolosan'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4147713623560598265</id><published>2009-02-12T14:22:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:23:07.063+08:00</updated><title type='text'>Obsesi Karya Klasik</title><content type='html'>SABTU, 31 January 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku sudah memprin dua karya klasik. Yang pertama karyanya Isaac Newton yang sangat terkenal itu, The Principia. Tapi aku tidak tahu apakah yang aku print ini karya lengkapnya atau tidak. Masalahnya The Principia hanya lima belas (15) halaman. Sungguh sebuah karya yang agung, karena bisa menereangkan beberapa teori mendasar masalah fisika, yang berabad-abad tidak terbantahkan, kecuali oleh sang jenius abada yang lalu, Albert Einstein dengan teori Relativitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap segera selesai membacanya. Aku berencana untuk menerjemehaknnya dalam bahasa Indonesia. Dan aku akan menegecek apakah karya yang aku prin itu sebuah karya lengkap atau belum di situs guttenberg project. Mungkin ini akan sulit bagiku saat membaca apalagi sampai menerjemahkannya. Aku belum pernah membaca buku fisika sebagai sebuah pengantar keilmuan dalam bidang ini. Tapi itu tantangan untuk membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, adalah karya Nicholas Barbon (1690): A discourse of Trade. Berdasarkan keterangan yang ditulis pada pengantarnya, buku ini hendak mengulas bagaimana membuat sebuah Negara menajdi kaya. Ya, mungkin sebuah karya yang juga mengilhami Adam Smith, sang bapak ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebrapa bulan ini, akau tertarik membaca buku-buku ekonomi. Minggu kemaren aku meminjam buku ke temen, Rizwan, anak ekonomi pembangunan UNS. Sebuah buku, Ekspose Ekonomika, yang ditulis oleh Sri-Edi Swasono, guru besar ilmu ekonomi UGM dan UI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku harus membaca buku-buku itu? Entahlah. Aku hanya tertarik untuk membaca, menambah wawasan. Aku berencana untuk menerjemahkan karya-karya klasik yang menjadi tonggak-tonggak pemikiran dunia, baik dari Yunani, Barat, juga dari Timur Tengah. Aku merasa buku-buku di perpustakaan kurang mendukung untuk hal ini, alias tidak ada. Dan kalaupun ada biasanya tidak boleh dibawa pulang. Semuga terlaksana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4147713623560598265?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4147713623560598265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4147713623560598265&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4147713623560598265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4147713623560598265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/obsesi-karya-klasik.html' title='Obsesi Karya Klasik'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3839165329381767379</id><published>2009-02-12T14:21:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:22:10.728+08:00</updated><title type='text'>Kampus dan Masyarakat: Learning Society</title><content type='html'>Pertanyaan awalnya: adakah kampus yang memasyarakat? Di sini kampus, lalu kemana dan di mana masyarakat (bukan civitas akademika)? Baiklah, aku kasih gambaran kampus yang memasyarakat: pernahkah seorang warga yang tinggal di dekat kampus ‘kesasar’ masuk kampus, lalu bertanya pada seorang dosen tentang, katakanlah, cara menjual dagangan dengan ilmu periklanan, atau apa itu opini public, bisa juga mahasiswa itu sebenarnya makluk apaan. Atau, bolehkah seorang warga membaca (kalau memang tidak boleh meminjam) buku-buku perpustakaan (siapa yang tidak butuh ilmu?)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang aku kuliah, aku tidak pernah mendengar seorang dosen diminta tolong untuk memberikan solusi praktis terhadap pertanyaan-kebutuhan masyarakat. Aku juga belum pernah melihat masyarakat berkunjung ke perpustakaan (apalagi ke lab!). Maka menjadi pertanyaan ganjil: kemana masyarakat di dekat kampus, atau kita balik arah pertanyaannya, kemana dan di mana kampus juga segenap warga civitas kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aku melihat bahwa semua ini lebih banyak disebabkan oleh anggapan tentang kampus itu sendiri. Masyarakat menganggap bahwa kampus adalah tempat untuk belajar khusus para mahasiswa. Anggapan ini tentu saja datang dari orang yang lebih dihormati karena keilmuannya (atau dianggap lebih tahu, lebih pintar) yakni para mahasiswa, dosen, professor, dan karyawan kampus. Dengan kata lain, kampus bersikap eksklusif terhadap masyarakat di luar kampus. Kampus lebih sebagai tempat tertutup dari pada sebagai sebuah model tatanan masyarakat pembelajar (learning society) bagi seluruh masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini terlihat tidak ada keterkaitan antara kampus dengan masyarakat dalam mewadahi masyarakat sebagai learning society. Masih segar dalam ingatan kita tentang KKN (Kuliah, Kerja, Nyata) di mana kampus mengirim mahasiswanya untuk “mengabdi” pada masyarakat dalam jangka waktu tiga bulan. Kita tahu, kebijakan ini tidak banyak memberikan manfaat bagi masyarakat. Kebijakan ini tidak mendidik masyarakat untuk menjadi masyarakat pembelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini, untuk daerah yang terpencil di mana anak-anaknya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, Cuma sebuah pamer pangkat keilmuan (meskipun belum tentu yang dikirim adalah orang yang benar-benar pintar). Sekadar memamerkan dan menguatkan kesenjangan social antara si miskin dan si kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi pertanyaan logis dan irasional: Kapan kita bisa menyaksikan sebuah simbiosis-mutualistis antara kampus dan masyarakat, sebagai masyarakat pembelajar? Sungguh sulit! Kita, juga kampus ini, sudah terkotak-kotak dalam sebuah struktur yang semakin menjauh dari masyarakat. Dan yang lebih parah lagi ini dianggap benar dan dianggap sudah budaya. Masyarakat sekitar kampus hanya penyedia tempat tidur, makan, dan beberapa keperluan mahasiswa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedihkah kita? Bersalahkah kita? Ataukah masyarakatnya? Entahlah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Tuesday, February 03, 2009, 2:36:11 PM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3839165329381767379?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3839165329381767379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3839165329381767379&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3839165329381767379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3839165329381767379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/kampus-dan-masyarakat-learning-society.html' title='Kampus dan Masyarakat: Learning Society'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6119158901142314962</id><published>2009-02-12T14:20:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:21:12.342+08:00</updated><title type='text'>Guru (lebih tepatnya pengajar)</title><content type='html'>Dia yang mengajarimu sesuatu yang baik. Dia yang bertepuk hati saat dia terkalahkan oleh muridnya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan dia pergi dengan tanpa pesan. Yang ada dalam dirinya: kebanggaan, pada muridnya yang telah menjadi manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, Friday, October 24, 2008, 6:57:27 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6119158901142314962?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6119158901142314962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6119158901142314962&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6119158901142314962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6119158901142314962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/guru-lebih-tepatnya-pengajar.html' title='Guru (lebih tepatnya pengajar)'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-2669473340123773604</id><published>2009-02-12T14:18:00.000+08:00</published><updated>2009-02-12T14:19:55.295+08:00</updated><title type='text'>Catatan Pembacaan Ekspose Ekonomika</title><content type='html'>(Buku yang ditulis oleh Sri-Edi Swasono)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kesejahteraan social sama dengan dan mengharuskan bentuk pemerintahan  Negara persemakmuran dan untuk itu disusun system ekonomi pancasila sebagai dasar moralnya (meski ada beberapa dasar religiusnya)? Kalau saya lihat system ekonomi pancasila pada tataran praktis, system ekonomi pancasila lebih mengarah pada system ekonomi Negara persemakmuran, dan dalam hal ini tidak banyak bukti bahwa system Negara persemakmuran berhasil menyejahterakan rakyat sebagaraimana banyak kita temui pada Negara-negara Eropa Timur, dan sebaliknya kita menyaksikan sebuah masyarakat berkelimpahan pada Negara dengan system ekonomi pasar bebas yang kapitalistik (meski sudah tidak murni lagi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah system ekonomi pancasila murni kesadaran bentuk kesadaran intelektual atau ada pengaruh dari politik hegemonic Orde Baru Soeharto yang menjadikan pancasila sebagai satu-satunya dasar kehidupan social-politik (ekonomi)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ekonomi pancasila tidak digunakan pada masa Soeharto, yang sangat “mengagungkan” pancasila, tapi malah memilih menggunakan system pasar bebas yang kapitalistik (kroniisme)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita membaca lebih teliti lagi dasar-dasar argumentasi pembentukan system ekonomi pancasila kita tidak menemukan hal-hal yang signifikan dari para pemikir ekonom pancasilais kecuali pencocokan pemikiran mereka pada alam pemikiran barat yang menentang system ekonomi klasik (kecuali pada Hatta meski pada saat dia menulis belum dikenal paham strukturalisme), atau, dengan kata lain, hanya sekadar perbedaan artikulasi? Di sini saya menyangsikan, pada perahgraf kedua di atas, apakah ini murni sebuah bentuk kesadaran intelektual atau sekadar siasat untuk bisa diterima oleh sang penguasa (Orde Baru). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan hendak menyangsikan tentang system ekonomi pancasila yang dicetus oleh para ekonom kita. Tapi sebagai sebuah pembalajaran berkritis. Saya juga akan berkata: kita hidup pada sebuah masyarakat yang sungguh sangat abai pada para pemikir-pemikirnya sendiiri untuk mengapresiasi ide-ide mereka; kita memproduksi lumayan banyak pemikir, meski kita sering menghitungnya dari awal kebangkitan nasional, tapi kita lebih banya memproduksi sikap-mental inlander pada pemikiran anak bangsa kita. Kita seakan berkata: ‘kita cukup mengapresiasi pemikrian para pemikir sendiri, tapi kita ogah memakainya. Kita lebih menyukai pemikiran luar negeri, pemikiran impor sebagaimana kaos, sepatu, topi, (semua kebutuhan hidup sejak kita bangun sampai kita banyn lagi)…’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-2669473340123773604?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/2669473340123773604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=2669473340123773604&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2669473340123773604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2669473340123773604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/catatan-pembacaan-ekspose-ekonomika.html' title='Catatan Pembacaan Ekspose Ekonomika'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-2027645861628265527</id><published>2009-02-02T13:26:00.000+08:00</published><updated>2009-02-02T13:29:40.354+08:00</updated><title type='text'>kekerasan penis</title><content type='html'>Kekerasan Penis&lt;br /&gt;Catatan film “Perempuan Punya Cerita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/&lt;br /&gt;Anda, dengan membaca judul di atas, barangkali akan menuduh saya sebagai seorang pejuang feminis radikal ekstrimis yang menitik beratkan akar ketertindasan perempuan pada perbedaan kelamin antara pria-wanita, pada patriarki penis atas vagina-rahim. Hanya, masalah kelamin, penentuan laki-laki dan perempuan, adalah masalah yang sekarang sedang mendapatkan tempat sendiri dalam wacana pemikiran dewasa ini.  Penentuan tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Anthony Synnott dalam bukunya Tubuh Sosial, Simbolisme, Diri, dan Masyarakat, “bukan sekadar karena keduanya berbeda secara biologis, melaikan lebih lagi: kelamian yang “berlawanan”; kita bahkan dapat menyebut peristiwa ini sebagai “peperangan antarkelamin”.” (Synnot: 2007. hal. 61). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Synnott berpendapat bahwa tubuh adalah sebuah konstruksi social, dengan berbagai cara, oleh berbagai populasi yang berbeda, atas berbagai organ, proses, dan atribut tubuh. (Synnot. Hal. 2). Dalam sebuah konstruksi inilah, tubuh perempuan mengalami ketertindasan dan kekalahan dalam peperangan —saya ragu mengatakan “peperangan” karena selama ini perempuan diwajibkan menyerah sebelum berperang—melawan tubuh laki-laki. Hal ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang, sejak Hawa diciptakan untuk Adam; hal ini menyebabkan Adam unggul secara social dan moral dimana Hawa sebagai penyebab kejatuhan Adam-Hawa dari Eden (surga). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari geneologi Hawa ke perempuan yang tertindas inilah kita bisa melihat dan menilai film “Perempuan Punya Cerita”, sebagai sebuah kisah klasik yang terus menggerogoti tubuh perempuan dalam konstruksi patriarki baik secara fisik, moral, ataupun structural. Tidak ada yang baru dalam film ini, bahkan kita bisa menebak dari awal seperi apa alur cerita, bentuk-bentuk atau modus oeprandi kekerasannya, sampai pada ending film ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang hendak ditawarkan oleh kumpulan cerita perempuan dalam film ini? Film yang mengetengahkan berbagai bentuk ketertindasan perempuan ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-2027645861628265527?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/2027645861628265527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=2027645861628265527&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2027645861628265527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2027645861628265527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2009/02/kekerasan-penis.html' title='kekerasan penis'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3956254221816596265</id><published>2008-12-19T11:10:00.002+08:00</published><updated>2008-12-19T11:32:47.544+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Persetan Kata...</title><content type='html'>INILAH aku, manusia yang rentan dengan manipulasi kata. Aku punya mulut yang tidak seksi, tenggorokan yang menempel pada leher, juga system otak yang bekerja dengan kode-kode kata. Aku suka menjadi pemarah, sehingga sering keluar kata-kata  keras dan pedas dari mulutku. Orang memanggilku Persetan kata, karena kesukaanku pada omelan dan ocehan. Mereka mungkin ada benarnya karena aku mempunyai tesis-prinsip: Setiap kata digunakan, setiap itu pula dusta menjadi penting. Mereka menganggap aku sebagai pendusta kata. Dan aku tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlahir dengan kekosongan kata, tapi pendidikan memaksa aku untuk memakai kata-kata dalam mengoleksi ilmu. Semakin banyak kata yang aku koleksi, semakin mereka menganggapku orang yang pintar dan cerdas. Bahkan karena sifat anehku, yaitu mencuri buku-buku yang temen-temenku emoh membacanya, aku dikira pintar. Bukan aku sebagai maling! Dusta, sejak saat itu, aku nikmati dengan sangat baik dan melezatkan egoku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tumbuh dengan memakan kata demi kata, yang orang-orang di sekelingku menganggap aku orang dari dunia masa depan yang sangat membutuhkan kata, bukan nasi, hamburger, ayam goreng, pizza atau bercinta dalam hangatnya pacaran atau bersetubuh dalam kemesraan suami-istrti atau sang penguasa yang duduk gagah di atas singgasana politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak begitu peduli dengan agama yang aku anut, karena agama yang diajarkan oleh ustadku tidak mengajarkan aku memakan kata-kata. Aku berperut  yang lapar kata. Yang mereka ajarkan padaku adalah kesunyian aqidah yang mengharuskanku untuk tidak berimajinasi dengan kata-kata tentang Tuhan. Mereka, para ustadku melarang aku menggunakan kata untuk menyebut Tuhan. Meskipun, mereka sebenarnya lebih banyak menggunakan kata-kata dari pada mengungkapkan Tuhan itu sendiri. Bagi mereka Tuhan, menurut amatanku, tidak lain adalah kata-kata. Mereka mereduksi Tuhan dalam kata. Aku tidak pernah tahu Tuhan itu sendiri selain kata-kata tentangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah kata. Aku ingin membebaskan kata. Tapi sejak kecil kata-kata sudah menjadi tawananku sepanjang hidup. Ialah budak belia yang aku kawin paksa untuk memperbudaknya dengan kemesraan. Budak yang aku menangkan dalam peperangan dahsyat antar para pemikir, linguis, filosof, juga para pembantu rumah tangga, dalam arena politik, sosial, dan budaya. Kata-kata selalu melayani aku untuk berdusta tentang barbagai hal, politik, sosial, ekonomi, budaya, perempuan, tapi aku paling suka saat memperdayanya dalam hal nafsu birahi. Bukan apa. Tapi saat aku menggunakannya dengan penuh birahi, kata-kata sudah terbebaskan dengan sendirinya. Ia bukan lagi sebuah budak. Ia bebas mengelana dalam kenikmatan birahi, yang kita nikmati bersama tanpa status tuan-budak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali ada seorang profesor bahasa yang menayakan padaku, saat aku menjadi mahasiswa, “Apa itu kata?” “Kebohongan bersama!” jawabku spontan, tanpa perlu membaca berbagai referensi. Tapi kau tahu, semua temen-temenku tertawa menggelikan. Juga diikuti oleh tawa pembenaran sang professor. Menurutku sang professor pasti bodoh. Tidak mengerti kata, apalagi menggaulinya di atas spring bed mewah. Ia tidak tahu rasanya bercinta dengan kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak peduli. Akulah kata. Aku berhak memberikannya otonomi, kebebasan, kerangkeng rantai, atau memberikannya makan sayur asem pada siang hari. I love you kata; I hate you kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah kata. Setiap kali aku kesepian, yang datang pertama kali pada ku adalah bukan pacarku, bukan ibuku, bukan temenku, bukan sanak saudaraku, juga bukan dosen atau Tuhan aku. Tapi perempuan kata dengan lemah lembut membelai jiwa-jiwaku dengan penuh kasih sayang, sehingga aku meningis tersedu. Ini sungguh benar-benar terjadi dalam jiwaku. Saat itu aku sudah punya pacar, tapi mendadak ia memutuskan tali percintaan kami. Aku ngambek, dan mendiamkan diri dalam kamar yang sepi, tanpa pintu terkunci. Tidak ada yang peduli selain kata. Ia datang menghampiriku dengan senyum. Ia datang menggandakan diriku dengan berbagai kata-kata dalam imajinasi dan otakku. Ia menghiburku, juga menerorku untuk melupakan terkasihku, untuk selamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku menjadi manusia yang paling enggan berurusan dengan kata-kata. Puisi-puisi yang aku tulis sendiri, juga puisi-puisi penyair terkenal dunia yang aku terjemahkan tidak ada yang berarti bagi pacarku. Ia membelot dari cintaku. Katanya,” Maaf, aku sudah punya kekasih yang lain. Kita putus saja sampai di sini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menghibur diri dengan menyalakan televisi, bukan membaca novel atau cerpen atau membaca koran dan majalah yang pasti menggunakan kata. Ternyata semuanya menayangkan masalah cinta. Sekali lagi mereka mengulang masalah kata-kata yang pernah aku ucapkan, juga perkataan para penyair dunia. Aku membenci semua itu. Aku mencoba mencari saluran televisi yang lain. Juga, lagi-lagi aku temukan acara berita yang menggunakan kata-kata. Sekali lagi, mereka pasti menyimpan dusta dalam berita ini, karena mereka menggunakan kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah kata. Aku tidak pernah percaya dengan manusia yang menggunakan kata untuk segala aktivitasnya. Alasanku sederhana: kata-kata bukanlah yang sebenarnya. Ia adalah symbol yang dengan itu mereka sebenarnya meninggalkan yang aslinya. Dan di balik penggunaan symbol ini mereka pasti menyimpan maksud-maksud pendustaan. Aku membenci semua makhluk bersuara dengan kata-kata. Saat mereka berkata, aku akan berseru dalam hati, “PEMBOHONG BESAR!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok, saat aku mati, aku tidak ingin manusia mengucapkan kata-kata bela sungkawa. Juga, aku tidak ingin mereka menggunakan mantra-mantra agama. Sekali lagi, aku tidak ingin mereka menggunakan kata-kata pada batu nisanku. Aku membencinya. Aku emoh, ogah. Aku hanya ingin mereka cuma berekspresi dengan wajah-muka mereka, kalau mereka masih mau memperdulikanku yang membenci mereka dan punya muka. Ya, meskipun wajah-muka mereka nanti adalah sebentuk sindiran sinis atau ejekan kecut terhadap ragaku yang kaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, saat aku mampus dengan nafas terputus, hanya ingin mawar yang berkata padaku dengan semerbak harum yang dibawanya. Meski saat itu aku sudah tidak membutuhkan harum bunga, juga mungkin doa-doa. Tapi itu sudah cukup bagiku, pembenci kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin ini tertera pada nisanku: MATILAH KAU KATA!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3956254221816596265?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3956254221816596265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3956254221816596265&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3956254221816596265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3956254221816596265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/12/persetan-kata.html' title='Persetan Kata...'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7441869256788557690</id><published>2008-12-15T10:22:00.000+08:00</published><updated>2008-12-15T10:31:49.715+08:00</updated><title type='text'>Kurban: Saat Manusia Kepepet</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://suryaningsih.files.wordpress.com/2007/12/kambing.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 294px;" src="http://suryaningsih.files.wordpress.com/2007/12/kambing.png" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KURBAN, barang kali, adalah sebuah pengakuan yang ajaib, bukan mukjizat, saat semua ilmu dan semua usaha manusia tidak memadai. Pada saat itu manusia kepepet dengan nasibnya sedang segala perlengkapannya, rasionalitas, intuisi, dan hati tidak memungkinkan dan tak berguna. Dan yang tertinggal hanya korban (kurban) dalam balutan keyakinan bahwa itu perintah Tuhan, tidak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurban bisa terjadi saat yang tersisa adalah yang tercinta sekaligus penghabisan, yang dijadikan taruhan, media pencapaian. Di sini, kurban-kurban seperti unta, sapi, atau kambing, yang dilakukan oleh orang kaya, sepertinya tidak akan menyentuh momentum ketidakberdayaan manusia untuk berusaha dan yang dia punya hanya kurban. Kurban, sesuatu yang pada dasarnya tidak masuk akal, di luar jangkuan manusia, tapi harus dilakukan karena adanya keyakinan bahwa itu adalah perintah Tuhan. Dan kita dengan segala perlengkapan kemanusiannya , sepertinya, tidak boleh untuk menggunakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peristiwa kurban pertama yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap anaknya yang tercinta, Ismail, semua peralatan dan pertimbangan manusia, etika, moral, rasionalitas, intuisi, dan sebagainya, tidak memadai. Bahkan, sebagaimana kita dengar dalam ceramah dan khotbah, sepertinya, manusia dilarang berpikir tentang tugas yang tidak masuk akal manusia itu. Tapi toh, Ibrahim tetap dengan niatnya untuk mematuhi Tuhan. Dia memberitahu anaknya perihal mimpi (wahyu)-nya dan menanyakan pertimbangan Ismail sendiri. Di sini, dalam dialog terkenal itu, kita seperti menyaksikan sesuatu yang demokratis. Ibrahim tampak tidak memaksakan kehendaknya pada Ismail yang akan menjadi kurban dari ketaatannya. Ismail juga menerima dengan kesabaran dan kebesaran jiwa—suatu sikap yang melampui umurnya. Tapi, adakah perintah tuhan itu sesuatu yang demokratis, dalam arti Ibrahim dan Ismail berhak memiliki pertimbangan untuk menolak atau melaksanakan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum menemukan atau mendengar pertimbangan Ibrahim dalam berbagai ceramah dan khotbah. Ibrahim dan Ismail toh tetap dengan pertimbangannya: mimpi itu wahyu Tuhan, dan, barangkali, adalah naïf mengukur pertimbangan Tuhan dengan perlengkapan manusia seperti nalar, moral dan sebagainya. Ibrahim dan Ismail berangkat pada altar pengurbanan hanya dengan mimpi yang mereka yakini tanpa keraguan sedikitpun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipegang oleh Ibrahim untuk menyembelih (kalau ingin lebih halus mengkurbankan) anaknya yang tercinta, Ismail, hanya mimpi atau katakanlah wahyu. Kita tahu, dengan wahyu itu Ibrahim menghadapi krisis: sebagai seorang bapak yang mencintai tapi harus menyembelih, sebagai seorang manusia yang, sepertinya, melanggar semua pertimbangan kemanusiaan. Tapi bukan dari dirinya semacam karena dia tak mampu berpikir untuk mencari solusi lain, keterbatasan fisik, dan sebagainya. Krisis itu datang dari tuhan yang pernah dicari dan dipertanyakanya secara rasional. Kita mungkin akan maklum jika yang menjadi penyebab krisis adalah kemanusian Ibrahim, yang sering kita dengar bahwa manusia itu daif. Tapi yang menyebabkan krisis itu Tuhan. Dan Ibrahim Cuma sekadar mengikuti sekenario Tuhan yang di luar jangkuan nalar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim tampaknya tidak segarang dan tidak serasional pada saat ia mencari-mempertanyakan Tuhan itu sendiri, atau pada saat ia tidak yakin bahwa Tuhan bisa menghidupkan orang mati yang dicacah menjadi kepingan-kepingan kecil dan disebar ke empat penjuru angin dan Tuhan tetap bisa menghidupkannya kembali. Yang terjadi adalah, seorang Ibrahim yang percaya penuh dengan mimpinya dan keyakinannya pada Tuhan, dalam kepasrahan total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kurban, Ibrahim sepertinya sudah insaf karena berbagai peristiwa di atas telah membuktikan eksistensi Tuhan dan kekuasaan Tuhan, sehingga tidak timbul berbagai pertanyaan. Katakanlah pertanyaan seperti berikut ini: masuk akalkan perintah membunuh-mengurbankan anak yang sangat dia dambakan dan dicintanya? Bermoral, beretika, dan berakhlakkah (dalam ranah manusia dengan manusia, bukan manusia dengan tuhan) jika dia benar-benar melakukan perintah itu? Untuk apa pengorbanan Ismail dilakukan dan atas dasar apa? Untuk membuktikan keyakinan dan kepatuhan-ketaatan pada Tuhan—dalam balutan kefanatikan dan sikap apriori? Atau sekadar perlunya Ibrahim menyadari ketakmemadainya sebagai manusia, ciptaan Tuhan yang paling sempurna (meski tak secara otomatis yang paling mulia)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua perlengkapan kemanusiaan manusia, rasio, intuisi, etika, moral, dan sebagainya tidak memadai, hingga kita menyerahkan semuanya pada wahyu sedang kita tidak lagi mempunyai seorang nabi dan rasul, juga bukan nabi atau rasul, dan saat korban adalah momentum titik zenith krisis manusia, lantas pada apa kita berpegang dalam kondisi seperti Ibrahim,? Menunggu mimpi atau wahyu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;Para agamawan-ulama barangkali dengan enteng akan mengatakan: semua sudah terwahyukan dan manusia tidak akan memasuki area krisis yang dialami oleh Ibrahim-Ismail, juga Tuhan tidak akan memerintahkan hal-hal “seperti” yang Ia pernah perintahkan pada Ibrahim. Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah yakin-pasti pertolongan Tuhan, sepanjang kita, manusia, taat pada perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan kalau toh Tuhan memerintahkan hal seperti itu pada manusia, tuhan punya sekenarionnya sendiri dan pasti ada hikmah di balik semua itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masalahnya demikian, yang dirayakan dalam peristiwa kurban bukan suatu tragedy kemanusiaan, seburuk, seterkutuk, sejelek, dan setidakmasuk akalnya semua itu dalam pertimbangan manusia. Tapi sebuah optimisme akan adanya pertolongan Tuhan—meskipun wujudnya barangkali seperti bom bunuh diri. Ya, pengakuan yang ajaib tentang pertolongan Tuhan dan ketakmemadainya manusia. Maka, menjadi logis jika kita bertanya: siapa yang mau mengakui dua hal ini: kediktatoran tuhan vs kelemahan manusia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, December 12, 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7441869256788557690?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7441869256788557690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7441869256788557690&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7441869256788557690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7441869256788557690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/12/kurban-saat-manusia-kepepet.html' title='Kurban: Saat Manusia Kepepet'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3004169544609821692</id><published>2008-11-10T11:02:00.000+08:00</published><updated>2008-11-10T11:03:39.601+08:00</updated><title type='text'>Narasi Ekologi</title><content type='html'>“Adalah kehadiran manusia, &lt;br /&gt;yang menaruh kepentingan atas adanya makhluk yang lain”&lt;br /&gt;—Dennis Diderot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—1&lt;br /&gt;Narasi ekologi adalah interupsi. Ia hadir dalam kehidupan manusia yang sibuk dengan diri manusia. Manusia yang sibuk mempertanyakan diri sendiri. Manusia yang sibuk mengatur diri manusia. Manusia yang sibuk mengurus perut manusia. Manusia yang sibuk memandang manusia. Dan hutan, pohon-pohon yang ditumbangkan? Siapa peduli!?&lt;br /&gt;Narasi ekologi adalah interupsi sejenak dari pemikiran panjang manusia tentang manusia, oleh manusia, untuk manusia. Sejak manusia bisa berpikir, hal pertama yang dipikirkannya adalah kenapa dia bisa berpikir, bagaimana dia berpikir, untuk apa dia berpikir dan apa yang seharusnya di peikirkannya. Untuk membuktikannya, tidak perlu dengan mendatangkan Rene Descartes untuk mencetuskan slogan filosofis terbesar, tercanggir dan termashur: cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Tidak perlu mendatangkan Martin Heidegger untuk mendekonstruksi besar-besaran sejarah pemikirna manusia: aku ada maka aku berpikir. Semua sama: berpikir tentang manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Bukankah itu yang selalu dan selalu kita pikirkan? Dan hutan, pohon-pohon yang dibakar dan dirobohkan? Siapa peduli!&lt;br /&gt;Kita mendengar pengumuman besar, maklumat akbar, seakan ia adalah tiupan terompet penanda kiamat: Akhir Sejarah, dari Francis Fukuyama . Semua terperangah, kaget dan geregetan, kok!, dan semua pemikir sama-sama membantah dengan sedikit pengecualian. Kata Fukuyama, kini akhir sejarah, yang ditandai dengan kemenangan ide-ide barat: liberalisme, demokrasi, dan pasar bebasnya. Mereka dan kita manusia, tentu saja, takut akan kehilangan lahan subur spekulasi dinamika perpikiran mereka-kita. Mereka-kita, para manusia, sepertinya, ada semacam kesengajaan umum untuk tidak berpikir, seandainya pohon-pohon tumbang satu-satu, hutan-hutan menyusut dan menghilang, air lautan meningkat, lalu hendak berkata: inikah barangkali akhir sejarah yang kita abai atasnya semala ini. &lt;br /&gt;Narasi ekologi adalah interupsi sejenak dari, seperti kata Samuel P Huntington, konflik-konflik besar, benturan peradaban (Clash of Civilization). Inti semua ini adalah manusia, yang ditunggangi oleh kebudayaan yang berbeda, melawan manusia, homo homini lupus. Mereka-kita tidak akan pernah berpikir untuk melawan alam, atau alam akan melawan kita semua. Tidak. Pikiran seperti itu, pada zaman sekarang, adalah masih pikiran naïf seorang pemimpi di siang bolong yang masih perlu menyalakan lampu berjuta watt untuk membangunkannya. &lt;br /&gt;Narasi ekologi adalah interupsi dalam kesibukan manusia yang memandang dunia dengan alat pembesar ilmu pengetahuan dan yang dia temukan: kebesaran manusia. Lahirlah berbagai pemikiran yang tajam, gerakan kesenian patung, lukisan, sastra, teknologi, film dan sebagainya. Semua mengabsenkan diri dari alam, pohon-pohon. Dan kalaupun ada, seperti yang dilakukan oleh Thomas Maltu, yang manusia lihat adalah betapa hebatnya manusia menguasai alam, membuat patung-patung yang natural, menulis keindahan alam, melukiskannya, memfilmkannya…Dan hutan, pohon-pohon yang ditebang sembarangan? Siapa peduli!&lt;br /&gt;Bagi Anda yang pernah pergi ke perpustakaan, maka Anda boleh menghitung seberapa banyak buku yang ditulis oleh manusia tentang alam dan untuk alam itu sendiri. Anda tidak akan mampu menghitung berapa banyak buku yang menceritakan tentang manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Tapi, sebaliknya, Anda tidak perlu menggunkan sepuluh jari untuk mencari buku tentang hutan-hutan, tentang pohon-pohon, tentang pelestarian alam. Pertanyaannya adalah kemana para cendekiawan-cendekiawan kita, kemana para professor-profesor kita, kemana para akademisi kita, kemana para penulis-penulis kita? Apalagi, buah pemikiran yang dipraktekkan oleh para pengambil kebijakan seperti para politisi?  Atau, sebaliknya, perlukah pertanyaan ini diajukan di tengah hiruk pikuk narasi manusia?&lt;br /&gt;Inikah hasil dari kebudayaan (dunia) kita, narasi peminggiran ekologi? Apakah ini yang kita sebut sebagai ekologi, sedang ekologi itu sendiri adalah pengharmonisasian antara system manusia dan alam semesta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—2&lt;br /&gt;Kenapa semua pengabaian ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua alasan yang mendasari semua ini. Pertama, masuknya ilmu Alam dalam kesadaran manusia pada abad ke 17. seperti kita tahu, ilmu Alam adalah ketakjuban manusia akan akal budi manusia, bukan ketakjuban terhadapap rasionalitas alam. Alexander Pope, penyair Inggris termasyhur pada abad itu, menyatakan dengan sangat baik: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nature and Nature’s laws lay hid in night: &lt;br /&gt;God said, Let Newton be! and all was light.”&lt;br /&gt;—Alexander Pope &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam yang semula gaib-mistik, penuh dengan aura yang menakjubkan bahkan menakutkan, ternyata tunduk dalam hukum alam yang rasional. Alam yang semula gelap laksana malam (hid in night) menjadi terang benderang. Bahkan Pope mengatakan, seraya seakan mewakili Tuhan (berhakkah dia?), biarkan Newton menjelaskan, maka alam beserta seluruh rahasianya akan menjadi terang benderang, laksana cahaya (light). Alam bukan lagi medan yang perlu dihadapi dengan gentar, penuh gemetar di hadapannya. Ia bukan lagi kegelapan; ia cahaya yang tertaklukan.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita, hal ini sangat jelas sekali teraplikasi. Orang tidak perlu lagi menundukkan muka saat dia berada di bawah pohon-pohon besar. Orang tidak perlu lagi meminta peruntungan pada pohon-pohon dengan menghidangkan sesajen. Orang tidak perlu lagi permisi dengan memberikan berkat saat hendak merobohkan sebatang pohon untuk pembangunan rumah tinggalnya. Orang-orang sadar bahwa dalam kehidupan mereka, mereka harus terus menerus menjaga system keseimbangan hidup antara kehidupan mereka dengan alam, dengan hewan, dengan manusia. &lt;br /&gt;Bagi kita, orang-orang yang mengaku beriman, hal ini tentu saja menyalahi aturan, system keimanan. Maka mereka sering diserang dengan kata-kata keji: syirik, irrasional, mistik kuno, kufur, murtad, laknat…Hampir semua agama ibrahimi menyakini bahwa alam tercipta untuk manusia, sebagai mana Ralph Waldo Emerson mengatakannya, “The world exists for you…Built therefore your own world.”  &lt;br /&gt;Ilmu Alam juga membuka jalan untuk pembuatan teknologi oleh manusia. Sejak abad ke-17, perkembangan ilmu pengetahuan memasuki babak baru dengan ditemukanya berbagai mesin, terutama yang paling menonjol adalah ditemukannya mesin uap yang menghasil industri. Alam, mau tidak mau, menjadi bahan utama dari mesin-mesin industri yang berkembang dengan pesat. Pembanguna rel kereta api yang mengharuskan ditebang-dirobohkannya ribuan bahkan jutaan pohon. Juga, untuk menjalankan mesin kereta api dan kapal. Eksploitasi alam mulai tidak terkontrol. Bahkan di abad 21 ini, keadaan semakin menampakkan kebrutalan manusia terhadap alam. Manusia lebih memilih perut segelintir orang dari pada menyelamatkan alam. Dan eksploitasi alam menjadi keadaan (bukan pilihan) yang tak terhindarkan. &lt;br /&gt;Ada ironi dengan datangnya ilmu Alam (Nature/Nature’s Law). Dengan datangnya ilmu Alam, bukan sebuah penghargaan yang alam dapatkan, tapi pengrusakan besar-besaran. Dengan semakin terungkapnya hukum-hukum alam, bukan keinsafan yang semakin mendalam, tapi keserakan yang merajalela. Dengan datangnya ilmu Alam, bukan melestarikan alam yang kita lakukan, tapi merusak alam. &lt;br /&gt;Kedua, manusia adalah narasi yang tiada matinya. Tidak seperti alam yang dianggap sudah selesai, pembicaraan tentang manusia atau pendefinisian tentang manusia, berikut yang berkaitan dengan manusia, adalah sebagian masih misteri yang belum tersingkap. Timbulnya berbagai ideology dan berbagai cabang ilmu pengetahuan adalah bukti nyata terhadap kekurangan terhadap definisi manusia. Pendefinisian manusia yang beelum usai ini mau tidak mau akan mengembangkan berbagai spekulasi dan dinamika pemikiran tersendiri tentang manusia. &lt;br /&gt;Pemikiran tentang manusia hanya selesai dalam kaitannya dengan agama. Atau, definisi manusia berdasarkan agama, petunjuk Tuhan dalam bentuk wahyu-wahyu. Namun, dalam kehidupan yang hampir semaunya tersekulerisasi ini, dimana agama sepertinya mengizinkan terhadap eksploitasi alam, ….   &lt;br /&gt;Tidak seperti alam, manusia adalah makhluk yang sangat dinamis dalam sejarah peradaban. Setiap manusia membuat gerak di siutlah terjadi berbagai pemikiran, interpretasi, spekulais, metodologisasi, teoritasasi, yang semuanya seakan tidak pernah berhenti dan selesai. Maka tidak mengherankan jika manuisa sibuk memikirkan tentang manusia itu sendiri. Bukakah ini sebuah lahan yang sangat manis untuk menumbuhkan berbagai pemikiran? Tidak ada topik yang pailing banyak ditulis, dibicarakan, difilmkan, dilukis, atau entah apalgi, selain manusia itu sendiri. &lt;br /&gt;Tentang masalah alam, sejauh itu tidak berkaitan dengan ihwal manusia, sangat sedikit kita menemukan hal ini menjadi perhatian manusia. Maka tidak mengherankan jika alam sepertinya adalah bahan diskusi yang sangat membosankan, bahan pemikiran tanpa spekulatif, tidak dinamis, dan, tentu saja, tanpa tujuan dalam alam itu sendiri. Tujuan adalah mengenai manusia, untuk manusia, dan sedikit tentang dan untuk Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—3&lt;br /&gt; Narasi ekologi, sebagai kebalikan dari narasi manusia, memang akan terus dibawah baying-bayang manusia. Ia cuma sekadar interupsi. Tapi,separah itukah narasi ekologi, bahkan seperti akan menemukan jalan buntu selama manusia masih berkuasa? Manusia, meski menjadi penyebab kerusakan alam, mau tidak mau tetap juga harus manusia yang memperbaiki. Manusia, saya yakin, tetap akan menjadi factor penyelamat alam. &lt;br /&gt;Maka mau tidak mau kita harus mengangkat narasi ekologi, paling tidak sebagai sebuah kesimbangan. Di sini kita membutuhkan sebuah kerangka kerja atau landasan pemikiran. Pemikiran yang pernah ditulis dan bahkan sekarang cukup menjadi sorotan memang cukup memberikan kita harapan. Tapi, yang menkadi kendala selama ini adalah kepemimpinan ekologis lokal dan nasional.&lt;br /&gt; Harus diakui bahwa kepemimpinan ekologis lokal (daerah) adalah catatan-catatan kegagalan. Bahkan, targisnya. bisa dikatakan bahwa kepemimpinan lokal dengan visi-misi ekologis tidak (pernah) ada. Sejak era reformasi bergulir, kita terpaku pada peralihan kekuasaan dari pusat ke daerah dalam porsi yang tidak wajar sehingga masalah ekologis menjadi terabaikan. Hal ini tampak jelas sekali dalam masalah pembalakan liar (kenapa media tidak menggunakan kata penghancuaran hutan?). &lt;br /&gt; Yang terjadi adalah banyak pemimpin daerah yang terjerat kourpsi terkait masalah ekologis (hutan), baik dengan para cukong atau bahkan dengan para anggota dewan  yang berada di senayan. Contoh kasus terbaru dan sangat menghebohkan adalah Al Amin Nasution yang tertangkap basah di sebuah hotal sedang transaksi pembayaran atas pemberian izin pengalih fungsian hutan lindung untuk kawasan industri. &lt;br /&gt; Harus diakui bahwa kampanye yang mengedepankan masalah ekologis sudah dapat dipastikan tidak akan laku dijual kepada masyarakat. Pendidikan gratis, pelayanan kesehatan gratis, dan penyediaan lapangan kerja, adalah komoditas politik yang sangat laku sekali di masyarakat kita. Praktis isu-isu pembalakan hutan, penanaman pohon, penanganan kebakaran hutan, dan seterusnya,  adalah komoditas poitk yang terpinggirkan dari hiruk pikuk pemilihan pemimpin daerah.&lt;br /&gt; Di tengah mahalnya biaa pendidikan, naiknya BBM, kesulitan mencari kerja, isu-isu ekologis adalah sebuah ilusi bahkan sekadar untuk dipikirkan. Masalah-masalah keseharian tentu saja lebih nyata dan membutuhkan penyelesaia yang segera. &lt;br /&gt; Memang tidak semua daerah memiliki kekayaan alam yang melimpah. Bahkan daerah yang memiliki kekayaan yang melimpah, gizi buruk malah menjadi keseharian. Hal ini semakin meminggirkan masalah ekologi. &lt;br /&gt;Tapi seperti dikatakan oleh Aldous Huxley, “Hanya kalau setiap dari kita sadar bahwa masalah utama yang sedang kita hadapi [sekarang] ini adalah masalah-masalah ekologis, kehidupan politik kita akan menjadi lebih baik dan lebih realistik.”  Terutama di daerah-daerah yang sangat melimpah dengan kekayaan alam seperti Kalimantan, Irian Jaya, Sumatra dan sebagai, tentu sangat membutuhkan pemimpin yang bervisi-misi ekologis. Pemimpin ekologis yang revolusioner yang berani tidak popular. &lt;br /&gt;Terkahir semoga nyanyia seperti yang dibawakan oleh Iwan Fals ini tidak akan pernah lagi kita dengarkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lestarikan alam hanya celoteh belaka&lt;br /&gt;Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu&lt;br /&gt;Oh mengapa…&lt;br /&gt;Oooo…. Jelas kami kecewa&lt;br /&gt;Menatap rimba yang dulu perkasa&lt;br /&gt;Kini tinggal cerita&lt;br /&gt;Pengantar lelap si buyung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana erosi slalu datang menghantui&lt;br /&gt;Tanah kering kerontan banjir datang itu pasti&lt;br /&gt;Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi&lt;br /&gt;Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 31 October 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3004169544609821692?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3004169544609821692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3004169544609821692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3004169544609821692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3004169544609821692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/11/narasi-ekologi.html' title='Narasi Ekologi'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-5581468412961932580</id><published>2008-11-05T10:24:00.001+08:00</published><updated>2008-11-05T10:28:36.727+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Buku, Kata, dan Kita</title><content type='html'>“Asal mula adalah kata&lt;br /&gt;Jagat tersusun dari kata&lt;br /&gt;Di balik itu hanya&lt;br /&gt;ruang kosong dan angin pagi”&lt;br /&gt;—“Kata” oleh Subagio Sastrowardoyo, penyair Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku bisa menjadi harta karun yang ditinggalkan oleh para jenius besar bagi umat manusia, yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai hadiah bagi mereka yang belum lahir.” &lt;br /&gt;—Joseph Addison, penyair dan sastrawan Jerman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Generasi 1942-2006 adalah generasi nol buku, rabun membaca, pincang mengarang, sungguh tragis.” &lt;br /&gt;—Taufiq Ismail, penyair Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Buku: Harta Karun Para Jenius&lt;br /&gt;Orang-orang Eropa tersentak membaca buku tentang sebuah negeri lumbung padi tapi penduduknya kelaparan, tertindas, dan dipekerjakan secara paksa tanpa upah dengan cambuk yang terus mendera dari belakang, sebuah negeri yang dipimpin oleh kerajaan-kerajaan boneka dari sebuah kerajaan kecil di benua Eropa. Penulisnya, Multatuli, dalam buku Max Havelaar banyak menginspirasi dan menjadi buku bacaan wajib pendiri sebuah repubrik yang kelak pada 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaannya, yaitu Indonesia .&lt;br /&gt;Apa hendak dikata: surat-surat Kartini terbaca juga oleh masyarakat umum Indonesia bahkan dia tidak akan menyangka surat yang ditujukan pada sehabat penanya yang terpisah benua tersebar tetap dibaca sampai sekarang. Dia pada masa hidupnya tidak banyak dikenal. Cuma dibaca oleh beberapa temannya. &lt;br /&gt;Apa boleh buat: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi!” teriak kuat Chairil. Dan siapa bilang Chairil telah mati, sedang kata-katanya masih tetap dibaca, diapresiasi, dan terus mengalirkan beragam tulisan ? &lt;br /&gt;Apa lacur, buku-buku Pram dilarang beredar di negerinya sendiri oleh rezim Orde Baru yang menginginkan ketenangan, yang hendak mengusir semua brisik. Pram dan Soeharto memang sudah mati, dan larangan buku-buku Pram tetap berlaku. Namun kita tahu: buku adalah ”cerita setan” yang tetap hidup mengikuti seluruh perjakanan manusia. Buku Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, dan beberapa bukunya tetap dibaca pada masa Orde Baru secara sembunyi-sembunyi oleh mahasiswa Indonesia. Mereka mendengar kebesaran gaung buku Pram di dalam dan apalagi di luar negeri. Buku-buku Pram tetap hidup. &lt;br /&gt;Anak Madura krempeng dan cukup jelek itu, Ahmad Wahib, mencatat pengalaman kegagalan berpacaran, kemiskinan yang terus membuntutinya pada masa kuliah, kritik terhadap lingkungannya, keinginan kuliah yang tak sampai karena keburu meninggal, …Catatannya tidak dikenal selama masa hidupnya. Tapi temannya, Johan Effendy, menemukan di kontrakan Wahib dan menerbitkannya. Catatan-catatannya yang dijadikan buku itu, terutama kritik-kritik keagamaan yang tajam, menuai protes keras. Kalangan agamawan meminta buku itu dilarang beredar. Tapi toh buku itu, Pergolakan Pemikiran: Catatan Ahmad Wahib, terus dibaca hingga saat ini. &lt;br /&gt;Hal yang hampir sama terjadi pada mahasiswa UI yang suka naik gunung dengan temen-temennya, kemudian memberi nama Mapala (kelak semua universitas meniru nama ini), nonton film dan menulis catatan. Dia Soe Hok Gie. Kemudian, catatannya diterbitkan menjadi buku, Catatan Seorang Demontran. Gie meninggal karena kecelakan pada saat naik gunung tapi catatannya terus dibaca. &lt;br /&gt;—Kata: Scripta Manent &lt;br /&gt; Apa istimewannya sebuah kata yang termaktub dalam buku dan malah Cuma sekadar catatan harian yang sepele, mampu memberikan inspirasi, menimbukan protes keras dan sebagainya? Dan bagaimana mereka bisa menulis hal-hal ”sepele” seperti itu?&lt;br /&gt;Adalah sangat menarik dan barang kali akan sedikit kontroversial bagi sebagian orang Indonesia, apabila kita menilik perkataan pemikir Prancis Jean Paul Sartre: “Telah ku temukan agamaku; tak ada yang lebih penting dari buku! Aku memandang perpustakaan sebagai tempat ibadahku!” Pengakuan tersebut menyiratkan secara eksplisit betapa sebuah catatan, dalam bentuk buku sampai catatan harian baik manual atau elektrik, akan menjadi sangat penting. &lt;br /&gt;Sartre barang kali sadar betapa pentingnnya sebuah buku. Buku nilainya sama besar dan pentingnya dengan agama itu sendiri. Namun maksudnya, saya kira, adalah sebuah pembacaan atas berbagai hal, dulu, sekarang, dan yang akan datang. Semua ini memang tertera dalam berbagai kitab-kitab suci agama-agama manusia. &lt;br /&gt;Dengan berbagai catatan itu manusia bisa meringkas-melipat berbagai fiksasi, keterbatasan-keterbatasan, yang diakibatkan oleh ingatan yang lemah-terbatas, waktu, juga ruang. Buku membuat kesalahan yang pernah terjadi tidak usah lagi diulangi oleh manusia pembaca. Dalam pembacaan (ulang)-nya terhadap berbagai hal, ia telah bergerak pada penyelamatan diri, kolektif, bahkan sebuah dunia. Inilah inti dari berbagai agama, saya kira. Sebuah penyelamatan terhadap hakekat kemanusiaan Manusia. &lt;br /&gt;Namun untuk sampai ke sana adalah sebuah keniscayaan bagi manusia untuk mulai menulis sambil membaca: sebuah ibadah pertama dalam kehidupan manusia modern dan klasik. Keduanya harus menjadi sebuah kebudayaan yang mengakar dalam tradisi, mulai dari  ”tradisi” diri pribadi, tenntunya. Inilah yang seharusnya menjadi inti sebuah gerakan kemanusiaan, termasuk gerakan mahasiswa sebagai kaum muda (calon) intelektual.&lt;br /&gt;Dan gerakan ini akan menjadi lengkap jika ditambahkan kata ”pemebelajaran”: Gerakan Pembelajaran. Sebuah gerakan yang mengandaikan bahwa manusia adalah entitas-yang-menjadi, dengan terus menerus belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dewasa menjadi dewasa dan sebagainya. Untuk itu ia membutuhkan sebuah alat untuk berevaluasi: tulisan, baik dari diri sendiri atau orang lain. &lt;br /&gt;Pada tahap pembelajaran ini, manusia akan terus bergulat dengan berbagai permasalahan dari yang sepele sampai kompleks-filosofis. Dua-duanya memiliki ruang tersendiri. Manusia, juga pada tahapan ini, akan terus bergelisah, resah, galau, atas pelbagai ketimpangan, ketidakadilan, keculasan, kegilaan, dan sebagainya. Semua ini akan menjadi proses kreatifnya dalam belajar, seperti halnya Gie, Wahib, Frank sampai yang terbaru anak-anak SMA mbeling di Amerika, para Freedom Writers . &lt;br /&gt;Dan sebagai produk terakhir sekaligus tujuannya adalah pencerahan-penyelamatan atas berbagai permasalahan yang menimpa diri kita atau, kalau bisa, dunia tempat kita menginjakkan kaki. Pertanyaannya kemudian adalah beranikah kita membuat catatan-catatan, meski kecil-kecilan? Permasalahannya adalah bukan kita tidak bisa, tapi sering kali kita tidak menyadari betapa pentingnya catatan-catatan tersebut. Sekali lagi beranikah dan maukah kita melakukannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Kita: Generasi Nol Buku?&lt;br /&gt;Manusia terlahir dari seorang ibu. Ini sudah pasti. Namun bisa juga, sebagai kepastian yang lain, manusia terlahir dari sebuah buku. Yang pertama menjadikan manusia sebagai seorang anak secara genetik; yang kedua menjadikan manusia sebagai manusia yang utuh secara intelektual. Manusia, yang terlahir dari buku secara intelektual, terkadang bisa hidup melebihi waktu yang diberikan oleh Tuhan. Ini karena yang pertama bersifat duniawi, materialistik; yang kedua bersifat surgawi, immaterialistik, yang ‘mengekalkan’. &lt;br /&gt;Pada proses penjadian diri, kita pasti akan memerlukan sebuah kata untuk mengidentifikasi siapa kita dengan kata. Aku adalah manusia; aku adalah mahasiswa; aku adalah seorang pembelajar dan sebagainya. Di sini kita membutuhkan kata sebagai pengkodean, identifikasi diri dengan memakai kata. Maka memori kita memerlukan banyak kata dalam proses penjadian diri. &lt;br /&gt;Pada saat kita dalam proses penjadian diri kita mau tidak mau akan menjadi kolektor kata; kita secara naluriah akan menjadi penggila kata (word-maniac) sebagai software otak dan emosi. Penggila kata bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, mereka yang hobi mengoleksi kata dengan cara menghafal dan membaca (belajar). Dan kedua, juga sekaligus mereka yang sudah pada taraf pengoreksi kata; mencari kebenaran suatu kata atau ilmu. Pada dua tahapan ini hanya satu yang membedakan yaitu alat perespon yang mereka gunakan: emotif atau logis? &lt;br /&gt;Yang pertama adalah mereka yang cuma sekedar menghobi-mengoleksi kata (emotif), sedangkan yang kedua adalah mereka yang menghobi, mengoleksi dan sekaligus mengoreksi kata dengan pikiran (logis). Yang pertama banyak disandang oleh mereka para pelajar dan mahasiswa. Yang kedua sering disandang oleh mereka yang mendapatkan gelar profesor atau ilmuan dengan melihat kemampuannya tentunya— bukan karena sudah tua dalam bergelut di bidangnya, atau mengajar tapi masih taraf kolektor secara emotif bukan secara logis. Karena banyak juga mereka yang mendapat gelar ini, tapi bukan karena kemampuan.&lt;br /&gt;Kolektor kata yang emotif cenderung menghentikan diri pada tahap kolektor kata saja tanpa terbebani untuk menjadi pengoreksi kata. Tapi biasanya mereka yang koleksinya paling banyak adalah, tentu saja, mereka yang menjadi pengoreksi yang sesungguhnya. Dia bisa menjelaskan keunikan suatu kata, baik secara historis, secara sosiologis bahkan (sering harus) secara filosofis.&lt;br /&gt;Untuk menjadi orang pada posisi kedua, setidaknya seseorang harus mempunyai dua mata kepekaan: kepekaan tekstual dan kepekaan kontekstual. Yang pertama sangat erat kaitannya pada masalah kebiasaan membaca yang disertai kepekaan akan bacaan yang dia baca. Kedua, kepekaan kontekstual, sebagai pengejawantahan dari yang pertama atau yang menjadi mediator kepekaan tekstual. Sulit sekali mencari seseorang yang peka secara kontekstual tanpa memiliki kepekaan tekstual.&lt;br /&gt;Kepekaan tekstual akan menjiwa dalam diri seseorang, jika seseorang sudah masuk dalam areal golongan penggila kata (word-maniac). Dan penggilaan kata akan menjiwa jika dia menganggap bahwa dunia kata adalah sebentuk kebutuhan hidup (sebagai makanan) dan yakin bahwa di sanalah surga kesenangan dan surga kebenaran berada (baca sajaknya Subagio Sastrowardoyo).&lt;br /&gt;Sedang untuk sampai pada makna kebutuhan hidup dan dua surga tadi, sesorang tidak cukup menjadi kolektor kata tapi juga sekaligus harus menjadi pengoreksi kata. Pada saat itulah dia akan benar-benar menjadi word-maniac sejati. Dan untuk itu membutuhkan sebuah proses kontinuitas: membaca-menulis, membaca-menulis, membaca-menulis, secara kontemplatif dan harus dimulai dari satu haruf ( membaca dan menulis harus dimulai dari satu huruf).&lt;br /&gt;Jika dua hal tersebut belum ada dalam diri kita, maka tidak bombastis apa yang dikatan oleh Taufik Ismail. Juga, tidak sekadar penilaian yang mengada-ada tanpa dasar.&lt;br /&gt;Terakhir, “Siapa yang tidak menulis akan dilupakan oleh sejarah!” kata sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer. Scripta manent: yang tertulis akan abadi, sebuah pepatah latin. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-5581468412961932580?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/5581468412961932580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=5581468412961932580&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5581468412961932580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5581468412961932580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/11/buku-kata-dan-kita.html' title='Buku, Kata, dan Kita'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4351383243922765126</id><published>2008-10-07T14:43:00.002+08:00</published><updated>2008-10-07T14:56:02.685+08:00</updated><title type='text'>Pemberontak Peradaban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SOsH5X42ViI/AAAAAAAAADc/RuIejI-0EzY/s1600-h/200px-Into-the-wild.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SOsH5X42ViI/AAAAAAAAADc/RuIejI-0EzY/s320/200px-Into-the-wild.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254302072504210978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Lebih dari sekadar cinta, uang, kepercayaan, popularitas, ataupun sekadar rasa keadilan. Beri aku kebenaran,” jawab Christopher Johnson McCandles, mengutip perkataan Henry David Thoreau, seorang filosof asal Prancis yang banyak menulis tentang demokrasi Amerika, saat ditanya oleh teman sepetualangnya yang dia temui dalam pengembaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McCandles (diperankan oleh Emily Hirsch), hidup dalam keluarga yang mapan secara ekonomi. Ayahnya adalah seorang staf ahli antena NASA; ibunya adalah seorang konsultan keuangan. Namun keduanya hendak bercerai saat ibunya tahu bahwa suaminya ternyata  pernah menikah dan memiliki dua anak yang ditelantarkan. Setiap hari mereka bertengkar. McCandles merasa dirinya adalah seorang anak haram karena bapaknya belum menceraikan istri yang pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McCandles dalam film Into the Wild, adalah anak yang sangat cerdas dan rajin. Suka membaca buku-buku filsafat dan sastra yang ditulis oleh Tolstoy, Thoreau, Jack London dan sebagainya. Dia lulus dengan nilai A plus atau minus untuk semua mata pelajaran di Emory College (sekolah persiapan masuk universitas di Amerika, semacam D3). Namun saat perayaan kelulusannya di sebuah bar, konflik keluarga semakin membuatnya mantap untuk menjadi pengembara. Orangtuanya bermaksud membelikannya mobil Cadillac baru. Namun McCandles menolaknya dan terjadi pertengkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, keinginan McCandles untuk mengambil jurusan hukum di Yale University dibatalkan. Dia pergi dari rumahnya, menghilangkan indentitas, membakar semua kartu ATM, kartu kredit, karmas, dan menyumbangkan U$ 24.000 tabungan persiapan kuliah pada OXFAM America, lalu mengembara seorang diri. Di tengah perjalanan di membakar semua uang yang dipegangnya dan hanya berbekal ransel yang penuh dengan buku-buku dan beberapa perlengkapan perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dia “melahirkan” dirinya sendiri. “Aku butuh sebuah nama,” katanya saat ingin mengubah diri dan melahirkan diri sendiri, “Ya, Alexander Supertramp (Alexander sang pengembara super),” katanya sedikit berteriak, berpuas diri. Dalam buku catatannya dia menolak semua bentuk kebudayaan yang mengagung-agungkan materi. “Aku adalah seorang ekstrimis, pengelana estetik, yang rumahnya adalah jalanan. Tak lagi teracuni oleh peradaban,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sampai di Alaska McCandles berkata, “Uang, kekuasaan, hanyalah ilusi. Semua ada di sini. Freedom and simple beauty is too good to pass up (kebebasan dan kecantikan sederhana terlalu bagus untuk dilewatkan).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua tahun pengembaraannya, (1990-1992), hidup nomaden, dia menemukan banyak hal tentang kehidupan dan bertemu dengan berbagai orang. Dari pasangan pengembara dengan bus pariwisata pribadi, seorang pasangan hippie yang ceweknya telanjang dada tanpa rasa risih dari Belanda, seorang cewek cantik di bawah umur yang pandai menyanyi tapi bersedia berhubungan suami istri, bekerja sebagai buruk tani murah…Tentang petualangannya sebagai seorang nomaden, dia berkata, “Jika kita mengakui bahwa kehidupan manusia bisa diatur oleh suatu alasan, kemungkinan untuk hidup akan musnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Alaska McCandles tinggal dalam sebuah bus (Voks Wagon) ronsok yang tergeletak dipinggir sungai. Dalam bus itu semua peralatan makan, tidur, dan beburu sudah tersedia. Setiap hari dia makan daging hasil buruan dan memasak sedikit nasi, beras hasil kerja sebagai petani, yang dia kurangi setiap minggu untuk menghemat perbekalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tujuh minggu hidup dalam bus, di Alaska seorang diri, perbekalannya habis dan musim sudah berganti musim dingin. Dia hendak meninggalkan Alaska, tetapi tidak menemukan jalan: sungai yang dulu dilewatinya berarus deras dan tidak bisa dilewati. Dia kembali ke bus tanpa persediaan makanan. Lapar yang ditahan; mencoba bertahan. Pada musim dingin yang mulai disinari panas matahari dan salju sedikit mulai meleleh, dia bangun dalam keadaan tanpa kekuatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu, hidupnya tinggal beberapa menit saja. Dia memakai baju dan memandang matahari bersinar keluar. Terbaring lemah. Semua membayang: pelukan ayah-ibu yang hangat yang dipenuhi senyuman bahagia: dia sudah tahu tentang satu hal. “Happiness only real when shared. I have had a happy life and thank the Lord. Good bye and may God bless all.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya mengalirkan butir-butir airmata kebahagian, lalu dia bernafas untuk yang terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, samapi saat kematiannya yang masih membayangkan kedua orangtuanya, perjalanan-petualangan McCandles sebagai pengelana estetik yang hendak anti perdaban peradaban materi, digambarkan tidak mengalami kehidupan yang tragis atau utopis, sebagimana sering dijumpai pada film-film barat. Namun Sean Penn tidak terjebak pada pemenuhan pada nilai-nilai atau kata-kata petuah disepanjang film. Kata-kata puistis baik dari para filosof ataupun dari McCandle sendiri tersebar sepanjang perjalanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Into the Wild, disutradarai oleh Sean Penn, adalah sebuah film tentang pencarian kebenaran dan eksistensi. Sebauh film adaptasi dari tulisan Jon Krakauer atas petualangan-pengembaraan Christopher Johnson McCandles yang meninggal di Hutan Alaska , Amerika Serikat, dan ditemukan dua minggu kemudian setelah kematiaanya oleh seorang pemburu tikus hutan. Pembuatan film ini cukup lama, lebih dari dua tahun, karena Sean Penn harus mengulang beberapa adegan yang sangat terkait dengan keadaan alam atau cuaca yang berbeda bulan dan tahun, tentunya. Kesabaran ini memang tidak sia-sia. Kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang menakjubkan dan film ini memperoleh penghargaan, diantaranya, The Best Cinematography dalam ajang festifal Golden Globe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang wajib ditonton oleh mereka yang mencari jati diri, suka membaca buku-buku “berat”, dan pemberontak peradaban materialisme (Amerika).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4351383243922765126?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4351383243922765126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4351383243922765126&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4351383243922765126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4351383243922765126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/10/pemberontak-peradaban.html' title='Pemberontak Peradaban'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SOsH5X42ViI/AAAAAAAAADc/RuIejI-0EzY/s72-c/200px-Into-the-wild.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-191791788600285889</id><published>2008-10-06T12:51:00.000+08:00</published><updated>2008-10-06T12:54:22.047+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan kuliah'/><title type='text'>Catatan Kuliah Perempuan  Amerika (1)</title><content type='html'>Pembebasan wanita dalam bingkai feminisme pada perang dunia pertama dan kedua memang banyak perbedaan, terutama dalam hal keberpendidikan wanita. Wanita pada perang dunia pertama masih banyak yang tidak berpendidikan dibandingkan wanita setelah perang dunia kedua. Berdasarkan kesimpulanku yang sederhana, hal ini disebabkan oleh kebutuhan akan tenaga kerja wanita berpendidikan dalam berbagai sector untuk menggantikan pria yang pergi berperang, terutama sector perekonomian dan kedokteran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jadi bisa dibilang bukan karena factor kesadaran kesetaraan antara wanita dan pria!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pendidikan cukup banyak berperan dalam perubahan yang mengarah pada kesetaraan wanita setelah perang dunia kedua? Pendidikan sebagai jawaban, untuk berkata iya, menurut saya masih langkah awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembebasan wanita secara umum mengalami dua hambatan. Pertama, hambatan kultural. Wanita sudah terkonstruksi secara cultural selama ribuan tahun. Hal ini karena, kedua, kultur budaya patriarki sudah menjadi permasalahan structural yang timpang dan banyak dianggap wajar dan alami. Sehingga kedua hambatan ini menjadi simbiosis yang saling mengukuhkan satu dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dua pemecahan harus dilakukan, yaitu pemahaman berbasis kultural dan pengikisan struktur yang partriarkis. Yang pertama memberikan justifikasi akan kesetaraan wanita dan pria. Hal ini bisa dilakukan dengan pendidikan yang membebaskan. Sedang untuk yang kedua, setelah yang pertama berjalan, adalah pemberian kesempatan kepada wanita dalam ranah public sebagai langkah pengikisan rintangan struktural, seperti pemberian kuota 30 % (kenapa Cuma 30 %?) kursi parlemen (DPR/DPRD) pada sektor pemerintah, dan pemberian kesempatan kepada wanita untuk menduduki jabatan ketua atau jajaran direksi dalam ranah swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada wanita setelah perang dunia kedua. Menarik untuk dicermati dan mempertanyakan, terutama berkaitan dengan pendidikan yang menjustifikasi ke arah naiknya wanita secara structural: bukankah pada akhirnya yang menjabat posisi atas adalah wanita-wanita berpendidikan? Lalu bagaimana dengan wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan yang jumlahnya jauh lebih banyak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan sementara saya: feminisme model di atas adalah feminisme borjuis yang memihak wanita-wanita yang memiliki uang (modal) dan memiliki akses structural seperti anak pejabat saja untuk bebas. (Kartini menurut saya masih terjebak dalam kerangka modal dan structural ini; sehingga untuk dikatakan bahwa dia adalah pejuang feminis masih diragukan karena dia bergerak dan dibesarkan oleh struktur patriarkis; kecuali kita memasukannya dalam pejuang feminis borjuis.) Sedang jutaan wanita yang tidak berpendidikan Cuma sekadar melihat. Kita barangkali banyak mendengar wanita menjadi menteri dan CEO, tapi seberapa banyak wanita menjadi kepala desa (selama aku hidup, aku belum mendengar wanita menjadi kepala desa)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini “visi-misi” feminisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang lebih parah adalah, jika wanita yang naik adalah bukan karena factor  kesadaran-kesetaran, tapi karena factor pencitraan. Mereka yang menaikkan (para patriarki baik wanita atau pria) Cuma ingin menyampaikan pesan secara simbolik-visual bahwa sekarang wanita sudah memiliki kesetaran dengan pria, meski Cuma satu wanita saja dan di-perintah bukan memerintah. Hal ini sangat kentara pada saat Megawati menjadi presiden. Dengan kata sederhana, Cuma untuk memberikan mimpi pada jutaan wanita yang malang di pelosok-pelosok desa, baik di Amerika ataupun di Indonesia, saya kira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini pada akhirnya, menurut saya, pertarungan bukan lagi pembebasan wanita terhadap struktur dan kultur yang patriarki yang mendominasi nan hegemonik, tapi juga pembebasan wanita terhadap wanita, antara yang berpendidikan dan bermodal dengan yang miskin dan terlantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang sebelum aku akhirnya bertanya, jam kuliah sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: saya lebih suka menggunakan kata perempuan dalam konteks Indonesia dari pada kata wanita; perempuan lebih berkonotasi dan bertendensi sosio-politis seperti prasa etos politik perempuan, wanita lebih cenderung sosio-ekonomik yang structural seperti dalam  prasa wanita karir. Tapi dua kata ini sering bertukar tempat. So, maaf kalau ada konotasi yang kurang pas.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-191791788600285889?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/191791788600285889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=191791788600285889&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/191791788600285889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/191791788600285889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/10/catatan-kuliah-perempuan-amerika-1.html' title='Catatan Kuliah Perempuan  Amerika (1)'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-2499117349817334785</id><published>2008-09-12T12:00:00.000+08:00</published><updated>2008-09-12T12:01:18.258+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Dosa(kah) Mahasiswa Sastra Inggris?</title><content type='html'>Pada teman-temanku yang mengambil jurusan linguistik dan juga sastra (aku masih ragu untuk mengikutsertakan Penerjemahan dan Kajian Amerika: pernahkah dosen kita memasukkan keduanya dalam ranah sastra?), “Selamat Anda termasuk Mahasiswa Sastra (Inggris)!” Pentingkah ucapan selamat ini dan kenapa, kalau memang penting, aku harus mengucapkan selamat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simply, kita sudah terstigma (disaklegkan) secara sosial-akademis, bahwa kita adalah mahasiswa sastra Inggris (Amerika). So, sudah seharusnya dan sepatutnyalah jika kita tahu dan belajar sastra dan linguistik. Namun yang menjadi kejanggalanku selama ini, mulai semester satu sampai semester enam kemaren adalah, aku—aku tidak tahu dengan teman-temanku—tidak pernah membaca satu karya sastrapun secara tuntas dan dengan pembacaan yang baik, baik itu puisi yang cuma beberapa baris apalagi novel yang berlembar-lembar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat saat Bu Nani memberikan tawaran (?) wajib untuk membaca novel Jane Eyre untuk mata kuliah Pengantar Kajian Prosa. Yang ada dalam pikiranku cuma dua hal: pertama, apakah aku akan sanggup membaca novel setebal lima ratus halaman lebih itu? Aku bingung apakah ini laik untuk dipertanyakan oleh mahasiswa sastra Inggris (?). Bukankah itu sudah seharusnya? Kedua, apakah Bu Nani benar-benar yakin dengan pilihannya, novel Jane Eyre? Apakah dia tidak tahu bahwa reading habit kita sangat memprihatinkan? Aku masih tidak percaya saat dia sudah menyodorkannya pada salah satu temanku untuk kita memfotokopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang lebih membingungkan, juga menjengkelkanku, adalah tidak ada seorang anakpun yang hendak menolak atau menggerutu terkait keputusan sepihak itu! Namun aku tahu, setelah Bu Nani keluar dan aku bertanya pada beberapa teman, ternyata mereka sebanarnya tidak setuju. Aku yang pada waktu itu duduk di depan pojok kanan sebanarnya ingin berontak dan meminta keringanan: 'mbokyo cerpen aja; kan sama-sama karya sastra! Lebih tipis dan ada jaminan akan dibaca sampai tuntas. So, kita bisa bahas dengan mendalam dan tuntas!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menenangkan diri dengan mengais sisa-sisa informasi yang tersimpan dalam otak, bahwa novel Jane Eyre adalah novel yang sangat bagus baik dari segi gaya penulisan, bahasa, dan tentunya isi yang sangat kontroversial-radikal pada zamannya: sebuah embrio pandangan feminisme; banyak kaum agamawan yang merasa dibakar jenggotnya di depan umum. Kemudian aku tahu, novel ini hampir senafas dengan novelnya Ayu Utami Saman dan Larung. (Inilah yang menjadi alasan Bu Nani. Logis.) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang terjadi adalah KITA hanya menonton filmnya, dan cuma membaca beberapa halaman yang hendak dipresentasikan. Semuanya cari sinopsisnya di internet. Aku masih ingat perasaanku saat teman-teman menanyaiku untuk memfoto kopi novel Jane Eyre: untuk apa aku memfotokopi buku yang tidak akan pernah aku baca, kalaupun iya paling cuma beberapa halaman? Akhirnya, karena alasan sosial aku juga memfotokopi. Aku tahu ada beberapa teman yang membaca lebih dari separuh, tapi sepengetahuanku mereka tidak mengambil jurusan sastra atau linguistik. Ya, semuanya nonton filmnya yang cuma sekita dua jam. Kalau bukunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah film dan novel, yang notabene tulisan itu, sangat berbeda? Yang satu  audio-visual bergerak; yang satunya lagi adalah tulisan yang imajiner. Kita pun tahu bahwa sudah menjadi wacana umum bahwa setiap novel yang difilmkan tidak pernah benar-benar sama dengan yang asli (tulisan) sebab berbagai faktor. Banyak kritikus sastra dan film yang kecewa dengan adanya novel yang difilmkan (aku tidak perlu memberikan contoh untuk ini). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku sebanarnya merasa berdosa. Anak sastra Inggris: nol baca buku sastra berbahasa Inggris! Belum lagi, ini aku tahu setelah agak sering membaca buku sastra Indonesia dan buku kritik sastra (berbahasa Indonesia), jurusan sastra (baik sastra Indonesia atau Inggris) tidak pernah atau sangat jarang menghasilkan (boro-boro meluluskan + sertifikat + ijazah) seorang sastrawan dan juga kritikus sastra! Aku semakin malu saat aku berkumpul dengan teman-teman anak TBS (Taman Budaya Jawa Tengah) yang sering ngeledek. Plus para pembicara dalam beberapa seminar dan workshop penulisan essai, kritik sastra, atau penulisan kreatif, mereka semua mencibir anak-anak sastra, yang nggak sastra banget! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kamu bisa bertanya pada diri dan hati sendiri: apakah ada dosen yang sastrawan yang lahir dari rahim jurusan sastra atau dosen yang sekaligus kritikus sastra yang benar-benar dari rahim jurusan sastra, dan diakui kekritikusannya oleh publik (sastra)? Jawabannya: Ada tapi suaaaaangggggggaaaat sedikit! Bisa dihitung dengan satu tangan yang cuma punya beberapa jari (ini masalah realitas sastra Indonesia. Sastra Inggris? Entahlah)! Tentang dosenku, yang aku hormati, kamu bisa bertanya adalah seorang di antara mereka yang benar paham masalah sastra Inggris baik klasik, apalagi yang kontemporer? Aku meragukannya, jika ada yang menjawab iya. Coba kamu pikir apakah ada dosen, paling tidak jurusan, yang berlangganan koran, majalah, atau jurnal sastra, apalagi menulis sastra dan kritik sastra dengan bahasa Inggris? Semua media ini mengabarkan perkembangan sastra yang cepat dan tercipta hampir setiap hari. Sempat dan mampukah mereka? Aku bukan meragukan kemampuan mereka. Bukan. Aku hanya mau mengatakan: mereka tidak punya aksessibilitas dan lingkungan yang akan mendukung mereka ke sana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku toh pada akhirnya memilih Kajian Amerika dan bukan sastra atau linguistik. Aku punya beberapa alasan untuk ini dan, sayangnya aku tidak hendak menuliskannya di sini. Temanku Irfan Zamzami, mahasiswa  sastra Inggris angkatan 2004 (cuma ada dua anak pada angkatan ini!) yang mengambil jurusan sastra dan juga karya sastranya[cerpen] pernah dimuat di koran lokal dan regional, mengatakah, “Fikri, satu-satunya teman saya di kelas sastra (bayangkan, betapa pragmatisnya mahasiswa sekarang, hingga kelas sastra hanya terdiri dari dua orang saja! hueh he heh),” (selngkapnya baca di blog fanzam.blogspot.com ). Dia ada benarnya saat mengatakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...ah. Apakah aku punya semacam dosa akademis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surakarta, 11 Sep. 08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-2499117349817334785?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/2499117349817334785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=2499117349817334785&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2499117349817334785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2499117349817334785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/09/dosakah-mahasiswa-sastra-inggris.html' title='Dosa(kah) Mahasiswa Sastra Inggris?'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9130033561955719201</id><published>2008-09-03T14:26:00.001+08:00</published><updated>2008-09-03T14:32:21.767+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>On Becoming an Americanist (2)</title><content type='html'>2/&lt;br /&gt;Kajian Amerika (American Studies) adalah salah satu bidang kajian oksidentalisme yang sekarang mulai marak di beberapa universitas di Indonesia. Amerika sendiri bukanlah hal aneh dalam dunia wacana atau kajian tentang dunia barat. Hal ini tidak lepas dari sifat Amerika yang (1) jadi panutan sistem demokrasi yang ditopang oleh pengaruh luar negeri yang luar biasa (super power) dan (2) pengaruh amerikanisasi budaya pop yang dianggap sangat hegemonik hampir dalam semua bidang kehidupan. Amerika juga menjadi (3) produser para pemikir dan peraih nobel yang ditopang oleh universitas-universitas yang selalu masuk dan mendominasi dalam top ten university berdasarkan Time Higher Education Suplement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang pertama rasanya tidak mungkin mengabaikan pengaruh pemilihan presiden 2008 yang menampilkan tokoh utama Barack Obama, calon presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika. Gema “obamanisasi” begitu terasa di Indonesia yang akan mengadakan acara lima tahunan, pemilihan umum dan pemilihan presiden. Barack Obama membawa semangat pentingnya kepemimpinan pemuda. Kita tahu bahwa saat obama masuk dalam nominasi bakal calon presiden Amerika banyak analis yang menganggapnya masih bau kencur (baru umur 40-an) yang harus bersaing dengan Hillary Clinton seorang senator New York yang sudah cukup berpengalaman. Indonesia sudah merasakan dampaknya dalam berbagai perdebatan wacana pemimpin muda dan iklan-iklan politik perorangan dari para pemuda, sebut saja Sutrisno Bahir, Rizal Mallarangeng, Ratna Sarumpaet, Fajrul Rahman, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerikanisasi sudah menjadi keseharian dalam hidup kita. Kita tahu bahwa semua manusia muda pasti adalah pemilik kaos dan celana jins. Kaos adalah produk budaya pop yang pertama kali dipopulerkan oleh Marlon Brando pada tahun 50-an (kalau aku tidak salah, sorri agak lupa) lewat film Hollywood yang dibintanginya. Begitu juga dengan celana para cowboy itu juga produk dari budaya pop orang Amerika. Dalam hidup kita hampir tidak mungkin menyingkir dari yang berbau Amerika. Sekali lagi inilah amerikanisasi dalam kehidupan kita. Makanan cepat saji, boneka barbie yang terjual jutaan keping perhari, dan sebaginya, dan sebagainya. Semua itu ditopang oleh perusahaan (industri) multinational.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu negara mana yang paling banyak mengeluarkan dana untuk pendidikan sepanjang sejarah kehidupan manusia? Jawabannya satu: Amerika (aku lupa jumlah sebenarnya). Tidak mengherankan jika Amerika selalu menjadi rujukan utama untuk belajar di luar negeri. Dan tentu saja Amerika selalu mendominasi penghargaan nobel ilmu pengetahunan sejak akhir perang dunia II. Para peraih nobel inilah yang jugi menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang pinter dan punya duit untuk belajar di Amerika, karena inilah motor utama penggerak researh university seperti Princeton University, Chicago University, Cambridge University dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak berlebihan jika Micheal Elliott menulis, “The World Cup isn’t the only field that America can’t dominate” pada majalah Time edisi khusus 2007. Saya percaya bahwa Amerika masih akan terus berjaya sepanjang pendidikan dan industrinya masih berdiri tegak bersamaan dengan, tentu saja, politik gedung putih tidak menjeruskan keduanya pada kesia-siaan dan penghancuran. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9130033561955719201?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9130033561955719201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9130033561955719201&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9130033561955719201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9130033561955719201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/09/on-becoming-americanist-2.html' title='On Becoming an Americanist (2)'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6689705666068065721</id><published>2008-09-02T13:56:00.002+08:00</published><updated>2008-09-03T14:01:01.293+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>On Becoming an Americanist (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: right" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:10;"&gt;“The World Cup isn’t the only field that America can’t dominate”&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: right" align="right"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Micheal Elliott, Essayist &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Amerikanis (bandingkan dengan sebutan indonesianis) adalah pilihan ambigu berikutnya dalam hidupku. Aku sebenarnya sedikit sangsi untuk mengatakan “hidupku”. Alasan: aku tidak benar-benar memilihnya dengan penuh kesadaran dan pertimbangan matang. Ya, aku hendak menuju menjadi amerikanis dalam kajian oksidentalisme, dan aku tidak sungguh memilihnya (tapi aku harus menjalaninya dengan sungguh). Pilihan telah aku tetapkan untuk menjadi mahasiswa kajian Amerika (American Studies). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aku masih ingat saat temanku mengatakan, “Aku tahu kamu pasti belum membuat keputusan. Kamu itu dari dulu seperti itu. Terus mau ngambil jurusan apa?” Aku sebenarnya sudah membuat keputusan: Kajian Amerika. Dalam menetapkan keputusan, aku memang sedikit berbeda dengan pertimbangan umum teman-temanku: fungsionalitas dan akselerasi. Dua alasan yang sekarang cukup dominan dan provokatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan aku? Begini: aku tidak punya bakat atau katakanlah kecenderungan yang mengarah pada fungsionalitas atau akselerasi. Yang ada adalam benakku saat aku harus memilih adalah karena aku memang tidak punya skill dasar, fungsionalitas (ilmu yang aplikatif), cita-cita, dan sebagainya. Aku Cuma sedikit punya kesukaan membaca dan parahnya bukan buku-buku bahasa Inggris. Dan, ini sedikit penting, teman-temanku yang mengambil jurusan kajian Amerika adalah, menurutku, mahasiswa-mahasiswa yang punya high spirit dan outstanding people dalam kelas kuliah (semoga aku mendapatkan efek domino dari mereka). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6689705666068065721?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6689705666068065721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6689705666068065721&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6689705666068065721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6689705666068065721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/09/on-becoming-americanist-1.html' title='On Becoming an Americanist (1)'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4716662925955542912</id><published>2008-09-02T13:54:00.000+08:00</published><updated>2008-09-02T13:56:41.365+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Begini!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seorang yang sangat ingin bisa menulis berkisah: Aku datang pada seorang sastrawan yang sangat terkenal. Dia mendapatkan berbagai penghargaan untuk karya sastranya. Lalu aku bertanya pada beliau, “Bisakah Anda menceritakan bagaimana Anda menulis karya-karya, yang mendapatkan berbagai decak kagum dari para pembaca dan kritikus sastra?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sang sastrawan tidak diaam tidak menjawa. Dia mengajak aku ke tempat kerjanya yang penuh dengan rak-rak yang rapi dan di dalamnya banyak buku-buku klasik dan modern. Dia menyalakan komputernya yang masih tampak tua namun bersih. Lalu dia duduk di kursi dengan tenang dan menarik laci keyboard. Dia memegang mouse dan membuka program Word 2007. Sang sastrawan mengetik lalu berkata dengan mantap, “Begini!” []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Memulai belajar menulis lagi setelah pulang liburan selama satu bulan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4716662925955542912?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4716662925955542912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4716662925955542912&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4716662925955542912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4716662925955542912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/09/begini.html' title='Begini!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7744979113444768364</id><published>2008-09-02T13:48:00.000+08:00</published><updated>2008-09-02T13:53:38.920+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Salah Satu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kesalahanku dalam kuliah, yang aku tidak ingin mengakuinya, adalah aku datang untuk mempertanyakan bukan menerima, sebagaimana teman-teman yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mempertanyakan dan menerima memang bukan sebentuk pertentangan, sebenarnya. Tapi jika dihadapkan pada realita perkuliahan di Indonesia, keduanya seperti berlawanan, kontradiktif (yang dipaksakan). Setidaknya itulah yang saya rasakan saat berada di depan dosen dan membandingkan aku dengan teman-teman. Sistem perkuliahan yang dijalani oleh teman-temanku adalah menerima, dan dengan sendirinya dosen adalah seorang pemeberi ilmu, meski tidak bisa dikatakan pemurah (bandingkan dengan buku-buku, internet dll.). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam sistem menerima ini diandaikan bahwa otak kita adalah sebentuk wadah gelas kosong yang dengan siap sedia menampung, yang kalau bisa semua ucapan (ilmu?) sang dosen. Disini terlihat kebodohanku yang sudah karatan dan mungkin harus diloakan. Ya, aku hendak membuat arah yang berbeda, aku hendak mempertanyakannya dan bukan menerima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi bukankah yang kita isi itu adalah otak manusia yang memiliki sistem kategorisasi (seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant tentang semboyan Pencerahannya) dan kita tahu otak kita bukan otak hewan juga bukan cuma gelas dan sekali lagi bukan hardisc komputer. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Barangkali sudah nasib otakku yang tragis (saya harap otak manusia abad 21 tidak) yang sudah sering terjadi konsleting, bukannya terkomputerisasi secara digital-mekanistik. Aku merasa otakku juga sudah mulai kalah dan hendak menyerah dan tidak ada lagi tekad dan keberanian untuk mempertanyakan, mendebatkan, mendiskusikan, atau bahkan mempolemikannya segala sesuatu yang masuk dalam otak kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apakah aku akan kalah dan menyerah untuk tidak mempertanyakan? Aku sebenarnya sudah tidak tertarik apalagi berkoflik dengan kekuasaan sistem pendidikan kita, tapi bisakah kita menjalani hidup tanpa mempertanyakan? []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7744979113444768364?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7744979113444768364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7744979113444768364&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7744979113444768364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7744979113444768364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/09/salah-satu.html' title='Salah Satu'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-5962913320465167686</id><published>2008-07-13T18:03:00.002+08:00</published><updated>2008-07-13T20:13:12.210+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Angka Nasib</title><content type='html'>&lt;small&gt;&lt;br /&gt;&lt;/small&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;&lt;b&gt;“Dunia ini sebenarnya diciptakan berdasarkan kekuatan angka-angka”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Phytagoras&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Secarik lembaran menakuti aku. Isinya mulai dari beberapa huruf sampai angka-angka yang sulit aku mengerti. Namun dia mampu mengusik aku yang lemah, naif dan malas. Menurut orang awam, akademisi, ilmuan yang ilmiah sampai dukun yang klenik, nasib aku di masa depan―juga beribu-ribu teman senasib-seperjuangan aku― sangat tergantung dan ditentukan oleh angka-angka itu. Semua percaya itu. Angka-angka itu mulai dari cuma angka nol sampai yang tertinggi empat. Banyak orang yang mengejar angka empat. Aku tidak tahu kenapa angka itu yang dijadikan angka tertinggi dan diperebutkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Sejarah angka telah melahirkan seorang filsuf angka/matematik kaliber dunia seperti Pythagoras. Sedangkan di daerah gurun pasir Arabia yang dihuni orang primitive, angka cuma sampai tujuh. Pada jaman modern orang lebih mengenal angka sebagai sesuatu yang tidak terbatas. Bahkan manusia modern tidak cukup punya nama jika angka itu di perpanjang. Seakan semua masuk dalam teori relativitas Einstein secara natural. Namun bisakah angka melahirkan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;tafsiran masa depan secara realistis?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Aku tidak begitu percaya jika tuhan menentukan nasib aku di atas rentetan angka. Memang tuhan terkadang memerintahkan hambanya, kalau orang Islam maka Dia memerintahkan pada mereka untuk menjalankan sholat lima waktu; dalam rakaat sholat ada yang menunjukkan angka empat sampai dua. Aku tidak pernah tahu kenapa dengan angka-angka itu. Aku tidak terlalu mempertanyakan. Apalagi mengajukan hak interpretasi karena kata para ilmuan agama, itu hak prerogatif tuhan bukan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Tapi bagaimana jika manusia ikut-ikutan memegang hak prerogatif tuhan? Berhakkah manusia yang untuk kelahirannya saja tidak bisa menentukan dari rahim ibu siapa dia akan muncul melihat dunia pertama kali? Tapi hidup penuh dengan saling mengklaim. Semua dengan penuh klaim kebenaran. Semua seakan berjalan di atas rel kebenaran. Lalu kenapa mereka sangat percaya dengan seonggok angka-angka? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Angka mitos dan angka pasti&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Angka itu pasti. Begitu guru matematika aku dulu, saat menjalaskan pelajaran menghitung. Angka itu mitos dan ilusi. Begitu kata aku saat merenungkan angka sebagai representasi dan tafsiran nasib masa depan aku. Masa depan dengan segala kegelapan dan ketidakpastiannya adalah ilusi. Dia bukan tambahan, perkalian, pengurangan ataupun pembagian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Lebih jauh angka bukan masa depan. Dan juga angka bukan teleskop futurologistis yang bisa menerawang ke alam masa depan. Mereka yang percaya berargumen dengan realitas masa kini bahwa angka-angka itu sebuah cermin diri: perilaku, prestasi, gengsi, bahkan keburukan, kenakalan lebih jauh kenaifan. Mereka berasumsi bahwa sekarang adalah cerminan masa depan. Aku pun berargumentasi: tapi bukankah setiap cermin selalu memutar-balikkan realitas pantulannya. Tangan kanan berganti tangan kiri. Dia tidak pernah bisa memantulkan realitas horisontal. Dia hanya bisa memantulkan realitas bayangan vertical dalam kekekalan horizontal. Jika dilihat secara seksama pantulan cermin sebenarnya adalah pseudo-reality, realitas palsu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Metamorfosis angka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Angka itu multi-rupawan. Dia bisa mengubah diri menjadi jabatan tinggi, lembaran rupiah, kekuasaan, keagungan dan sebagainya. Mungkin Pythagoras tidak bisa membayangkan tentang evolusi angka seperti yang terjadi sekarang. Angka begitu keramat, sakti dan &lt;i&gt;unpredictable&lt;/i&gt;. Semua tersihir oleh angka lebih dari seorang matematikawan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Sekedar contoh kecil, keponakan aku, anak TK menadapatkan hadiah yang tidak terbayangkan oleh hayalan imajinatif anak kecil, boneka Barbie yang berpakian manusia modern. Padahal anak kecil selalu menirukan orang tuanya tentang anak kecil, tapi kali ini tidak. Boneka tersebut begitu dewasa melebihi si empu yang akan dia jadikan idola panutan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Saat aku bertanya pada ibu anak tersebut, apakah angka itu sangat menentukan masa depannya? Dia menjawab dengan rasa ragu dan sedikit tawa. Sekali lagi saya ajukan pertanyaan sama untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan saya, namun jawabnya kemudian, “Dengan anak saya senang, itu sudah cukup.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Topeng angka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Seorang cerdik-pandai tidak akan bisa memastikan masa depan berdasarkan angka-angka atau nomorologi: ilmu yang digunakn untuk meramal keberuntungan atau kesialan seseorang berdasarkan angka. Bahkan Daniel Golemann menyatakan dalam bukunya yang fenomenal, &lt;i&gt;Emotional Intelligence&lt;/i&gt;, bahwa angka-angka yang disandang oleh para penuntut ilmu di universitas unggulan cuma beperan 10 % dalam penentuan keberhasilan masa depan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Kenapa banyak orang yang mengandalkan angka sebagai tolok ukur keberhasilan masa depan? Apakah benar kita kembali pada jaman nenek moyang kita, dimana dalam menentukan kegiatan atau aktivitas selalu berpatokan pada angka-angka terutama angka ganjil. Mungkin kehidupan semakin ganjil. Aku kuatir semua itu cuma topeng penghibur. Topeng yang akan mengaburkan wajah aku yang sebenarnya. Wajah aku yang jelak sangat tidak diharapkan ditutupi oleh topeng dusta. Biarlah wajah ini apa adanya, &lt;i&gt;real face.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Arial','sans-serif';font-size:9;"  &gt;Aku cuma manusia yang ingin “aku berfikir maka aku ada” atau aku berkarya maka aku berjaya setidaknya untuk ukuran yang aku mampu. Mungkin Pythagoras benar. Bisa juga salah, namanya juga manusia. Aku juga manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-5962913320465167686?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/5962913320465167686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=5962913320465167686&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5962913320465167686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5962913320465167686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/07/angka-nasib_13.html' title='Angka Nasib'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7706739174511405396</id><published>2008-07-03T21:00:00.000+08:00</published><updated>2008-07-03T21:39:06.481+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Hantu-hantu Mahasiswa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kematian, dalam pandangan beberapa mahasiswa, justru semangat yang tak pernah mati. Aku membayangkan, jika seorang mahasiswa mati (Maftuh Fauzi, sekadar contoh yang mendapatkan tempat di hati sebagian mahasiswa baru-baru ini dan dimaklumkan dalam sepanduk[di UNS]), ketika atau setelah berdemo, saat itu juga ia sudah tidak mati lagi. Ia seakan kekal, menjadi hantu-hantu yang akan bergentayangan memompa semangat kawan-kawannya yang lain. Sang kawan lalu berseru lirih dan dalam, “Perjuanganmu akan kami teruskan, kawan!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kematian mahasiswa lebih menyentuh jiwa manusia (setidaknya bagi mahasiswa), lebih bergemuruh dalam benturan-benturan beribu kematian lainnya, bahkan lebih mengehentak dari pada maklumat Nitetzsche di pasar-pasar, “Tuhan telah mati.” Di Indonesia, penguasa terpelanting dari kursinya yang kokoh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ada semangat yang dikobarkan oleh nilai-nilai dalam kematian. Namun justru ketika kematian membawa nilai, saat itu juga kematian seakan membentangkan keangkuhan dan kekuasaannya kepada kita. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kematian menjadi pintu menuju ke situ. Orang yang mati, jasadnya memang tidak akan pernah memberikan semangat dengan verbal, seraya berorasi menyemangati kawan-kawanya dengan lantang. Ia sudah tiada, tapi bukan tidak ada. Kematian menjadi pintu yang, mungkin, sangat dibutuhkan oleh manusia, para mahasiswa. Di sini si mayit menapaki eksistensinya: ia sungguh ada dan menggugah. &lt;i&gt;Sumung ning isi&lt;/i&gt;. Ia persis seperti pintu untuk ruang-ruang memompa semangat bagi perjuangan berikutnya: dan ia halte, sekaligus. Dan untuk itu perlu ceremonial yang mewah, mungkin, seperti adat orang Toraja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Di situ kematian menjadi tragedy yang manis dan orang tidak perlu bersikap sinis. Puluhan mahasiswa mati setelah berteriak “Hidup Revolusi!”, “Tuntaskan Reformasi!” Namun bukan kata-kata itu yang melambungkan semangat muda mereka, melainkan kematian kawan-kawan mereka. Soekarno dan Soeharto turun terpelanting dari kursinya. Puluhan media dan jutaan manusia merayakannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Adakah kematian semacam kurban (berarti “dekat” kepada Tuhan dari bahasa Arab, yang ada dalam tradisi agama Ibrahimi seperti dalam Islam) dan saat sang penguasa lalim maka ia diperlukan bahkan kewajiban seperti yang tidak bisa dihindari dalam revolusi? Atau jangan-jangan selama ini yang terjadi hanya ritual yang menghendaki tumbal, semacam pendekatan terhadap iblis dan setan di atas altar yang kita anggap suci?&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Di sini kurban dan tumbal sulit dibedakan karena keduanya meniscayakannya sebentuk korban yang harus mati. Kurban memang sudah diganti dengan domba, lembu dan onta, tapi apakah Ibrahim dulu akan mengelak hendak mengkorbankan anaknya, dan bukan seekor domba?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7706739174511405396?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7706739174511405396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7706739174511405396&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7706739174511405396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7706739174511405396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/07/hantu-hantu-mahasiswa.html' title='Hantu-hantu Mahasiswa'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6872699636133662050</id><published>2008-06-19T17:01:00.000+08:00</published><updated>2008-06-19T17:02:53.697+08:00</updated><title type='text'>AKU MERASA, MAKA ADA AKU</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;“Karena rasa adalah segalanya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;(Iklan kondom Fiesta)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;EKSISTENSI (pe)rasa(an), perasaan kemanusian kita, dalam diri manusia manapun, akan selalu membawa pada bentuk kehidupan yang penuh dengan pelangi rasa. Pada ranah ini kita diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai makhluk perasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Sebagai makhluk perasa kita dihadapkan oleh beraneka warna pelangi rasa kehidupan. Kita kadang tidak tahu warna perasaan kita, karena begitu banyaknya warna. Belum lagi kombinasi warna perasaan kita. Mungkin seorang psikolog belum bisa mengidentifikasi perasaan kita secara definitif. Namun pada tulisan kali ini akan sedikit dibahas rasa &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;memiliki&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Filosofi Rasa&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;RASA memiliki, yang mendarah dalam kehidupan manusia, tak pelak sama persis dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;RACUN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;. Racun memiliki dua sisi yang berlawanan: menyembuhkan dan membunuh. Pada satu segi kehidupan kita, kita tidak ingin hidup kita sendiri, tanpa memiliki. Kita, untuk itu, menginginkan sebuah racun untuk kita gunakan sebagai pelindung. Pelindung saat kita menjadi seorang yang terinterimidasi atau terancam, baik oleh perasaan di luar diri kita atau perasaan dari dalam diri kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Apa yang paling mengancam jiwa manusia jika bukan sebuah ketidakpunyaan akan sandaran jiwa, proteksi kehidupan jiwa, yang akan mewarnai keseluruhan hidup kita? Tatkala semua bangunan runtuh, saat harta benda kita luluh lantah, saat semua menghilang lenyap, kita cuma butuh satu atap untuk berteduh. Satu atap untuk jiwa-rasa kita yang merindukan keutuhan rasa kita yang paling esensial yaitu memiliki. Kita merindu rasa yang bersandar pada sebentuk “memiliki.” Kita tidak ingin sebuah kesendirian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Betapa miskinnya seorang manusia jika untuk jiwanya saja tidak punya perasaan memiliki. Seluruh isi dunia ini tanpa rasa memiliki sama halnya dengan tanpa kehidupan. Dia yang hanya memiliki rasa kesendirian tak ubahnya sebongkah batu mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Dalam kesendirian kita, kita begitu terikat dengan dunia kepemilikian. Sebentuk dunia rasa yang termiliki. Kita ingin memiliki ini-itu...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Di sinilah sifat perasa manusia mulai menemukan bentuknya yang sampai sekarang belum juga terdefiniskan secara tepat (atau barangkali hanya perbedaa diksi dan gaya bahasa). Yaitu Dunia Cinta. Cinta secara lebih luas pada akhirnya Cuma seberkas rasa memiliki dan berbagi. Dunia ini mungkin memang tidak memerlukan sebuah alasan yang kuat atau filosofis-ontologis. Namun cukup secara psikologis-sosial saja: sebab ingin berbagilah manusia pada saat ini dan pada awal mulanya mulai kenal cinta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan melakukan percintaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komunisme Perasaan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;TAPI di situlah, saat rasa harus berbagi dan dibagi dalam bentuk memiliki, rasa mulai menjadi masalah. Rasa sudah bermetamorfosis menjadi racun. Rasa dalam bentuk yang tersimpan rapi dalam hati memang tidak akan pernah menggangu tatanan masyarakat, hanya mengganggu personal saja. Namun saat rasa memiliki akan diwujudkan, dengan dua orang setidaknya, maka rasa akan memasuki ranah sosial kemasyarakatan. Contoh klasik akan hal ini adalah peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Qobil terhadap saudaranya Habil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Permasalahan akan lebih rumit lagi kalau rasa itu akan diwujudkan dalam tatanan masyarakat yang lebih luas, dalam teritorial kesukuan, etnisitas, bahkan yang lebih parah lagi kalau itu harus dalam tatanan negara. Contoh yang paling jelas akan hal ini adalah dibentuknya negara dengan landasan komunisme. Saya tidak akan menjelaskan konsep komunisme dalam tataran kenegaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Ide dasar dari komunisme sebenarnya sudah ada dalam pemikiran Yunni kuno, dari Aristoteles (sori aku lupa pastinya, tapi kalau mau lebih jelasnya coba lihat buku Sejarah Pemikiran Barat terbitan Gramedia). Dalam pemikiran komunisme, yang menjadi intisarinya adalah kesetaraan, persamaan kelas untuk seluruh manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Menurut aku, kehendak untuk persamaan dan kesetaraan itu ditimbulkan oleh sebentuk rasa memiliki. Semua orang ingin merasakan hal yang sama. Orang tidak akan pernah benar-benar tertindas sebelum dia atau orang lain memasukkan tindakan menindas sebagai sebuah rasa, rasa tertindas. Dan untuk menghilangkanannya maka semua orang harus memiliki perasaan yang sama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Dan inilah awal mula dari sebuah tragedi. Komunisme ingin menghilangkan sebentuk getaran jiwa manusia yang paling dasar: rasa memiliki. Komunisme ingin mengatasinya dengan menyamaratakan rasa memiliki yang sudah memanifestsi dan representasi dalam wujud benda-benda dengan menguasakan seluruh benda-benda tersebut pada tangan pemerintah. Mereka ingin menjadilakn rasa memiliki sebagai sebuah ilusi belaka yang jika manifestsi dan reprenatsinya dihilangkan maka dengansendirinya rasa akan dan dunia dalam keadilan sosial selamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Mereka lupa permasalahannya bukan pada benda-benda itu tapi pada persepsi rasa yang sudah sangat kuat dan yang paling penting setiap rasa memiliki mempunyai penafsiran yang beda-beda dan bisa berwujud pada hal-hal yang berbeda sebagaimana kita suka pada perempuan yang beda-beda, atau mereka suka cowok-cowok yang berbeda-beda. Semua kembali pada rasa memiliki yang mewujud pada hal yang beda-beda. Maka persamaan dan keadilan yang diobsesikan oleh komunisme tidak akan pernah mewujud (???).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapitalisme Perasaan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Itulah ide yang sangat ditunggu oleh setiap manusia: keadilan, persamaan. Namun sepertinya dunia sadar, keadilan yang naif itu tidak akan terwujud di dunia ini. Dan untuk itu kita harus mengalah, berbesar hati, jika salah satu dari kita memiliki yang lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Lalu, dalam selimut kebaikan ini, rasa memiliki mulai tidak terkendali. Manusia beruaha memenuhi rasa memiliki dengan sebanyak-banyaknya. Tanpa perlu memandang terhadap yang lain. Dan pada akhirnya akan menuai sebuah tuntutan perasaan: kembali pada komunisme, keadilan yang absolut tapi naif. Orang bukan tidak mencari jalan tengah. Banyak yang mencarinya. Tapi sampai saat ini sepertinya kita masih terjebak pada perilaku kapitalisme yang buta dan terlampau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext; font-weight: normal;" lang="DE"&gt;Ujung-ujungnya semua rasa memiliki berakhir dengan tragis. Kita sering melihat orang kaya yang sok tak peduli. Di sisi yang lain kita meringis melihat peruntuhan apa yang dimilki oleh orang yang tidak memiliki. Bahkan yang paling aneh cintapun hanya tertuju pada mereka yang punya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Heroisme Perasaan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: windowtext;" lang="DE"&gt;...maaf tulisan belum jadi! Lagi malas menekan tombol-tombol keyboard. Begitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6872699636133662050?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6872699636133662050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6872699636133662050&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6872699636133662050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6872699636133662050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/aku-merasa-maka-ada-aku.html' title='AKU MERASA, MAKA ADA AKU'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-5306822638067766856</id><published>2008-06-14T02:36:00.000+08:00</published><updated>2008-06-14T02:49:48.754+08:00</updated><title type='text'>Breaking News: Tuhan Jadi Hakim!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 55pt;"&gt;B&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;aru sekarang, setelah menjadi manusia sampai menginjak kaki di perguruan tinggi, aku mendapati sebuah tantangan tentang sumpah keagamaan untuk membuktikan sebuah kebenaran di hadapan Tuhan, di dunia ini. Sekali lagi &lt;i style=""&gt;di dunia ini&lt;/i&gt;. Dia, Habib Rizieq,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menantang Gus Dur untuk membuktikan siapa yang &lt;i style=""&gt;paling &lt;/i&gt;benar dengan sanksi mati mengenaskan berikut seluruh keluarga masing-masing. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku, tentu saja, tersenyum kecut dan sedikit manis-miris. Aku membayangkan Tuhan akan dijadikan sang Maha Adil, Maha Mengetahui, dan tentu saja Maha Benar, dan aku masih mempercayai semua itu. Tapi jika semua itu harus dibuktikan di dunia ini, aku mulai menjadi bingung dengan ekspresi keberagamaan kita. Aku jadi pengin bertanya: Kira-kira Tuhan mau nggak ya; terus kalau Dia mau kira-kira bagaimana cara Dia menentukan siapa yang paling benar; arguementasi seperti apa untuk menetukan siapa yang peling benar; dan beribu pertanyaan yang saling terkait…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku membayangkan Tuahan akan bertanya pada kedua orang yang berseteru: ‘Emang Aku peduli dengan perseteruanmu? Ge-Er banget kamu semua! Emang gua pikirin! Bodoh amat! Aku lagi sibuk melihat betapa lucunya dirimu itu. Aku tidak sibuk dengan memperebutkan berapa banyak umat atau orang yang kau selamatkan dengan perseteruan kalian. Aku lelah melihat orang-orang, rakyat-rakyat yang sedang kelimpungan tidak bisa beribahdah dengan baik karena kalian sibuk berseteru melulu. Belum lagi mereka tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan hari esok yang tidak bisa makan (naiknya BBM memicu naiknya bahan pokok). Belum juga bagaimana mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka supaya bisa membaca dan menulis, sukur-sukur bisa melanjutkan ke perguruan tinggi supaya bisa menatap hari esok lebih baik (ingat sebentar lagi musim masuk sekolah).’ &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;‘Aku tahu aku bisa saja memberikan mereka semuanya apa-apa yang mereka mau dan sangat mampu menjadikan mereka sangat Islam seIslam-Islamnya. Tapi aku ingin menguji kalian, seberapa jauh kepedulian kalian pada mereka. Bukan Cuma berdebat, main sumpah-sumpahan. Aku sudah muak dengan seperti itu. Tidakkah kalian semua membaca cerita Ibrahim yang hendak melihat Aku? Cerita itu sama dengan permintaan kalian supaya Aku mengadili kalian siapa yang paliang benar. Ah, bodoh amat siapa yang paling benar.’&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;‘Satu lagi, gara-gara kalian yang anarkis secara fisik dan pemikiran itu, banyak orang yang gerah melihat kalian apalagi mentauladai. Kalian ingin semua orang sama ya? Sama keyakinannya, sama keagamaannya, sama kedalaman imannya, sama ketauhidannya? Dan, ini yang penting, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;samanya Cuma sama kalian, seperti kalian? Apa kalian tidak terlalu &lt;i style=""&gt;overconfident&lt;/i&gt; ‘tu namanya? Itu sama saja kalian menghendaki Aku menciptakan manusia semuanya sama, paling tidak secara pikiran dan keyakinan. Kau yakin dan tahukan kalau Aku sebenarnya mampu melakukan semua itu: Satu Umat Satu Agama, di seluruh jagat alam yang gaib atau yang nyata. Tahu kenapa?’ &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tentu saja semua itu monologku. Tapi asyik juga ya kalau tiba-tiba Tuhan tampak di hadapan kita menjadi hakim, lalu menghakimi mereka yang berseteru…Yakin deeehhh ‘tuh “penampakan” Tuhan, jika &lt;i style=""&gt;ketangkep&lt;/i&gt; kamera, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;akan menjadi &lt;i style=""&gt;Super-hyper&lt;/i&gt;-amat-sangat-&lt;i style=""&gt;breakingnews&lt;/i&gt; sepanjang hari sepanjang sejarah peradaban manusia mulai saat itu hingga akhir manusia dan dunia….Ya iya lah, (ngapain yaiya dong!) Dilihat dari segi apapun dalam kaca mata jurnalistik, peristiwa-fakta itu sudah menjadi obsesi manusia setelah cuma Adam-Hawa yang pernah melihat-Nya….[]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;Solo, 10 Juni 2008&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-5306822638067766856?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/5306822638067766856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=5306822638067766856&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5306822638067766856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5306822638067766856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/breaking-news-tuhan-jadi-hakim.html' title='Breaking News: Tuhan Jadi Hakim!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-1173429550337266871</id><published>2008-06-14T02:18:00.000+08:00</published><updated>2008-06-14T02:32:06.169+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Pergolakan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 14pt; text-align: justify; line-height: 41.35pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56pt;"&gt;L&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;urus, zig-zag, dan fluktuatif. Kebenaran absolut, kepastian, dan sejenisnya mengarah pada hidup yang seolah melaju di jalan tol yang sangat lurus dan bertujuan jelas. Orang sering mendambanya, lalu mencari, menciptakan seperti yang kita lakukan dalam pendidikan dan pembelajaran. Dalam bersikap, orang yang memiliki karakteristik seperti itu sering dikatakn DEWA-sa. Pada posisi puncaknya, sering orang ini dijuluki orang yang arif bijak bestari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku sering was-was bahkan curiga terhadap orang ini (adakah mereka?), lebih tepatnya pada anggapan orang yang mengatakan demikian. Ide-ide, pemikiran, ataupun gagsan dalam hidup yang dijalani ini, menurut saya, bisa dikategorikan menjadi dua: yang &lt;i&gt;di&lt;/i&gt;pastikan dan yang &lt;i&gt;di&lt;/i&gt;ragukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Di bawah kendali otak dan emosi manusia, bisa dihitung dengan jari sesuatu yang pasti dan disepakati (ini menjadi pengecualian dari yang dua tersebut). Lalu, untuk itu, &lt;i style=""&gt;me&lt;/i&gt;mastikan dan &lt;i style=""&gt;men&lt;/i&gt;sepakati, aku menduga, setidaknya mulai mengarah pada yakin, bahwa semua itu Cuma &lt;i&gt;di&lt;/i&gt;pastikan atau lebih tepatnya hanya sekadar &lt;i style=""&gt;di&lt;/i&gt;yakini sebagai &lt;i style=""&gt;pasti&lt;/i&gt; bukan kepastian itu sendiri. Dengan kata lain, semua itu masih diragukan sebenarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tuhan, kebenaran, hukum (bahkan dalam ilmu alam), teori, universalisme apapun… cuma sederet bukti kecil. Tidak ada kepastian, tampaknya. Yang ada hanya yang &lt;i style=""&gt;di&lt;/i&gt;pastikan, yang mereka arahkan sebagai yang &lt;i style=""&gt;di&lt;/i&gt;yakini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku sering curiga pada yang-dipastikan dalam yang-diyakini. Di balik semua itu: pemaksaan, pemerkosaan dalam segala bentuknya, kekerasan, pembunuhan, pembakaran, pemenggalan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku memang merindukan kepastian—bukan yang dipastikan dengan paksaan yang halus ataupun kasar. Tapi bukan seperti yang dilakukan oleh agamawan atau ilmuan. Bagi agamawan, kepastian hanya sebidang tembok yang kokoh dan lurus ke atas yang sering dibangun dengan apriori. Bagi ilmuwan, kepastian sering seperti jalan yang dilalui dengan zig-zag dengan arah dan tujuan yang sering berubah, meski sering dengan cara aposteriori. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku hendak berdiri di antara keduanya: berfluktuatif, bergolak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=""&gt;Surakarta, 11 Juni, 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-1173429550337266871?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/1173429550337266871/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=1173429550337266871&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1173429550337266871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1173429550337266871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/pergolakan.html' title='Pergolakan'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-5870932576551893299</id><published>2008-06-09T19:45:00.002+08:00</published><updated>2008-06-09T20:15:43.396+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Diri</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dia laut sekaligus bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dia gua &lt;/span&gt;hitam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dia &lt;span style="" lang="IN"&gt;labirin&lt;/span&gt; yang selalu malam&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Aku terjebak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak tahu Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Atau, tak perlu semua ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Siapa yang tahu Diri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menjadi Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menemui arti?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mengerti Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hendak suci?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hendak bukan &lt;/span&gt;meng&lt;span style="" lang="IN"&gt;ebiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Menyelam menggali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun Diri hendak menyata &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun aku semakin geli&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Melihat Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Solo,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;9 Juni 08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-5870932576551893299?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/5870932576551893299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=5870932576551893299&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5870932576551893299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/5870932576551893299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/diri.html' title='Diri'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-1074358709850151621</id><published>2008-06-07T19:02:00.000+08:00</published><updated>2008-06-07T19:28:52.891+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Kejutan Yang Berlanjut</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;“It needs decades to have &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;a masterpiece writing,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;but it just needs a night &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;to make somebody (girl) pregnant”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 39.65pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 52pt;"&gt;K&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;utipan itu tertera jelas dengan warna biru dalam sebuah buku yang berjudul “Jurnalisme Sastra”, yang ditulis oleh Septiawan Santana Kurnia (2002). Buku pertama tentang jurnalisme sastra (bandingkan dengan buku kumnpulan jurnalisme sastra yang diterbitkan oleh Pantau) di Indonesia dan, ini yang penting, ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu sekarang berada di tanganku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Sudah lima hari sejak seseorang, yang dia namakan dirinya atau lebih tepatnya meminta dipanggil “Chemitz”, hendak memberikanku “sesuatu”. Seorang cewek, yang berdasarkan sebuah “polling” yang pernah aku lakukan terhadap responden teman sekuliahku, dikatakan cantik, dan &lt;i style=""&gt;fashionable&lt;/i&gt;. Sebuah polling yang tidak resmi tentang “siapa yang paling cantik dan paling seksi di kelas kuliah.” Hal senada juga dikatakn oleh beberapa teman dari luar jurusan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Pagi ini, saat aku akan memasuki ruang kuliah 307 yang berada di pojong paling atas lantai tiga, dia melambaikan tangan disertai senyum. Suatu pemandangan yang belum biasa. Ya, terutama dengan orang “cuekis”, yang paling cuek (penganut paham Cuekisme, dari kata cuek), seperti diri ini. Aku tidak menyangka dia akan memberikanku sebuah buku yang bagus. Aku masuk ke ruang kuliah sedikit terlambat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Dia ternyata mau memberikan “sesuatu” itu. Sebuah buku yang di kover depannya tertera dua tulisan: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Property of MiTzKiM 17/04/06” dan “Sudah dua tahun aku beli tapi satu babpun belum aku baca!!” Entah apa dibalik tulisan itu. Sebentuk “kekecewaan” pada diri sendiri? Sepertinya tidak. Atau, memang buku itu sebenarnya tidak “sesuai” dengan keinginan pemebelinya? Entahlah. Aku melihat buku itu sebenarnya sedang menunggu manusia untuk membacanya. Dan sepertinya orang itu aku (semoga aku menjadi pembaca yang baik)? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Aku yakin tulisan yang kedua itu belum lama tertera di kover depan buku yang didesain layaknya buku sastra dengan ornament dan ilustrasi patung abad pertengahan, cewek yang memegang bolpen, orang yang sedang membaca Koran, dan seorang laki-laki sedang menunggu inspirasi hendak menulis. Sebuah buku pedoman tentang jurnalisme sastra&lt;i style=""&gt;.rna tulisan yang kedua itu menggunakan tinta warna biru, persis dengan tulisan kuotasi dan tulisan dalam selembar kertas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Ada yang menarik dari tulisan kuotasi dan selembar tulisan yang menyertainya, semacam pengantar sang pemberi. Bukan saja pada tulisan itu tapi pada “sejarah” dibalik keduanya dan sekaligus yang menjadi “pemicu” dibalik sebuah buku itu, sehingga bisa berada ditanganku. Sebuah kisah inspiratif, mungkin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Di sore yang sedikit berbeda karena seorang teman datang dan sedikit ngobrol yang berujung debat tentang sesuatu cerita. Cerita dipicu oleh seorang mahasiswa kedokteran UNS angkatan 2007 bernama Fredy yang hendak membeli buku “how to” persahabatan. Tapi dia ragu dengan lebel harga yang di atas 50-an ribu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk menghilangkan keraguannya, tapi bukan untuk membujuknya apalagi memaksanya membeli buku tersebut, akhirnya aku bercerita tentang dua orang tokoh nasional: Bung Hatta dan Bung Syahrir. Cerita ini sebenarnya aku kutip dari tulisan Goenawan Mohamad (lihat tulisan aslinya di bukunya Goenawan Mohamad yang berjudul “Setelah Revolusi Tidak Ada Lagi’).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Dikisahkan bahwa Syahrir dan Hatta sedang menjadi tahanan politik kolonial Belanda di pulau Banda Naira tahun 1942. Syahrir digambarkan sebagai orang yang sangat mencintai anak-anak sehingga dia mengadopsi tiga orang anak. Sedang Hatta tetap kukuh tak bergeming dengan buku-bukunya. Syahrir sering mengajak anak angkatnya berjalan ke pantai dan bermain di rumah yang ditempati oleh Syahrir dan Hatta. Suatu ketika Syahrir dimarahi oleh Hatta karena anak angkatnya menumpahkan air pada buku-buku kesayangan Hatta. Akhirnya Syahrir mengalah dan dia pindah ke rumah yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Adalah bulan Februari dan Jepang sudah menguasai Indonesia. Pada saat itu pulau Banda Naira akan dibom oleh Jepang. Hatta dan Syahrir harus segera pergi dari tempat itu. Syahrir dan Hatta dijemput oleh helicopter Catalina. Hari masih pagi dan mereka disuruh segera bersiap-siap. Hatta membungkus buku-bukunya ke dalam enam belas kardus; Syahrir Cuma membawa tiga orang anak angkatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Permasalahan, karena buku-bukunya Hatta dan tiga anak angkatnya Syahrir, muncul. Helikopter Cuma muat untuk orang-orang saja. Buku-buku yang sudah dinaikkan terpaksa diturunkan lagi. Hatta mengalah. Syahrir gembira. Hatta menyesal seumur hidupnya karena buku-buku itu tidak pernah lagi ditemukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Sampai di sini perdebatan dimulai antara aku, temanku, Chemitz, dan Fredy. Pertanyaan pertama yang muncul: siapa seharusnya yang menjadi prioritas utama, buku atau tiga orang anak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Fredy dan Chemitz memilih menyelamatkan manusia. Sebuah pandangan humanis yang sangat manis sekali. Sebuah nyawa tentu saja sangat mahal harganya, dan tidak pernah ada sebuah toko nyawa di seluruh sudut dunia ini. Bisa terjerat pelanggaran HAM jika tidak mengindahkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Aku tentu saja membela enam belas kardus buku. Alasannya simple: jauh lebih susah menulis buku dari pada membuat seorang anak. Butuh waktu, kejeniusan dan referensi. Butuh bertahun-tahun untuk menulis buku yang berbobot dan berpengaruh mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan manusia. Membuat anak, sebaliknya, cukup satu malam saja jadi dan juga bisa terjadi dengan orang gila yang tidak punya otak. Mereka berdua tertawa dengan argumen yang sedikit “porno” itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Fredy akhirnya mengukuhkan niatnya dan membeli buku “how to”-nya. Dia tetap tersenyum saat membeli dan memasukkan ke dalam tasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Aku surprised, ternyata perkataanku yang sedikit porno itu tertera di dalam buku jurnalisme sastra dan dia, Chemitz, memberikannya padaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"&gt;Ini adalah yang ketiga kalinya aku mendapatkan kejutan selain saat muka ini dijadikan kanvas dengan cat kue tar, lalu kejutan tengah malam di Manahan yang memaksa aku untuk menceritan sebuah “mimpi” jelek dan aneh (semoga mereka yang mendengarkannya lupa!).[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-1074358709850151621?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/1074358709850151621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=1074358709850151621&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1074358709850151621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1074358709850151621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/kejutan-yang-berlanjut.html' title='Kejutan Yang Berlanjut'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-300096975864878755</id><published>2008-06-04T17:25:00.002+08:00</published><updated>2008-06-04T18:15:28.515+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Tantangan (bagi) Tuhan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 53.5pt;"&gt;S&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ejarah kekerasan dan yang akhir-akhir ini menghiasi kehidupan sosial kemasyarakatan kita, menurutku, sejatinya adalah tantangan bagi (kata) Tuhan. Orang akan menjadi curiga dan bertanya-tanya apa sebenarnya makna dari kekerasan yang biadab itu. Apakah kata Tuhan sebegitu bengis dan ganasnya dalam kehidupan kita sehingga setiap orang selalu dalam kontrol kecemasan dan ancaman? Atau, pada akhirnya, pentingkah Tuhan bagi manusia jika yang tampak selalu bukan (ke)Tuhan(an)?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Kondisi ini, jika dibiarkan terus berlanjut, akan menghasil manusia atheis yang lahir bukan dari perdebatan ontologis-filosofis. Tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari kekerasan fisik yang menjalar menjadi traumatis-psikis. Dan jika kondisi terus diperparah, maka ada benarnya apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang disebut atheis—meski mereka beragama tanpa Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Benar pula jika kita harus membunuh dan membakar rumah Tuhan. Lalu, mengikuti Zarathustra, kita membuat maklumat di pasar-pasar yang disiarkan oleh seluruh media cetak dan elektronik: “Tuhan sudah mampus.” Memang, dia harus tumpas-tewas, barangkali.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Dan setelah itu, mungkin, kita bisa bercerita pada generasi mendatang: kita damai bukan karena kita dipenuhi oleh para nabi dan rasul yang bijak bestari, bukan karena kita sudah beragama dengan khusyuk, bukan karena “no more presidents”, bukan karena kita sudah sejahtera semua, bukan semua itu; tapi kita sudah bisa menyadari dan menghargai bahwa, ternyata, kita itu berbeda-beda dan kita sadar kita tidak bisa menjadi seragam oleh apapun itu, dan yang penting, Tuhan telah kita bunuh bareng-bareng, mengikuti para nabi dan rasulnya yang telah mendahuluinya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tuhan?[]&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-300096975864878755?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/300096975864878755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=300096975864878755&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/300096975864878755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/300096975864878755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/06/tantangan-bagi-tuhan.html' title='Tantangan (bagi) Tuhan'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4354880216815448687</id><published>2008-05-31T11:46:00.003+08:00</published><updated>2008-05-31T12:11:02.316+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Komen tentang teman</title><content type='html'>Jika sebuah komen utuh harus diberikan pada sebuah tulisan pribadi maka ini adalah kata-kata yang tepat tentangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        "Saya menulis untuk merekam apa yang telah dihapus orang lain ketika saya berbicara, untuk menulis ulang kisah yang telah ditulis secara salah oleh orang lain tentang saya, tentang mu. Untuk menemukan kembali diri saya, untuk menjaga kelangsungan diri saya, untuk menciptakan diri saya, untuk mencapai otonomi diri."&lt;br /&gt;                                                            --Gloria Ahzalda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah salah satu kutipan curhatnya, sebagai eviden kecil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Aku memang belum dewasa, seperti juga mereka. Aku butuh "teman", sebagaimana mereka. Ah, sudahlah. Aku sedang belajar hidup. Aku harus banyak menyesuaikan diri dengan mayoritas. Walau ini teramat sering kulakukan. Mau tak mau. Bukan berarti aku kalah dengan diriku sendiri. Bukan aku belajar menjadi orang lain, aku hanya ingin menjadi bagian dari lingkungan sosialku. Bagaimana aku dapat diterima, menjadi kawan seseorang dari kaum mayoritas, aku masih belum tahu. Yang jelas aku tidak mau memformat ulang otakku! Sekali lagi &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;aku adalah aku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4354880216815448687?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4354880216815448687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4354880216815448687&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4354880216815448687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4354880216815448687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/komen-tentang-teman.html' title='Komen tentang teman'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-1289118111748526376</id><published>2008-05-26T15:43:00.000+08:00</published><updated>2008-05-26T15:44:33.257+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Minggu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah hidup sekian lama, ternyata hari yang paling banyak dikutuk dan ditunggu adalah Minggu. Semoga Anda tidak menglami Minggu kelabu…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-1289118111748526376?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/1289118111748526376/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=1289118111748526376&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1289118111748526376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1289118111748526376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/minggu.html' title='Minggu'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4796334726677909019</id><published>2008-05-26T15:41:00.000+08:00</published><updated>2008-05-26T15:43:05.919+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Porno</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Isu yang paling porno dan seporno-pornonya porno adalah pikiran porno dan, ini yang penting, kita ternyata lelaki dan perempuan, yang kebetulan, punya alat kelamin. Karena, tanpa alat kelamin kita tidak pernah berpornoria…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4796334726677909019?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4796334726677909019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4796334726677909019&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4796334726677909019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4796334726677909019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/porno.html' title='Porno'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7624039012658584666</id><published>2008-05-26T15:38:00.000+08:00</published><updated>2008-05-26T15:40:11.654+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seandainya keadilan itu ada, maka kita tidak membutuhkan maaf. Maaf merupakan salah satu penghilang keadilan. Salah tetap salah. Dan maaf menghilangkannya, apapun alasan dan dalihnya…Tapi jika maaf tidak ada dan keadilan tak kunjung datang, maka sambutlah sebentuk neraka yang, terkadang, kita buat sendiri…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7624039012658584666?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7624039012658584666/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7624039012658584666&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7624039012658584666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7624039012658584666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3598518013682253228</id><published>2008-05-26T15:36:00.000+08:00</published><updated>2008-05-26T15:38:04.546+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Masturbasi Ato Onani</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Andai menulis, berpikir, plus bertindak seenak masturbasi, onani, berhubungan suami-istri…Aku hendak melakukan setiap hari…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3598518013682253228?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3598518013682253228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3598518013682253228&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3598518013682253228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3598518013682253228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/masturbasi-ato-onani.html' title='Masturbasi Ato Onani'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-4884474702186043952</id><published>2008-05-12T11:24:00.003+08:00</published><updated>2008-05-12T12:01:53.415+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>ASTAGA!!! MALAPETAKA PENDIDIKAN ITU DATANG JUGA!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JAKARTA&lt;/span&gt; - &lt;b style="font-weight: bold;"&gt;Biaya masuk perguruan tinggi&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; negeri bisa mencapai angka di atas Rp &lt;/span&gt;&lt;b style="font-weight: bold;"&gt;100&lt;/b&gt; &lt;b style="font-weight: bold;"&gt;juta&lt;/b&gt;, sementara setiap semester dapat mencapai Rp 70 &lt;b&gt;juta&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;...&lt;/b&gt;(headline KOMPAS,&lt;span class="tglct"&gt;&lt;strong&gt;Senin&lt;/strong&gt;, 12 Mei 2008). Siapa yang mempunyai uang  sebanyak itu?  jawabannya pasti banyak orang Indonesia yang bisa membayarnya! Buktinya banyak juga orang Indonesia  yang setiap  Minggu pergi belanja di Orchid Road Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-weight: bold;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Miskin Sulit Dikurangi&lt;/div&gt; &lt;div style="font-weight: bold;" class="subjudulidxcetak"&gt;Dana Penanggulangan Kemiskinan Rp 58 Triliun&lt;/div&gt;         &lt;span class="tglct"&gt;Senin, 12 Mei 2008 | 00:22 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;Jakarta, Kompas - Target pengentasan kemiskinan yang diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diperkirakan gagal tercapai&lt;/span&gt;. Ini karena banyaknya hambatan yang membuat penurunan jumlah penduduk miskin sulit dilakukan, antara lain akibat kenaikan harga minyak dan makanan.&lt;/p&gt;Ada dikotomi bahkan paradoks situasional yang terjadi dengan bangsa ini. Belum lagi rencana pemerintah menaikkan harga BBM (awal April). Sudah pasti akan menambah daftar orang-orang miskin baru (OMB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi perdebatan klasik bahwa untuk mengentaskan kemiskinan sungguh tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan langsung tunai. Orang pasti harus mikir kira-kira supaya bisa makan besok harus pakai apa? Dan di sini pentingnya sebuah lapangan pekerjaan. Saat kita membicarakan lapangan pekerjaan maka secara tidak langsung kita akan membicarakan SDM. Saat membicarakan masalah SDM, kita akan membicarakan, lagi-lagi, pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi rahasia &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bejat&lt;/span&gt; semua orang bahwa pemerintah belum mengalokasikan 20% dana APBN untuk pendidikan. Dan juga sudah menjadi rahasia dunia internasional bahwa kita berada pada urutan 100 sekian di antara 177 negara Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita lakukan pada dunia pendidikan kita? Kita sudah (ke)terlalu(an) lama berdebat masalah dana dan UN yang tidak rasional...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAPAN KITA AKAN MEMBICARAKAN BAGAIMANA MERAIH HADIAH NOBEL UNTUK FISIKA, KEDOKTERAN, EKONOMI, ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OH PENDIDIKAN, OH PENDIDIKAN...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-4884474702186043952?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/4884474702186043952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=4884474702186043952&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4884474702186043952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/4884474702186043952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/astaga-malapetaka-pendidikan-itu-datang.html' title='ASTAGA!!! MALAPETAKA PENDIDIKAN ITU DATANG JUGA!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-242157773947961719</id><published>2008-05-04T21:02:00.000+08:00</published><updated>2008-05-04T21:04:35.493+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Aku Kalah, Tak Terhitung Berapa…</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 54.5pt;"&gt;A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ku bertaruh dan sebelum bertaruh aku sudah kalah telak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Aku melihat, mencoba menilai, dan memprediksi sebuah “gambar” tepatnya, bukan poster.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Meski seharusnya yang dibuat adalah sebentuk poster. Indah oleh seekor ikan lumba-lumba abu-abu yang sedang berenang naik ke permukaan melewati perahu Pinisi megah mengarungi samudra, entah di mana. Tapi sepertinya di-&lt;i style=""&gt;setting&lt;/i&gt; di samudra Hindia, karena di pinggir atas dan bawah, nanti, ada tulisan, “Nenek moyangku orang pelaut…” dan di bawahnya, “Bukan sekadar impian, tapi wujudkan.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;AKu tahu akan kalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Tapi, aku akan terus bertaruh. Saat aku melihat dan saat itu ada kreatornya, aku ngomong, “kayaknya, poster ini akan menang. Dari segi konsep sebenarnya poster itu sederhana dan klise karena meniru sebuah souvenir. Tapi kalau kita melihatnya sebagai sebuah gambar maka akan tampak auranya: ia hidup. Meski menempati sebuah kahyangan. Dan inilah menurut aku letak kekuatannya. Ya, Cuma tempat kahyangan yang entah di mana, yang berarti juga sebuah sindiran jika dipadukan dengan tulisannya.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Gara-gara ucapan itu, aku bertaruh dengan sang kreator. Menurutku, gambar itu kemungkinan untuk menang sekitar 50% ke atas. Dan aku tahu prediksiku itu membabi buta tanpa melihat kompetitor yang lain. Sekadar &lt;i style=""&gt;feeling&lt;/i&gt;, tidak lebih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Taruhannya: kalau aku benar, yang berarti gambar itu menang, maka aku akan mendapatkan dua hadiah. Sedang kalau prediksiku keliru, yang berarti gambar itu kalah, maka aku akan mendapatkan satu hadiah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Sampai di sini, sepertinya aku berada pada posisi yang “pasti” akan mendapatkan hadiah atau “menang”. Tapi di sinilah letak kekalahanku. Aku kalah sebelum bertaruh, kalah telak. Bukan saja, nanti, gambar itu memang kalah, tapi aku kalah dalam hal yang “lain”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Rasionalisasinya begini, si kreator &lt;i style=""&gt;telah&lt;/i&gt; memenangkan sebuah tiket untuk temannya mengarungi Indonesia bagian timur di antaranya Sulawesi, Ternate-Tidore, Makassar dan bebrapa bagian lainnya. Aku? Kalah telak. Dan inilah letak kekalahanku yang paling dramatis-dilematis. Jadi, sebelum taruhan itu dimulai aku sudah kalah duluan. Dia lebih berjiwa besar dari pada aku, yang tentu saja pecundang dalam hal ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Kejadian ini mengingatkan aku pada sebuah “kisah untuk masa depan”. Saat itu, ibuku datang setelah sekian puluh tahun tidak bertemu. Aku masih duduk di bangku SMP dan semua anak sepertinya punya mimpi, cita-cita meski tidak semuanya aku dengar sendiri. Aku bingung mau menjadi apa dan belum ada profesi yang &lt;i style=""&gt;sreg&lt;/i&gt; dengan hatiku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Maka, aku bertanya pada ibu, “Ibu pengin aku menjadi apa?” “Terserah kamu,” jawab ibuku yakin, dan tentu dengan pertanyaan dan jawaban dalam bahasa Madura. Aku terpukul. Tidak mungkin (ke)hidup(an) tanpa cita-cita dan impian. Aku masih ragu atas keyakinannya, karena ibuku tidak bisa membaca Latin, Cuma Bahasa Arab. Tapi aku tahu setiap ibu punya cita-cita pada setiap anaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Aku bingung, padahal aku sudah memikirkannya lama sebelum aku bertanya pada ibu. Dan aku terus berpikir tentang dunia masa depan, dunia setelah saat itu (kecuali sekarang). Tentang cita-cita dan impian. Aku ragu dan bingun, maka aku terus terpikir dan berpikir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Akhirnya, aku tidak pernah bercita-cita untuk diriku sendiri. Tidak akan. Aku, sejak saat itu dan sejak aku mulai berpikir, tidak pernah bercita-cita untuk diriku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Aku berbelok dari cita-cita dan impian. Tapi aku tidak mau menjadi manusia kalah. Bukan tanpa &lt;i style=""&gt;apa&lt;/i&gt;pun. Aku mau menjadi manusia sederhana, tidak terlalu besar untuk sebuah mimpi. Aku sekadar mau &lt;i style=""&gt;mewujudkan&lt;/i&gt; mimpi, cita, keinginan mulia yang dimiliki oleh manusia, meski tidak semua manusia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;Dan temanku, si kreator, telah melakukannya dengan sempurnya. Aku kalah, entah berapa..Aku tidak bisa menghitungnya dan aku tidak tahu kapan aku akan menang…[]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 18pt;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;Surakarta, 3 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-242157773947961719?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/242157773947961719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=242157773947961719&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/242157773947961719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/242157773947961719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/aku-kalah-tak-terhitung-berapa.html' title='Aku Kalah, Tak Terhitung Berapa…'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3822742344124046524</id><published>2008-05-04T20:50:00.001+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.193+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Hahh…Fuad Hassan Meninggal?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SB2ytw6_xWI/AAAAAAAAACE/XKtX9rccgQ0/s1600-h/fuadhasan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SB2ytw6_xWI/AAAAAAAAACE/XKtX9rccgQ0/s320/fuadhasan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196506044351628642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size:54;"&gt;A&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ku sedikit banyak kaget membaca iklan keluarga Fuad Hassan di Harian &lt;i style=""&gt;KOMPAS &lt;/i&gt;(Sabtu, 3/5). Di harian itu disebutkan bahwa Fuad Hassan telah meninggal tanggal 7 Desember 2007 setelah dirawat di rumah sakit Cipto Mangonkusumo, Jakarta dan &lt;i style=""&gt;National University Hospital&lt;/i&gt;, Singapura. Haahhh? Benar, Beliau sudah meninggal dunia dan aku belum mendengar beritanya?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku mengenal nama Fuad Hassan saat berada di Sidoarjo. Pada waktu itu aku punya penyakit aneh: “mencuri” Koran pondok dan buku-buku yang entah siapa pemiliknya. Aku menemukan sebuah buku yang tertera seorang pengarang bernama Fuad Hassan. Kalau tidak salah judul buku itu “Mengenal Eksistensialisme”. Sebuah buku tentang filsafat eksistensialisme yang sedang (saat buku itu ditulis) menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan budayawan. Dalam buku itu juga disebutkan beberapa tokoh filosofis-pemikir eksistensialisme seperti Sarte dan beberapa pengikutnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku pada waktu itu belum banyak tahu tentang apa itu eksistensialisme. Maklum anak desa yang baru kenal dengan buku dan merasakan betapa buku itu mengandung sebuah sihir yang maha dahsyat: dunia berubah karena buku. Dan itulah yang terjadi pada diri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku merasa telah terlahir kembali, menjadi manusia baru setelah membaca buku yang begitu kuat ditulis oleh seorang yang penuh perjuangan dan pengabdian pada peradaban. Aku merasa bahwa setelah membaca buku yang bermutu sepertinya diri ini semakin sakti. Tangan menjadi semakin jauh jangkuannya. Kaki terasa melangkah ke negeri-negeri jauh yang tidak pernah ada di dunia ini, tapi ia benar-benar ada. Ia memberikan punggung ini sayap-sayap Jibril untuk terbang ke negeri hayali dan dunia pikir. Jauh, menantang, eksotik, penuh petualangan…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ya, terlahir kembali karena untuk mencipta sebuah buku bermutu tidak cukup kita Cuma seperti membuat seorang bayi mungil semalam bahkan beribu-ribu bayi dengan penuh birahi menggebu-gebu! Kita butuh referensi, waktu, uang, dan tentu saja semangat yang ditopang oleh otak jenius yang terasah bertahun-tahun…Dan aku merasa terlahir dari proses itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku merasa orang yang bisa membaca tapi &lt;i style=""&gt;emoh&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;membaca adalah semacam manusia buta tapi sebenarnya di punya dua mata fres yang bisa menikmati beraneka pemandangan, warna-warni alam, pikiran-pikiran manusia zaman dulu-sekarang,…Ya, dia manusia yang tidak mau membuka matanya kalau perlu untuk selamanya. Tidur dan mati sekaligus!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku merasa hidup beberapa tahun jauh lebih lama dengan mengarungi dunia yang penuh dengan pemikiran, pemandangan, kebudayaan, sejarah, keanehan ciptaan Tuhan…Bayangkan kita bisa membaca tulisan yang dikarang beberapa abad bahkan beberapa millenium yang lalu oleh orang yang paling jenius pada zamannya dan zaman kita sekarang! Semua dengan harga murah: membaca. Dan aku tidak perlu memperpanjang umur seratus millennium untuk membaca karya &lt;i style=""&gt;master piece&lt;/i&gt;-nya Plato, Aristoteles, Imam Bukhori, Newton, Imam Syafi’I, Ibnu Khaldun, dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku merasa itulah arti eksistensialisme. Penafsiran serampangan dari sebuah buku yang aku “curi” dan dikarang oleh Fuad Hassan. Aku yakin dia telah menjalankan pemikiran “eksistensialisme”, dengan penafsiranku tentunya, dan lebih eksis dari manusia yang tidak pernah membaca dan menulis!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Selamat tinggal Bapak Hassan. Aku merasa Indonesia telah kehilangan salah satu seorang pemikirnya. Aku menyesal karena jauh lebih sulit seribu juta kali melahirkan pemikir dari pada orang yang &lt;i style=""&gt;ogah&lt;/i&gt; mikir, seperti aku. Dan negeri dikenal berabad bahkan bermilenium karena para pemikirnya…[]&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 18pt;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 18pt;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;Surakarta, 3 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3822742344124046524?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3822742344124046524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3822742344124046524&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3822742344124046524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3822742344124046524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/hahhfuad-hassan-meninggal.html' title='Hahh…Fuad Hassan Meninggal?'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SB2ytw6_xWI/AAAAAAAAACE/XKtX9rccgQ0/s72-c/fuadhasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9039933275096302555</id><published>2008-05-04T20:43:00.000+08:00</published><updated>2008-05-04T20:50:38.275+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan: Cuuiiihhhh, Aku Benci!!!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 54pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;C&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;uiiihhh, Cuihhh, Cuiiihhhhhh, aku benci sekali. Benci. Coba deh, temen-temen baca Koran beberapa tahun ini (nggak Cuma beberapa hari ini) terutama menjelang Hari Pendidikan Nasional. Isi semua Koran, majalah dan beberapa siaran televisi dan beberapa situs berita internet tidak lain kecuali kekecewaan, umpatan, tangisan, komplain, dan entah apa lagi bahasanya. Semua negatif, menyedihkan dan sangat tragis-ironis karena itu terjadi pada dunia pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sekadar contoh, aku ambilkan beberpa judul tulisan berita feature dan opini yang dimuat Harian &lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt; sejak akhir April dan awal Mei 2008: “UN Harus Dihentikan,” “Sindrom Penghukuman,” (keduanya opini) “Peserta UN Kecewa, berita feature (&lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt;, 30/4). “Hari Pendidikan Nasional Robohnya “Sekolah” Kami, (berita feature), “Pendidikan yang Menyesatkan,” “Pendidikan Ademokratis,” “UN, Berhala Pendidikan Nasional,” (keduanya opini) “Hardiknas Diwarnai Unjuk Rasa, berita feature (&lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt;, 3/5). “Indonesia Butuh Guru Bangsa,” tulisan feature, dan “Sekolah Gartis, Pepesan Kosong” (&lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt;, 28/4). Itu Cuma satu Koran. Belum Koran yang lain, majalah, televise, dan berita di internet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku gamang dan buta: apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia orang-orang pinter, akademis, Doktor, dan Profesor ini. Aku tidak sampai habis pikir, sepertinya, mereka yang pinter-pinter itu suaaaangat BODOH sekali. Tak berkutik. Diam satu bahasa: Emoh! Menyerah-kalah (?).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Apa semua berita itu Cuma isapan jempol belaka, bukan fakta, bukan realita, bukan sebuah cemoohan, bukan sebentuk kegagalan…Benar, ada beberapa berita dunia pendidikan yang sempat membesarkan hati kita, seperti beberapa anak bangsa yang merah piala olimpiade fisika internasioan. Tapi terus terang harus, sekali lagi harus, diakui itu bukan hasil dari system pendidikan yang dipakai. Tapi dari sebuah pencarian bibit unggul dan pelatihan tersendiri, yang dilatih secara khusus. Bukan hasil dari system pendidikan kita. Bukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Setidaknya itulah kesimpulanku yang didapat dari beberapa buku, tulisan artikel opini dan beberapa laporan berita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jangan pernah bertanya: kapan kita bisa menciptakan peraih nobel fisika-ekonomi-kedokteran-dll,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peraih nobel perdamaian, peraih nobel sastra, penemu teori A, pencetus ide B,…? Sekali-kali JANGAN. Bukan maksud hati untuk &lt;i style=""&gt;HOPELESS&lt;/i&gt;, putus asa, ngggak ada harapan. Bukan. Tapi, coba kita pikir, selama ini kita berkutat dengan masalah dana, dana, dana, uang, uang, uang, kesejahteraa, kesejahteraan, kesejahteraan, inkompetensi guru-dosen, inkompetensi ini-itu, kekurangan peralatan, robohnya fasilitas C…Uh, stop, udah diperpanjang aja sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Menurut aku harus ada ide mendasar untuk membereskan dunia pendidikan. Katakanlah semacam “revolusi pendidikan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku heran kenapa ide atau teori revolusi lahir dari dan untuk (?) dunia sosial-politik. Menurut aku teori itu seharusnya terlahir dan teruntuk dunia pendidikan. Kita tahu, semua perubahan menuju yang baik tidak akan pernah berjalan dengan baik tanpa ilmu pengetahuan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Uuuhhh. Aku benci membaca opini dan berita dunia pendidikan kita. Cuuiiihhhh!!![]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 18pt;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 18pt;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;Surakarta, 3 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9039933275096302555?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9039933275096302555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9039933275096302555&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9039933275096302555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9039933275096302555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/05/pendidikan-cuuiiihhhh-aku-benci.html' title='Pendidikan: Cuuiiihhhh, Aku Benci!!!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7114027589349164958</id><published>2008-04-28T16:10:00.000+08:00</published><updated>2008-04-28T16:13:46.115+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Kota Budaya: Mencipta Budaya-budaya</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Membangun kota adalah obsesi besar &lt;span style=""&gt;komunitas&lt;/span&gt; manusia. Sejarah kota adalah bukti obsesi itu, dan belum selesai. Saat ini kita tengah memasuk sejarah kota metropolitan dan akan beranjak menuju kota megapolitan yang baru-baru ini sering kita dengar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Sekilas, membangun kota sebagai kota budaya tampak janggal dibandingkan dengan membangun kota metropolitan apalagi megapolitan. Lalu apa yang kita harapkan dari pembentukan Solo (untuk tidak mengatakan atau mengklaim, “sebagai”) kota budaya? Menjadi manusia berbudaya dan membangun tempat, kota, yang berbudaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kota budaya secara sederhana, saya kira, merupakan sebentuk wadah untuk proses penciptaan-penciptaan. Hal ini bisa dipahami, kalau kita memakai definisi kebudayaan yang pernah dipopulerkan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro: “&lt;i&gt;cipta, rasa, karsa&lt;/i&gt;.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Dalam definisi yang sangat padat-singkat ini, kita akan menemukan sebuah kausalitas (penyebab-ke-akibat) yang berujung pada penciptaan. &lt;i style=""&gt;Cipta&lt;/i&gt; adalah olah pikir dari manusia. Hal ini adalah usaha pertama yang akan dilalui oleh manuisa untuk mencipta. Sedang yang kedua adalah &lt;i style=""&gt;rasa&lt;/i&gt;, bentuk batinah dari hasil pemikiran yang termanisfestasi dalam bentuk sikap budaya. Dan pada ujung prosesnya adalah ketarampilan mencipta, &lt;i style=""&gt;karsa&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Disinilah, dari tiga bagian proses berbudaya, bentuk-bentuk budaya diproyeksikan dalam kehidupan sehari-hari dalam tiga hal: mantifek, sosifek, dan artefak. Mantifek adalah produk budaya yang berbentuk ide atau pemikiran yang masih abstrak. Sosifek adalah hasil dari pemikiran dalam bentuk perilaku, sikap budaya. Sedang artefak adalah produk konkrit berbudaya yang bisa berupa batik, wayang, gamelan, candi dan sebagainya. Pada yang terakhir ini berbudaya menjadi kegiatan yang konkrit, kasat mata, yang bisa dirasakan oleh seluruh komunitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Namun selama ini sering kali kita terjebak pada satu bentuk pengejawantahan berbudaya yang khusus pada seni saja. Maka yang berkembang dalam kehidupan komunitas kota kita cenderung berorientasi pada seni saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Kerancuan ini disebabkan oleh pendangkalan penghayatan kita terhadap budaya itu sendiri dan sikap berbudaya kita. Hal ini, barangkali, muncul dari istilah budaya itu sendiri yang dipersempit dalam arti bahwa, setiap sesuatu yang bernilai tinggi dan eksotik (&lt;i&gt;nyeni&lt;/i&gt;) maka dengan sendirinya kita menganggapnya sebagai budaya. Atau, bisa juga karena kegiatan berbudaya kita selama ini kebanyakan berbentuk seni saja tanpa melihat cakupan budaya itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Maka, disinilah tantangannya, saat kita memproyeksikan wadah komunitas kita sebagai kota budaya. Kota budaya secara harfiah tentu adalah sekadar wadah. Tidak lebih. Pada akhirnya, dengan sikap kebudayaan yang eksklusif (seni saja), kita akan terjebak pada hal-hal yang bersifat seni yang nampak antik dan eksotik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Kita menganggap kota budaya adalah sebentuk kota yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan kuno, peningggalan-penggalan kuno, barang-barang antik. Kita lupa bahwa kebudayaan itu harus dimulai dari pemikiran, membentuk sikap budaya, dan pada akhrinya adalah sebuah penciptaan budaya-budaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Proses berbudaya harus melalui tiga tahapan tersebut yang sekaligus mencipta produk-produk budaya pada tiap jenjangnya. Bahkan jika salah satunya tidak ada maka bisa dipastikan produk budaya yang tercipta sudah tidak berbudaya lagi. Kita akan terjebak pada budaya jiplak-menjiplak yang tidak kreatif-inovatif dan bahkan rendahan. Kalau hal ini terjadi maka kita sebenarnya telah beranjak dari fitrah kota yang berbudaya: mencipta budaya-budaya sebagaimana nenek moyang kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Kalau kita bisa menggunakan tiga kemampuan berbudaya tersebut, maka kita sangat laik untuk menyebut diri kita, komunitas kita, pada akhirnya kota kita, sebagai kota budaya. Disini kita akan menemukan berbagai aktivitas berbudaya yang terus menerus terjadi dalam ranah penciptaan-penciptaan. Kita akan menyaksikan tidak hanya Solo Batik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Carnival, Solo International Ethnic Music, dan sebagainya, kita bisa menyaksikan hik festival, parade seni wayang yang ditampilkan di jalan-jalan utama, kita bisa menyaksikan berbagai perhelatan budaya personal atau komunal yang lainnya. Dan hal ini jika dilakukan terus-menerus akan menjadi sikap berbudaya kita, tradisi berbudaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Kita tidak akan terus menerus mengandalkan sisa-sisa kejayaan nenek moyang kita pada dunia bahwa kita adalah komunitas (kota) berbudaya. Kita akan membuat budaya kita sendiri yang akan kita wariskan (&lt;i&gt;world heritage&lt;/i&gt;) pada dunia sebagaimana nenek moyang kita mewariskannya pada kita dan dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Yang perlu kita lakukan adalah menyelami keberbudayaan kita. Memulai dari &lt;i style=""&gt;cipta&lt;/i&gt;; &lt;i style=""&gt;cipta&lt;/i&gt; menghasilkan &lt;i style=""&gt;rasa&lt;/i&gt;; &lt;i style=""&gt;rasa&lt;/i&gt; pada akhirnya akan membuahkan &lt;i style=""&gt;karsa&lt;/i&gt;. Dan itu kita lakukan dalam kota ini yang akan menjadikannya kota budaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Tentu, semua ini harus sesuai dengan proporsi posisi kita masing-masing mulai dari pemerintah sampai ibu-ibu yang di pinggir desa.Terakhir saya ingin mengutip pemantik polemik kebudayaan, Sutan Takhir Alisjahbana:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Jangan tanggung, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jangan kepalang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Bercita mencipta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Bekerja memuja,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Berangan mengawan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Berperang berjuang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;"&gt;Solo, 25 April 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7114027589349164958?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7114027589349164958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7114027589349164958&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7114027589349164958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7114027589349164958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/kota-budaya-mencipta-budaya-budaya.html' title='Kota Budaya: Mencipta Budaya-budaya'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6863521750306539020</id><published>2008-04-21T09:25:00.000+08:00</published><updated>2008-04-21T09:41:21.433+08:00</updated><title type='text'>Fauzi: Siapa (Apalah) Dia Itu…</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Catatan Balasan Untuk Q.Q.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Terima kasih atas surat kepeduliannya)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;/1/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.5pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;al yang paling susah untuk aku tulis selama ini: Aku, Fauzi. Namun aku harus memberanikan diri untuk menggerakan syaraf-syaraf jari yang sudah seakan lumpuh untuk bergerak. Teman aku pernah bilang bahwa aku itu hampir punya pendapat untuk segala hal, kecuali satu: Fauzi, aku sendiri. Tentu, teman aku itu terlalu membesar-besarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku yang sekarang memang bukan aku yang dulu. Aku sudah bermetamorfosis menjadi “dia” yang jauh nan asing. Dia, karena aku harus juga mencarinya untuk memahaminya. Dan untuk itu aku harus bertanya. Apakah dia berada di antara sel-sel otaknya, dalam arti dia sudah menjadi manusia rasionalis? Dia sekarang agak lebih suka berpikir hampir hal-hal yang menurut orang filosofis-ontologis. Dia, sudah mulai menjelajah yang hal-hal di luar dunianya yang dulu yang sederhana dan mudah. “Mencoba untuk peka terhadap keadaan yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya, masyarakatnya, negaranya, dunianya,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Apakah dia berada di sel-sel hatinya yang mulai membeku, menjadi manusia perasa namun tidak bisa merasakan akan dirinya sendiri? Dia, dalam perjalannan yang sedang singgah di halte kehidupan kampus ini, sedang mencoba membangun Dunia Es yang sunyi dan dingin. Dia sudah mulai membeku sejak entah kapan. Tapi aku tidak tahu kapan musim kemarau ataupun musim semi akan menghampiri dia. Aku asing akan dia dan dunianya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dia, Fauzi, memang bukan Chairil yang lantang mendeklarasikan dirinya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;AKU&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;'Ku mau tak seorang ‘&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku memang tidak serta merta menjadi “aku” yang “sudah sampai waktuku”. Aku masih tersesat di antara menit-menit, dan detik-detik kehidupan yang sesaat ini. Aku sering kali bingung terhadap diri ini yang men-dia, yang lain lagi bukan aku. Aku sering berpikir aku sudah menjadi “binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya”. Betapa tidak, untuk menyapa teman-temanya saja dia begitu merasa asing terhadap mereka.tentu bukan karena teman-temannya yang berrubah tapi Karen aku telah menjadi seorang “dia” yang jauh dan asing. Dia pernah menceritakannya masalah ini pada beberapa teman, dan sayangnya hanya pada satu orang teman saja dari satu kelas kuliahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi sering kali, dan berkali-kali, dia begitu merindukan canda tawa teman-temannya. Dia merasa betapa susah hidup tanpa teman-temanya. Dunia memang terkadang terasa begitu luas, saat-saat dia berada di pingggir halaman-halaman buku. Dia seorang bibliofilisme—paling tidak itulah obesesinya, yang jika dosennya mengajarkan hal-hal yang menurut dia sebenarnya mudah saja dibaca di halaman-halaman buku dan tentu saja lebih lengkap, maka dia sering kali memboloskan diri untuk mencari yang “lain”. Tapi dia ingin sekali menjadi mahasiswa yang benar, sekali lagi dengan kata “maha”, dan benar-benar mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi, pernah suatu ketika dia terjebak di perpustakaan. Saat itu hujan deras dan dia sudah begitu lama memelototi halaman-halaman buku, dia ternyata merindukan teman juga. Padahal menurut sebuah petuah yang terdapat dalam sebuah buku dikatakan bahwa teman terbaik adalah buku. Karena jika seorang berteman dengan yang lainnya maka bisa jadi temannya itu lebih bodoh dari dia dan itu berbahaya; atau bisa jadi temannya itu lebih pintar tapi hal ini akan menghalanginya untuk lebih baik dan pintar karena orang itu akan terus berada di bawah baying-bayang pemikiran temannya itu, kalau dia tidak bisa memamnfaatkan temannya itu; dan bisa juga dia berteman namun si teman itu Cuma akan menjerumuskannya terhadap situasi yang tidak kondusif (maaf aku lupa kata-katanya yang tepat, seingat aku buku itu berjudul Humor, Petuah, Sufi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan sayangnya dia menghendaki seorang teman yang bisa membuat tertawa, menangis, resah, gelisah, gundah, tidak menentu, akan tafsiran-tafsiran dan pemikiran-pemikiran tentang makna, arti, perjuangan kehidupan bahkan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak mungkin dirasa. Dia menyebutnya sebagai seorang “Teman Sepembelajaran”. Dan dia tidak peduli apalah temannya seorang pengangguran, pengemis, si gila, hedonis…Anehnya belum ada orang yang mau memperkenalkan dirinya sebagai seorang teman sepembelajaran! Tidak juga dosen-doesnnya (dia pernah menulis tentang masalah ini). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ah, barang kali ini cara lain untuk memahami dan mengerti tentang apa itu teman, sahabat, kawan dan entah apa lagi bahasanya. Tapi sering dia merasa harus menjadi “peng-abadi” dari ekspresi persahabatan, terutama saat dia membawa kamera. Sering dia ditegur sama orang, “Kok fotonya teman-teman kamu semua! Mana foto mu?” Dia cuma bergumam bahwa suatu saat dia mungkin berkesempatan untuk menuliskan kenapa harus seperti itu (dan dia sudah menuliskannya dengan judul “Potret-potret Imajiner”. Agak jelek sih tulisannya. Maklum baru belajar menulis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;/2/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.5pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 55.5pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;D&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ia tidak sampai begitu tega untuk tidak menerima “rayuan” yang menghinggapi setiap sel otaknya, seperti yang dialamai oleh Chairil. Dan ini sering kali memosisikannya pada hal-hal yang paradoks: menerima rayuan dan menghujat rayuan kuliah. Inilah salah satu penyebab kenapa dia sering kali tidak masuk kuliah walau setiap hari ke kampus, dan sering terjerat di perpus, kakus, dan akhinya pupus di ujung penyesalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Dalam persepsi dia, orang tidak akan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pernah menjadi “pintar” (kalau harus memakain kata ini. Aku lebih suka kalau pintar diartikan sebagai pembelajar) kalau terlalu banyak kuliah dengan &lt;i style=""&gt;system&lt;/i&gt; yang diterapkan pada dia, sekali lagi system yang diterapkan pada dia. Dalam sejarah belajar dia, adalah suatu yang ironis sekali bahwa dia tidak bisa membaca sampai hendak menginjak kelas enam SD, untuk ikut ujian akhir nasionl. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Kejadian ini memberi warna trauma pada dia dan memberikan stimulasi untuk terus berpikir, ada apa dengan dirinya sampai sebegitu bodohnya. Pada akhirnya dia membuat suatu kesimpulan yang lumayan aneh untuk anak yang lulus SD: “Jangan pernah mengandalkan gurumu; sekali-kali jangan mengandalkan gurumu; cukup dihormati saja. Tidak pernah ada seorang penemu teori, penemu(an) ilmiah, yang disebabakan oleh pelajaran gurunya. Einstein menemukan teori E=MC2 tidak karena belajar pada seorang guru, atau diajari seorang guru. Tidak dia belajar sendiri. Inilah yang terjadi pada semua ilmuan di dunia ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Kesimpulan ini sempat membawanya menjadi orang yang sedikit lebih “pintar” dari beberapa orang temannya saat dia menginjak bangku SMP dan mondok di pesantren (pernah juga dia menjadi ‘santri teladan” gara-gara kegilaan belajar sampai lupa untuk tidur. Dia tidur Cuma tiga jam dan selebihnya kebanyakan untuk membaca dan berdiskusi). Lebih baik dari pada dirinya yang menjadi orang paling bodoh di antara teman-temannya waktu SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat berada di pondok, dia seakan menemukan tempat yang enak untuk menjadi orang “aneh”: orang memegang kunci perpustakaan, orang yang awal dalam memulai berdiskusi, orang yang paling awal menghafal rumus-rumus yang tertera dalam ratusan lembar halaman buku, orang yang terdepan dalam mencuri Koran dan buku-buku, entah punya siapa, untuk dibaca dan dikembalikan lagi, tanpa sepengetahuan pemiliknya…Dia menemukan tempat yang pas untuk mempraktikkan “kesimpulan-kesimpulan”-nya waktu SD. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Pada posisi ini, dia sudah tidak peduli lagi akan sebuah nilai angka-angka. Yang dia butuhkan adalah secuil ilmu yang matang dalam proses penalarannya sendiri. Jadi dia tidak begitu senang saat dinobatkan sebagai santri teladan, bahkan dia merasa tercemooh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada waktu itu ada sesuatu yang membuat dia merasa sungguh “Fauzi” (artinya, “beruntung; kemenangan”, dari bahasa Arab). Dia bisa menghitung seberapa bodoh dan seberapa pintar dirinya dibandingkan dengan dirinya yang lalu dan dibandingkan dengan teman-temannya. Dia bahkan, kalau pulang ke Madura, merasa punya &lt;i style=""&gt;sesuatu&lt;/i&gt; untuk dilaporkan pada almarhum ayahnya saat berziarah dan berdoa. Dia sering menangis lega dan bangga bahwa dia sudah mengerjakan perintah ayahnya yang tidak sempat dia ingat seperti apa rupanya. Ayahnya meninggal sebelum dia masuk &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; Kanak-kanak (TK). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Dia akan bercerita pada roh ayahnya bahwa dia sudah menghafal buku A, dia sudah menyelesaikan kitab B, dia sudah memahami masalah C…Dia senang karena sudah menjalankan perintah ayahnya yang dia ingat sampai sekarang, walau tidak dikatakan padanya secara langsung: “Semua anakku &lt;i style=""&gt;harus&lt;/i&gt; pernah mondok; yang &lt;i style=""&gt;penting&lt;/i&gt; kamu belajar, mengaji, dan ibadah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namun dia “dipaksa” keluar dari pondok setelah sekitar empat tahun. Kondisi pondok saat itu akan membuat dia tidak akan kondusif lagi. Cuma akan membuatnya membangkang pada situasi dan kondisi pondok dan pengampunya. Dia tidak begitu memahaminya dan entah kenapa dia juga mengikutinya. Setelah itu, pergi ke Solo. Di sini dia diberi dua pilihan: mondok lagi di Sarang Jawa Tengah, atau kuliah. Dia memutuskan untuk mencoba hal yang baru, kuliah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;/3/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.5pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 56.5pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;K&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ondisi di atas sedikit berbeda dengan yang dia hadapi di kampus. Pada awalanya dia mengira bahwa kondisi akademis kampus dan mahasiswa pastilah sesuatu yang sangat menarik seperti yang dia baca dalam beberapa literature, terutama karena kampus mengikuti system pendidikan sekuler Barat. Dalam tradisi pendidikan sekuler Barat, orang diajarkan untuk berperilaku skeptis, dinamis, yang penuh dengan kuriusitas akan ilmu pengetahuan. Dia ingat Rene Descartes, John Locke, Derrida...Sebenarnya hal ini sama dengan tradisi ilmiah Islam pada masa Harun Ar-Rosyid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Maka, dengan landasan tradisi Barat itu, adalah sebuah kewajaran bahkan keharusan untuk menciptakan sebuah forum-forum terbuka untuk saling bertukar pikiran bahkan saling mempertentangkan pikiran, ide-ide, yang dikemas dalam diskusi umum, polemics, protes pemikiran dan sebagainya. Mahasiswa dan dosen &lt;i style=""&gt;sama&lt;/i&gt; dalam mengajukan, mengiyakan, mendukung, menolak, memprotes sebuah pemikiran atau ide. Dan yang terjadi dalam kelas kuliah adalah sebuah pertukaran ide-ide, pemikiran, konsep-konsep, bahkan teori-teori. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Kenapa harus perdebatan, pertentangan, diskusi, protes dalam forum-forum terbuka? Jawabannya sederhana: tidak ada ilmu yang pasti, absolute benar seratus persen, bahkan matematika da fisika. Kita mungkin masih ingat film &lt;i style=""&gt;Beautiful Mind&lt;/i&gt; yang menceritakan seorang matematikawan, John Forbes Nash (diperankan oleh Russell Crowe). Yang menarik baginya adalah sebuah lingkungan akademis yang begitu sempurna untuk mengembangkan basis pemikiran dan mencari, meneliti, bahkan, ini yang penting, menolak pemikiran yang sudah berumur 150 tahun dan dianggap benar oleh hampir seluruh pemikir yang ada kala itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Kita mungkin juga masih ingat peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Dialah orang Banglades pertama dan di dunia yang meraih hadiah noble perdamaian yang bukan dari sebuah konflik fisik, namun sebuah konflik batin-akademis atas rakyat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bangladesh&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang miskin. Gumam dan protesnya: “pasti ada yang salah dengan apa saya pelajari dari buku-buku tentang teori-teori ekonomi....Aku harus belajar lagi pada para pengemis jalanan...” Inilah protes, bukan sekadar otokritik, yang dilakukan oleh seorang professor ekonomi lulusan Amerika. Dia tidak percaya dan protes atas dirinya dan memang dia berhasil belajar dari para kaum miskin perempuan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bangladesh&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan Bank Kaum Miskinnya (&lt;i style=""&gt;Grameen Bank&lt;/i&gt;). Gumammnya dalam buku yang mencerikana keberhasilan dan jerihpayah belajarnya, “Ilmu tentang Grameen Bank tidak pernah ada dalam buku-buku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Dalam kondisi akademis seperti itu, dosen bukan seorang penceramah-penghotbah yang setiap ucapannya pasti benar. Pada perkembangannya dia mulai melakukan hal-hal yang lain di luar kuliah reguler. Dia, yang pada awalnya merasa bosan dan ingin tertantang, akhirnya terjebak juga tagihan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Candu memang selalu enak dan manis pada awalnya. Namun, jika itu tidak dilakukan dengan baik, maka sebuah kecelakaan akan menimpa. Memang dia sadar akan resiko yang akan menderanya. Setiap pulang dari kampus (untuk tidak mengatakan kuliah) dia selalu ditagih oleh nurani otaknya, “ Apa yang telah kau dapatkan hari ini? Ilmu apa yang kau pelajari sepanjang waktu hari ini?” Ditanya dan ditanyakan, setiap hari. Jawaban memang tidak selalu ada. Namun yang paling menyedihkan dan menyiksanya adalah saat dia masuk kuliah namun tidak mendapatkan apa-apa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Terkadang dia kembali pada kesimpulan-kesimpulan waktu dia masih SD dulu. Dan pada akhirnya dia akan lebih senang kalau Cuma ke kampus dan ikut seminar, pergi ke perpsus…Ada penawar dari dera pertanyaan itu, terkadang. Namun, adakalanya dua-duanya memberikan angka nol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Pada ke sempatan lain, nurani batinnya sering kali menagih dan menginterogasinya, “Apa yang telah kau lakukan? Apakah kau mau menjadi makhluk yang tidak bertanggung jawab, terutama terhadap orang tuamu, orang yang membiayaimu—daftar disini bisa diperpanjang? Untuk pertanyaan yang menyangkut moral ini, dia &lt;i style=""&gt;selalu&lt;/i&gt; kalah dan tidak mempunyai jawaban yang tegas. Dia merasa kecil dan hina. Tidak ada apa-apanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Interogani ini akan mencapai puncaknya saat dia pulang ke Madura. Di depan sebuah batu nisan yang tanpa nama, tapi dia tahu itu adalah ayahnya yang penuh kasih, dia tidak bersuara. Tanpa punya argumen untuk membantah, mengiyakan, menyanggah dan entah apalagi, sebagaimana biasa dia lakukan terhadap pemikir dan terhadapa pendapatnya sendiri. Dia seakan kelu, bahkan tak berlidah. Diam. Hatinya bercucuran...Padahal, kau tahu, tidak ada seorang bersuarapun di sana. Sepi sunyi. Hanya sesekali beberapa angin bertiup menerpa beberapa dahan pohon dan kicauan burung-burung sedang bermain dan mencari makan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Beberapa waktu yang lalu (bulan Maret lalu), saat dia berada di atas batu nisan itu, dia cuam sesenggukan sendiri. Menangis lirih. Pedih. Hujan yang mengguyur dirinya seperti tidak pernah menyentuh kulitnya. Tidak terasa ada deras titik-titik putih menghujam sekujur tubuhnya. Dia kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Tapi, untuk beberapa waktu dia masih tetap dengan pilihannya itu. Dia sering merasakan pedih perih, namun tidak bisa dihilangkan dengan cukup berlari dan berlari dan berlari dan berlari…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;Berlari&lt;br /&gt;Hingga hilang pedih peri &lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Dia, secara fisik lebih jelek dan secara intelektual jauh lebih buruk lagi, jika dibandingkan dengan Chairil. Tapi dia hanya binatang jalang yang &lt;i style=""&gt;membuangkan&lt;/i&gt; dirinya entah ke mana. Dia mulai jauh dari teman-temannya sejak beberapa semester yang lalu. Aku tidak bisa mengikuti langkah kakinya. Aku sebenarnya sudah bosan dengan polahtingkahnya yang terlalu keakuan, egoistis-indivdualistis. Apakah telah sukses dengan gemilang pelajaran Barat tentang individualisme—bukan egoisme? Kalau aku sedikit menyimak perilakunya, sepertinya aku harus menjawab, “Iya.” Sudah ada beberapa kawannya yang mengatakan hal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Bahkan ada kabar atau lebih tepatnya pertanyaan: Apakah dia itu sudah berlainan keyakinan? Ini dari salah satu temannya yang sudah pernah membaca salah satu tulisannya tentang pluraritas, “&lt;i style=""&gt;Scripta Manent&lt;/i&gt;: Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan”. Tapi sebenarnya tulisan itu, menurut aku, tentang arti penting membaca dan menulis sebagai bagian dari ibadah tertua dan paling utama. Mungkin temannya itu terlalu focus pada kutipan &lt;i style=""&gt;lead&lt;/i&gt; yang mengambil perkataan filosof Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ‘ku temukan agamaku; tidak ada yang lebih penting dari pada buku; aku menganggap perpustakaan sebagai tempat ibadahku.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;/4/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 43.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 53pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;T&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;erakhir, aku ingin menjadi aku, bukan dia. Aku ingin lebih perduli pada dunia, Negara, guru-guruku (dosen), keluarga, teman-teman, paling tidak pada diri ini. Aku memang belum sependapat dengan Chairil:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;Chairil, Maret 1943&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku tidak mau hidup seribu tahun lagi. Aku hendak menjadi arti. Aku masih sering bermimpi, dan masih punya satu mimpi. Tidak terlalu besar untuk sebuah mimpi. Namun sebentuk getaran yang terus menderasi kehausan jiwa ini. Ia membuat bulu kudukku bendiri. Aku merinding entah kenapa. Aku merinding setiap melihat anak kecil menangis, aku merinding setiap kali seorang ilmuan disebut, aku merindng setiap kali melihat orang yang penuh dengan semangat…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku masih yakin tentang mimpi itu…Walau diri ini…Mari berdoa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Surakarta, 12 April 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Derai lagu Ebit G. Ade terus menemani aku saat menulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dan entah kenapa terakhir aku menulis angka 8 untuk 2008, pukul 17.00 WIB, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ebit mengalunkan sebuah lagu pilu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Palatino Linotype&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“Berita Kepada Kawan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6863521750306539020?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6863521750306539020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6863521750306539020&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6863521750306539020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6863521750306539020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/fauzi-siapa-apalah-dia-itu.html' title='Fauzi: Siapa (Apalah) Dia Itu…'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-3803036912059777642</id><published>2008-04-21T08:36:00.004+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.433+08:00</updated><title type='text'>Malena: Cantik Itu Derita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;Wajah ranum yang merahasiakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt; &lt;b&gt;derita&lt;/b&gt; dunia;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;leher langsat yang menyimpan &lt;b&gt;jeritan&lt;/b&gt;;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;dada segar yang mengentalkan darah dan &lt;b&gt;jeritan&lt;/b&gt;;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;dan lubang sunyi, di bawah pusar,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;yang dirimbuni rumput &lt;b&gt;berduri&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;—&lt;b&gt;Joko Pinurbo&lt;/b&gt;, “Gadis Malam Di Temb&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;ok Kota.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Hei, cewek-cewek, gadis-gadis, perempuan-perempuan, wanita-wanita, apakah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Anda semua sungguh ingin cantik, menjadi cantik, hendak cantik, bahkan tercipta cantik? Uh…pertanyaan super bodoh, dan juga jaw&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;abannya hiper bodoh jika ada di antara Anda semua mengatakan, “TIDAK.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Bukti? Ah kayak tidak pernah menonton iklan-iklan saja: betapa banyak produk kecantikan di bumi ini yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; memakai wanita-gadis-cewek-perempuan cantik. Dan betapa menjamurnya salon-salon kecantikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;beberapa dekade ini. Betapa banyak majalah, tabloid, koran, televisi, internet mempropagandakan isu-isu kecantikan. Dan di san&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;a-sini kita dibombardir dengan &lt;i&gt;billboard&lt;/i&gt; iklan (ke)cantik(an) nun menawan &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; menggiurkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Merasa, ingin, hendak, d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;an butuh cantik itu universal —sama universalnya dengan tampan, barangkali (belum?). Meski, orang-orang terus saja memperdebatkannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;sepanjang hanyat, apa itu cantik, apa kriterianya. Banyak perbedaan di sana-sini—bukan hanya kriteria cantik itu sendiri. Tapi fakta universalitas ingin merasa,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; hendak, dan butuh cantik tidak terbantahkan. Bukankah Anda termasuk pengguna salah satu produk kecantikan? Sudah, jangan bohong terhadap diri send&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;iri!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Ironisnya, ada fakta universal yang tidak terbantahkan juga tentang (ke)cantik(an): &lt;b&gt;cantik itu derita&lt;/b&gt;. Kesimpulan ini tergam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;bar jelas dalam film Malena. Sebuah film epik besutan sutradara &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:10;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Giuseppe_Tornatore" title="Giuseppe Tornatore"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Giuseppe Tornatore&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; tentang kekerasan atas dalih “cantik”, setidaknya itulah kesi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;mpulan subjektif aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Adalah Malena Scordia (Monica Bellucci) si cantik yang ber&lt;i&gt;derita &lt;/i&gt;itu dan sekaligus sasaran dari kelukaan yan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;g &lt;i&gt;diderita&lt;/i&gt; oleh orang lain. Seorang perempuan paling cantik di kota Calkutta, Italia, yang ditinggal pergi oleh suaminya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:10;"&gt;Nino Scordia, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seorang jenderal yang berperang di Afrika—&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;film ini mengambil seting perang dunia ke-2 saat Italia dengan kekuasaan Fasis mulai memasuki perang dunia dan Jerman menduduki Itali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Maka jadilah dia seorang perempuan yang berada di sarang penyamun. Semua orang siap-sedia menerkamnya hidup-hidup, tidak terkecuali perempuan da&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;n bahkan anak laki-laki. Kita mulai dari kekerasan yang dilakukan oleh anak laki-laki enam bersahabat. Dan yang paling unik d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ari enam orang ini adalah Renato. Dia adalah seorang &lt;i&gt;secret admirer&lt;/i&gt; terberat Malena di antara teman-temannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Dimulia dari keinginannya untuk menjadi anggota “Geng L&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;elaki Dewasa” di antara temannya yang masih berumur 12 tahunan. Dia sendiri sudah berumur 12 tahun saat dia mempunyai sepeda, sebuah persyaratan untuk bisa dit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;erima di “Geng Lelaki Dewasa”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Mereka setiap hari menunggu mangsa mereka yang sangat masyhur di seantero&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; Calkuta sebagai wanita berbokonng paling seksi. Renato terhipnotis oleh bokongnya, oleh buah dadanya, oleh garis wajah yang siap ia terkam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Tentu dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan hasratnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;itu. Dan untuk itu segala imajinasinya mulai menjadi liar untuk disalurkan dan pada akhirnya dia sampai pada kekerasan imajiner terhadap perempuan yang han&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ya tinggal sendiri itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Dia sangat mencitai Malena, tentunya. Tapi di balik cinta itu ada sesuatu yang sangat liar dalam hasrat-hasrat yang membuncah. Maka terja&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;dilah setiap adegan kekerasan imajiner yang dilakukan oleh seorang anak berumur 12 tahun. Mulai dari kekerasan pembunuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;an atas nama cantik terhadap temannya di arena Coluseum. Dia membayangkan dirinyasebagai &lt;i style=""&gt;gladiator &lt;/i&gt;yang menang dan menungg&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;u perintah untuk membunuh temannya. bahkan dia bertengkar dengan temannya karena temannya mengijek Malena.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Dia melakukan semua yan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;g perlu dan harus dilukakan oleh tuntutan hasrat-hasrat cinta terhadap yang cantik: dia menyetubuhi Malena, mencumbui bibir Malena yang tipis sensu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;al, dia meraba-raba buah dada Malena tanpa ampun dalam buaian manis tangan anak berumur 12, dia memakai celana dalam Malena sebagai topi agar dia bisa tidur nyenyak, dan sebagainya. Semuanya terjadi dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; alam imajiner yang dia ciptakan dengan sempurnya di atas ranjang reot berderit-derit saat dia melakukan “aksi” yang sebenarnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;dengan bantuan “tangan-tangan hasrat”. Sampai dia harus membubuhi oli pada bagian pegas-pegas ranjang tuany&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;a karena mengganggu orang tidur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAviSEHTXWI/AAAAAAAAAB0/Xkw_UUrAQTk/s1600-h/malena01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAviSEHTXWI/AAAAAAAAAB0/Xkw_UUrAQTk/s320/malena01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191491795444522338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Pada akhirnya dunia imajiner tidak cukup baginya. D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ia sakit, terobsesi akan percintaan yang nyata. Ibunya menduga dia dirasuki setan. Dia memanggil pendeta untuk menyembuhkan. Gagal. Ayahnya yang t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ahu dia terobsesi akan percintaan yang nyata membawanya ke pusat lokalisasi. Dia sembuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Kekerasan yang berikutnya tentu saja dilakukan oleh semua lelaki Calkuta, kecuali ayahnya sendiri. Ayahnya adalah seorang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; professor tapi mengajar anak-anak SD, termasuk gengnya Renato. Di kelas, setiap murid secara teran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;g-terangan memohon ijin untuk memperkosa anaknya, Malena. Untung, si ayah tuli sehingga dia mengiyakan setiap permohonan murid-muridnya, yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;dia sangka mau ke kamar mandi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Hal ini jelas berbeda dengan cara-cara yang dilakukan oleh para lelaki. Tapi, aku mendug&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;a semua lelaki pernah melakukan kekerasan imajiner terhadap Malena sebagaimana Ren&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ato. Si sutradara Tornatore menggunakan Renato bocah berumur 12 tahun cuma untuk menggambarka&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;n satu hal: kalau anak sekecil Reanto sampai sebegitu parahnya apalagi seorang dewasa!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Gambaran hal ini bisa k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ita lihat pada saat Malena memotong rambutnya dan mencat merah tua menyala d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;engan gelombang-gelombang. Dia melangkah menyusuri pelataran kota Calkuta dengan rok p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;endek dan tas dikepit di pinggang. Semua mata mahklu hidup saat itu menatap tajam padanya. Setiap langkahnya seakan sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;busur yang menyerbu seluruh penduduk kota untuk menjadikan mereka mati dengan mata terbuka dan mulut menganga. Semuanya, termasuk anak-anak dan &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAvlUkHTXXI/AAAAAAAAAB8/99GZLNcG_7w/s1600-h/malena.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAvlUkHTXXI/AAAAAAAAAB8/99GZLNcG_7w/s320/malena.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191495136929078642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;ibu yang cemburu karena suaminya molotot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Sampai di tengah kerumuan penduduk Calkuta, dia menduduki sebidang kursi dan mengeluarkan sebatang rokok lalu ditempelkan pada bibir merah merekahnya. Sejurus kemudian puluhan tangan sudah berada di depan bibirnya dengan berbagai model dan merek korek api yang menyala-nyala. Korek-korek itu menunggu penghargaan dan kehormatan dari premepuan idaman seluruh laki-laki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Anehnya, Malena tidak melihat kepada siapapun. Dia cuma melirik ke kiri dengan ekspresi dingin. Entah siapa yang mendapatkan kehornmatannya. Aku merasakan dia seakan-akan berkata: “akulah perempuan yang kalian semua tunggu-tunggu untuk menjadi tumbal dari hasrat-hasrat kelelakian kalian. Aku adalah seonggok tumbal di atas altar yang siap kalian korbankan demi keserakahan hasrat percintaan. Silahkan puaskan nafsu-nafsu setan kalian terhadap perempuan. Akulah tumbal. Aku tahu itu. Oleh karena itu aku tidak perlu mengatakan apapun. Tidak perlu kalian tahu bahwa aku menderita.” Korek api itu seakan menandakan nafsu yang sedang menyala-nyala panas siap membakar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Malena diam tanpa suara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Dia dipaksa menjadi PSK oleh seorang pengacara yang telah memenangkan perkaranya dan juga oleh seorang jendral Jerman yang dengan kelicikannya Cuma memberikan makan pokok atas pemerkosaannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Dan Malena hanya diam. Kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Kita tahu, sepanjang &lt;i&gt;scene&lt;/i&gt; Malena hampir tidak pernah berbicara. Tapi seluruh ekspresi mukanya seakan mengatakan semuanya: aku adalah derita. Semakin aku mengatakan bahwa aku menderita maka hal itu akan tambah melukai. Bahkan setelah dia bertemu kembali dengan suaminya, ekspresi Malena tetap sebentuk ekspresi derita perempuan cantik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Yang lebih tragis lagi adalah saat tentara Jerman hengkang dari Calkuta karena kalah perang. Pada saat itu ibu-ibu yang tidak pernah mendapat kesempatan mengkerasi Malena sontak mendadak beringas. Mereka mempreteli Malena dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu mengusir Malena dari rumahnya. Dia pergi dengan pakian yang tercabik-cabik oleh gunting dan cakaran keji tangan-tangan perempuan dan ibu-ibu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Barang kali benar kalau Eka Kurniawan mengatakan “cantik itu luka.” Dan setiap luka adalah derita. Jadi cantik adalah derita. []&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;img src="file:///C:/Documents%20and%20Settings/max-c/My%20Documents/TITIP%20DATA%20DISINI%20YA/MB/malena.jpg" alt="" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-3803036912059777642?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/3803036912059777642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=3803036912059777642&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3803036912059777642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/3803036912059777642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/malena-cantik-itu-derita.html' title='Malena: Cantik Itu Derita'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAviSEHTXWI/AAAAAAAAAB0/Xkw_UUrAQTk/s72-c/malena01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8802534836607226237</id><published>2008-04-13T13:34:00.001+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.531+08:00</updated><title type='text'>Maaf, Mahasiswa Malas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAGeOsmgIaI/AAAAAAAAABc/njw2Sg1PnQ8/s1600-h/lazy-cat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAGeOsmgIaI/AAAAAAAAABc/njw2Sg1PnQ8/s320/lazy-cat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188602221035528610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0in;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 40.25pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 55pt;"&gt;P&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;erasaan. Aku mau bercerita tentang perasaan yang mengganjal &lt;i style=""&gt;dalam&lt;/i&gt; dalam setiap pembacaanku akan beberapa buku yang menceritakan tentang wajah budaya belajar. Dan ini Cuma sekadar catatan seorang yang paling malas di dunia. Catatan Malas Seorang Mahasiswa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam beberapa buku dikatakan bahwa hampir setiap mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri merasakan &lt;i style=""&gt;shocked culture&lt;/i&gt; yang mengguncang tapi terasa begitu enak, lezat, membuncah, melumat. Aku ingin menamakannya sebagai &lt;i style=""&gt;shocked culture of study&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku baru saja membaca buku Edensor, fiksi+fakta barangkali. Dalam salah satu bagian disebutkan bahwa ada beberapa tipikal mahasiswa yang sangat kental terkait dengan budaya belajar yang sudah menjiwai mereka karena system budaya belajar yang mereka gunakan. Diceritakan bahwa mahasiswa dari Inggris, sering dipanggir The Brits, memilki tipikal belajar yang suka berdebat, dari Amerika suka berdebat juga namun penuh dengan provokasi dan pada akhirnya mereka akan mencari alibi atau berkoalisi untuk mendukung pendirian mereka. Tipikal belajar mahasiswa dari Jerman adalah seorang mahaiswa yang sistematis, metodis dan &lt;i style=""&gt;well prepared&lt;/i&gt;. Sedang dari Belanda, mereka tipikal mahasiswa yang pendiam, namun analitis handal. Dari cina digambarkan sebagai seorang akuntan yang akurat dan komunal. Dari Indoensia? Rasakan sendiri, bayangkan sendirilah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Atau baca saja kesimpulan Andrea Hirata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Yang mengusik saraf-saraf kejengkelanku adalah kenapa mereka bisa memiliki tipikal yang demikan? Apa yang salah dengan system budaya pembelajaran kita? Ya, ini bukan pertanyaan yang logis, barangkali. Ini pertanyaan konyol yang emotif yang tidak akan pernah ditanyaakn oleh para pendidik kita, oleh para guru TK, para guru SD, oleh para guru SMP, oleh para guru SMA, bahkan oleh para guru (dosen) di pereguruan tinggi S1, S2, S3, lebih gawatnya lagi oleh para birokrat yang berjejer di DIKTI! Bodoh sekali diri ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ya, bodoh karena itu Cuma ada dalam buku-buku fiksi yang sangat mungkin sekali dimanipulasi. Tapi anehnya, setiap guru yang pernah belajar di luar negeri dan sedikit mempelajari bagaimana mereka bisa mengalami &lt;i style=""&gt;shocked culture of study, &lt;/i&gt;sepertinya ini bukan perkara fiktif. Dan saat mereka menulis tentang system budaya pembelajaran kita, aku merasakan, sekali lagi merasakan, ada nada getir yang penuh kuatir: kita bangsa malas belajar. Itulah kesimpulan mereka, tentu dengan diksiku yang barang kali sedikit berlebihan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tapi anehnya, seorang Ignas Kleden pada tahun 1988 pernah menuliskan (baca buku yang sudah klasik namun asyik&lt;span style=""&gt; &lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;. Diterbitkan oleh &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;LP3ES. Hlm. xlv) rasa malunya saat ditanya oleh temannya yang seorang professor Jerman, kenapa di Indonesia tidak ada budaya berdebat, diskusi, dan polemik? Dia menjawab bukan pada professor itu tapi pada seluruh jajaran intelektaul Indonesia bahwa kita masih berbudaya ngobrol &lt;i style=""&gt;ngalor ngidul&lt;/i&gt; doang!!! Sangat parahnya lagi, ini berlaku sampai sekarang! Sudah berapa tahun samapai sekarang? Kita ngapain aja selama ini? Huhhh, barang kali aku yang sangat bodoh yang tidak mengikuti perkembangan terkini (?).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dan sangat anehnya lagi, Penerbit Kanisius menerbitkan buku dengan judul yang sangat provokatif, miris, liris, emotif, penuh dengki (?), dan tentu bukan berdasarkan prasangka: “Pendidikan: Hanya Melahirkan Air Mata”. Buku itu adalah kumpulan tulisan para orang peduli pendidikan yang diselenggarakan oleh &lt;i style=""&gt;KOMPAS&lt;/i&gt; dalam sebuah seminar refklesi pendidiakan kita. Dan dieditori oleh Sindhunata. Kebetulannya, hampir semua penulisnya pernah belajar keluar negeri! Aku sungguh malu saat mau membaca buku dengan judul yang sangat-sangat…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Seandainya aku diperbolehkan memberikan sedikit makalah aneh dalam seminar yang bergengsi itu maka aku akan memberikan judul makalah singkatku: Maaf, Mahasiswa Malas. Aku tidak akan memberikan sebuah makalah ilmiah yang analitis, penuh data-data kebobrokan system budaya pendidiakn Indoensia. Aku hanya mau bercerita tentang mahkluk aneh dari luar angkasa yang masih bayi dan seumur hidupnya tetap mau mengukuhkan diri menjadi bayi. &lt;i style=""&gt;Forever baby&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Saat masuk sekolah puaaaling dasar, TK, katakanlah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;begitu, dia sudah &lt;i style=""&gt;didulang &lt;/i&gt;oleh seorang ibu yang sangat &lt;i style=""&gt;welas asih&lt;/i&gt;. Dia sering kali masih nangis-nangis &lt;i style=""&gt;plus&lt;/i&gt; masih penuh ingus bergentayangan di sudut-sudut mukanya yang lugu. Ini berlanjut sampai lulus. Masuk SD, dengan sedikit kenakalan yang mulai menyusahkan, dia tetap disuapi dengan baik. Saat SMP dan SMA keadaan tidak jauh berbeda. Mereka disuapi dengan penuh perhatian meski mereka, waktu disuapi, sedang asik mengggunakan HP baru yang sedang gandrung-gandrungnya. Tangan kanan mereka sedang asyik menekan tombol-tombol angka-angka dan huruf-huruf saat sedang disuapi. Mereka masih duduk dengan tegap. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Keadaan ini mulai berlanjut pada waktu mereka berada dibangku kuliah. Bahkan lebih parah. Mereka dengan posisi duduk yang lebih santai, selain menekan tombol huruf mau ngirim sms ke pacar, sedang membuka friendster, email,…Sedang dosennya pada ngomong tanpa henti tidak perduli mau didengar atau tidak. Tapi mereka senang sekali karena masih saja disuapi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku jadi ingat sebuah cerita tentang seorang ibu yang mengajarkan anaknya cara makan. Pada waktu masih bayi, dia menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Waktu anaknya memasuki usia anak-anak, dia mulai menyuapinya makan yang agak susah dikunyah. Pada saat remaja, dia Cuma memberikannya nasi lengkap dengan sayurannya. Si anak disuruh makan sendiri. Dia juga mengajaknya pergi ke sawah dan kebun yang mereka miliki untuk sedikit membantunya. Pada waktu dewasa, si anak disuruh menanam sendiri segalanya untuk apapun yang dia inginkan tidak cuma makan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Aku jadi ingat Andrea Hirata, dalam Edensor, yang menceritakan &lt;i style=""&gt;supervisor&lt;/i&gt;nya Professor Turnbull yang sangat &lt;i style=""&gt;emoh&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan marah mengurusi hal-hal dasar dari riset yang dilakukan oleh Si Ikal. Aku merasakan adanya &lt;i style=""&gt;shocked culture of study &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;pada si Ikal. Kasihan sekali dia karena sudah dibesarkan dalam budaya yang… Tapi untungnya dia bukan MAHAsiswa yang malas. Meski terseok-seok dan terbirit-birit mengejar teman-temannya, dia berhasil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Aku jadi miris: ternyata aku malasan. Tapi aku ingin merasakan &lt;i style=""&gt;shock culture of study&lt;/i&gt;. Kamu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;©M. Fauzi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8802534836607226237?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8802534836607226237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8802534836607226237&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8802534836607226237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8802534836607226237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/maaf-mahasiswa-malas.html' title='Maaf, Mahasiswa Malas'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SAGeOsmgIaI/AAAAAAAAABc/njw2Sg1PnQ8/s72-c/lazy-cat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-7346642059748815684</id><published>2008-04-03T21:42:00.006+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.677+08:00</updated><title type='text'>Email “Fitri” Di Pagi Hari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_Tj9aS2TnI/AAAAAAAAABU/HmCPCvo-ndM/s1600-h/etheh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_Tj9aS2TnI/AAAAAAAAABU/HmCPCvo-ndM/s320/etheh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185019715180187250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari ini adalah pagi yang entah keberapa. Aku pasti lupa. Pagi yang masih mengijinkan aku untuk menghirup udaranya, mendengarkan kicau burung. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan saat ini aku membuka sebuah kamus, &lt;i style=""&gt;Oxford Pocket Dictionary&lt;/i&gt;, aku mendapatkan sebuah&lt;i style=""&gt; email address&lt;/i&gt;. Lalu, entah kenapa juga, kebetulan sekali, aku sedang membuka &lt;i style=""&gt;email&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;So, aku mencoba menulis, entah apa. Kalau seandainya dirumuskan: Fitri, sebagai sebuah nama temanku di ujung sana, Madura, yang sering belajar bersamaku dulu kala (apa kabarmu?), dan Fitri, sebagai pengertian atau definisi, dan diartikan "kembali."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di pinggirku tergolek sebuah buku sastra berjudul “Matikan Radionya”. Saat ini aku ingin membaca sebuah puisi, lebih tepatnya mungkin menyelaminya. "Surat Cinta" judulnya, yang digubah oleh sastrawan kontemporer Indonesia, tinggal di Magelang dan menjadi direktur yayasan IndonesiaTera, Dorothea Rosa herliany. Puisi itu adalah:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Surat Cinta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;kupustuskan sesobek pengkhianatan yang cantik,&lt;br /&gt;saat aku mesti tinggal untuk sebuah nafsu.&lt;br /&gt;dengar dengusnya, seperti ombak yang keras&lt;br /&gt;menghantam kekokohan, tapi halus bagai kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah kunikmati. kubasuh untuk kegelisahan&lt;br /&gt;dan kesangsian atas cinta. Tapi kesadaran&lt;br /&gt;kadang lebih buruk, tapi suci. Sebab atas nama ia&lt;br /&gt;kulihat alangkah sombongnya kekecewaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurutku, puisi itu cukup bagus dan menyentuh realitas kekinian. Realitas yang ada adalah begini: (1) Orang rela menjadi tidak perawan atau duda cinta (dalam hatinya). Bisa dengan menggunakan kata-kata &lt;i style=""&gt;playboy-playgirl&lt;/i&gt;. Masalahnya adalah hal ini urusan hati. Hati yang sudah tidak 'perawan-perjaka' lagi. Dan itu tidak ada konsekuensi sosialnya. Tidak seperti (2) janda-duda karena pemutusan hubungan suami-istri. Bisa menjadi gossip murahan kecuali yang janda-duda adalah para artis. Lumayan banyak orang yang akan menontonnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Secara lebih tegas lagi: Sebuah penghianatan. Ini kalau melihat dan mengasumsikan "cinta itu suci". Tapi kalau tidak ya, terserah. Siapapun boleh berbicara dan boleh tidak perawan-perjaka secara hati. Mungkin tidak bakal ketahuan kecuali oleh mantan-mantannya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam kasus pertama yang menarik adalah, di sana orang berani melakukan hal ini: EKSPERIMEN HATI. Hati mereka siap dijadikan “kelinci percobaan” sebuah perasaan CINTA. Dan akibatnya adalah ketidakperawanan-keperjakaan hati. Apakah hati kita sudah tidak perawan-perjaka lagi? kemungkinan besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 22.5pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apakah cinta itu sebuah "fitri" yang di sana ada lorong-lorong, meski kecil, untuk aku kembali menemukan diri ini? Atau, di sana, mengutip puisi itu, cuma ada "kesangsian" yang harus dimurnikan dan dicari sarinya dan pada akhirnya berbuah "kekecewaan" yang sombong atau tidak pantas dan tidak pada tempatnya? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Entahlah, “&lt;i style=""&gt;only heaven knows”,&lt;/i&gt; hanya Tuhan yang tahu kata, Brian Adam. Tuhan, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maukah engkau memberi tahuku? Ahh, aku masih ragu Engkau akan memberi tahu makhluk “sesat”-mu ini, “sesat” dalam dunia Ar-Rohman, dunia Ar-Rohim Mu. Semoga mendapat &lt;i style=""&gt;Enlightenment&lt;/i&gt;-Mu. Amin. Aku rela menemukan kesadaran yang lebih buruk, namun aku berharap itu suci.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tulisanku ngawur, ya? Padahal aku bangun jam 5 pagi, lalu sholat, terus menghadapi komputer dengan jaringan internet nonstop-gratis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sorri, kalau mengganggu, apalagi &lt;i style=""&gt;ngebe'-ngebei&lt;/i&gt; emailmu. Tapi mau tanya: Bagaimana penafsiranmu terhadap puisi di atas?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 22.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salam dingin dari tempat pertemuan manusia modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 22.5pt;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;[email untuk teman aku]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-7346642059748815684?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/7346642059748815684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=7346642059748815684&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7346642059748815684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/7346642059748815684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/email-fitri-di-pagi-hari.html' title='Email “Fitri” Di Pagi Hari'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_Tj9aS2TnI/AAAAAAAAABU/HmCPCvo-ndM/s72-c/etheh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-1987548848911354150</id><published>2008-04-03T20:47:00.001+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.880+08:00</updated><title type='text'>Wow, Temanku Berpotongan Mohak!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_TVq6S2TlI/AAAAAAAAABE/mn0aCv-cLmM/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_TVq6S2TlI/AAAAAAAAABE/mn0aCv-cLmM/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185004004189818450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Entah mau dibilang aku yang sedang nyelenih-nyelenihnya atau memang dunia sekitar aku saat itu sedang nyelenih. Waktu aku di Madura (19/08) aku ketemu teman SMP aku di desa. SMP ini adalah sekolah tertinggi negeri di desaku, yang pertama dan satu-satunya. Waktu aku masuk, tahun 1998/1999 (lupa?) adalah edisi perdana sekolah ini dibuka (betapa miskinnya desaku!!!). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Aku adalah salah satu murid pertama dan mungkin karena itu aku terus mendapat “beasiswa” —beasiswa ini mungkin Cuma sekadar promosi produk baru— sampai aku “dipaksa” keluar pada waktu aku di bangku kelas dua. Namun, aku adalah orang kedua pertama yang tidak lulus setelah teman sekelas aku (seorang cewek yang beralih haluan ke pondok di Bangkalan). Lalu setelah itu aku tidak pernah lagi duduk di bangku sekolah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Kembali ke pembahasan teman aku. Nama pendeknya Muslih (nama yang agamis yang berarti “orang yang berbudi baik”), dengan tinggi badan kira-kira 140-an (sedikit pendek untuk ukuran orang Indonesia biasa). Aku cuma bisa “wow” melihat dandanan rambutnya yang kayak jambul ayam jago:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gumpalan tajam ke atas yang berwarna merah hati menyala. Ada apa dengan kepalanya sehingga rambutnya harus ter-&lt;i style=""&gt;punk&lt;/i&gt;-an?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Perlawanankah? Tapi kepada apa dan siapa? Kita tahu &lt;i style=""&gt;punk&lt;/i&gt; lahir di London pada tahun 80-an sebagai subkultur yang dipaksa (memaksakan diri, lebih tepatnya) menghidupkan keterasingan, memerankan potret-potret imajiner, bahkan protes terhadap kemapanan masyarakat modern Inggris kala itu yang serba tertib. Apakah teman dari desaku menemukan seorang atau masyarakat sebagai musuhnya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Jawabanya memang tidak gampang. Namun jika kita pakai “ilmu biasanya” maka ini sedikit melenceng dari “meanstream” &lt;i style=""&gt;punk&lt;/i&gt; sendiri. &lt;i style=""&gt;Punk&lt;/i&gt;, sejauh pengetahuan aku, adalah subkulktur yang tumbuh subur di masyarakat perkotaan yang maju, katakanlah di Malang, Surabaya, Yogya, Bandung, Semarang, dan Jakarta, yang ditujukan sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya hidup &lt;i style=""&gt;mainstream&lt;/i&gt;, arus utama. Tapi teman aku yang dari sudut desa, apa iya dia sudah harus membentuk budaya tandingan? Terhadap apa dan siapa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Aku yakin temanku tidak suka sama Kangen Band, tapi apakah itu sebentuk ekspresi pemberontakan yang kental dengan potongan mohak? Aku juga sedikit yakin bahwa teman aku tidak banyak tahu tentang band-band punk luar negeri seperti Limb Bizkit atau yang lainnya. Apakah temanku sudah terkontaminasi dengan budaya &lt;i style=""&gt;punk&lt;/i&gt;? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 0);"&gt;Sepertinya kau harus lebih bnyak belajar tentang budaya pop(uler).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-1987548848911354150?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/1987548848911354150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=1987548848911354150&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1987548848911354150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/1987548848911354150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/04/wow-temanku-berpotongan-mohak.html' title='Wow, Temanku Berpotongan Mohak!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R_TVq6S2TlI/AAAAAAAAABE/mn0aCv-cLmM/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6402822612818821261</id><published>2008-03-26T18:12:00.001+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:08.953+08:00</updated><title type='text'>Aku Lelaki Feminis!?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-oloqS2TkI/AAAAAAAAAA8/kZjiN2qsXN4/s1600-h/feminis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-oloqS2TkI/AAAAAAAAAA8/kZjiN2qsXN4/s320/feminis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181995701721517634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Sisa-sisa cerita feminis, kesimpulan sementaranya. Dan aku, entah terpaksa atau dipaksa, menjadi tokoh feminisnya. Waktu itu (25/03) pukul 10.25 pagi menjelang siang. Aku masih berada di pinggiran boulevard UNS depan. 10.25 berarti aku sudah terlambat 5 menit kuliah. Butuh sekitar 7 sampai 10 menit bagi makhluk selambat aku untuk sampai di ruang kuliahlantai 3 pojok atas. Total aku bisa terlambat 15 menit dan sepertinya tidak ada toleransi keterlambatan 15 menit (dosen aku kejam-kejam terhadap waktu!!!).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Aku mencoba mempercepat ayunan langkah. Barangkali masih ada kesempatan aku masuk kuliah, dari pada masuk ke perpus. Bisa saja dosennya terlambat. Tet..tetet…teeeeet, bunyi klakson motor di belakang aku. Entah siapa yang dimaskud. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku terus melangkahkan kaki. Sejurus kemudian, sepeda motor Supra X berhenti di depan aku. Ada seorang cewek yang cukup cantik banget nongkrong di atasnya dan menoleh ke aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Aku sebenarnya lebih suka berjalan kaki sambil memelototi buku seperti biasanya. Lebih enjoy. Tapi aku tak tega menolak bantuan baik apalagi dari cewek dan aku sedikit tergesa-gesa. Aku mendekatinya dan terjadilah obrolan “kecil”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Aku di belakang aja, ya?” kata aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Di depan aja!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Kenapa? Bolehkan aku di belakang?” aku mencoba mempertahankan keinginan aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Kan, cowok &lt;i&gt;biasa&lt;/i&gt;nya di depan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Begitu?” aku mencoba menguak alasan yang sedikit rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Motor sudah mulai meluncur ke fakultas dan aku sudah memenangkan negosiasi dengan teman aku. Aku duduk di belakang. Dalam perjalanan menuju fakultas aku tidak melanjutkan “perdebatan”. Aku menanyakan masalah kuliah, apakah hari ini ada ujian. Aku dan teman aku cukup bergembira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Tapi perdebatan sebenarnya terjadi dalam benak aku. Apakah aku termasuk lelaki feminis yang sedang mempraktekkan feminisme? Aku pernah ikut seminar tentang fenomena feminisme. Inti sari dari feminisme adalah &lt;i style=""&gt;hegemogi&lt;/i&gt; kaum lelaki terhadap perempuan dalam social, ekonomi, politik, agama, gaya hidup dan entah apalagi. Pokoknya itu, semua yang ada di dunia ini adalah Laki-laki. Yang ada adalah History, sejarah laki-laki yang tanpa wanita-perempuan (Herstory). Hal ini merembes pada masalah yang sepele: siapa yang seharusnya menyetir motor. Feminiskah aku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Teman aku ternyata juga tersenyum setelah aku menangkan dia (bukan aku mengalahkan dia) untuk menyetir motor. Dan aku tidak ada rasa direndahkan apalagi dihina. Tidak. Lelaki feminiskan aku? Ah...posisi aku kan Cuma sekadar numpang, tidak berhak lebih dan aku rasa teman aku lebih berhak untuk menyetir dan lebih berpengalaman dengan motornya sendiri dari pada aku yang baru belajar naik motor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Tentu saja teman aku tidak segeram Simone De Beauvoir—teman aku Cuma tersenyum, entah merasa sudah perempuan atau belum— dalam karyanya Second Sex: “Suatu ketika aku ingin menjelaskan diriku pada diri sendiri…Dan perkara ini menohokku dengan sebuah kejutan bahwa hal pertama yang harus aku katakana adalah “Aku seorang perempuan.” Aku merasakan nada getir dan geram pada Beauvior. Dia ternyata belum menemukan dirinya sebagai seorang perempuan, apalagi harus menjelaskan. kesimpualan aku seperti ini: Perempuan yang bukan feminis bukanlah perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Atau, seperti erangan perempuan Amerika: “Ambisi kami dilatarbelakangai oleh keteran pendekar-pendekar perempuan masa laluyang memandang cemerlang jenisnya sesame perempuan, dan membuktikan kepada semesta bahwa apabila ketentuan konstitusi kita, opini kita dan tata cara tidak melarang kami berbaris kea rah kegemilangan, melalui jalan-jalan sama dengan yang dilakukan oleh laki-laki setidaknya kami harus menyamai dan kadang kala melebihi mereka, dalam cinta kasih kami pada kesejahteraan masyarakat.”—Isi jeritan perempuan Amerika, Philadelphia, 1780.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Dan, masihkah aku lelaki feminis?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Era feminisme sudah berakhir,” kata dosen aku yang sudah membuat disertasi doktoral tentang kepahlawanan perempuan, tentang feminisme. Sekarang era postfeminisme: perempuan terbelenggu oleh kapitalisme wajah, kapitalisme tubuh, kapitalisme pakaian dan sebagainya dari produk kapitalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Apakah aku, Anda, mereka kaum laki-laki, masih mau meng-kartini-kan kaum perempuan dalam jebakan pernikahan? Dan akhir dari perempuan: Dapur, Kasur, Sumur? Aku yakin tidak ada dari Anda semua yang akan menjawab, “Iya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Apakah aku lelaki feminis? Dan bagaimana dengan Anda? Kata dosen aku: “Semua orang adalah feminis sekarang, perempuan atau lelaki.”[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6402822612818821261?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6402822612818821261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6402822612818821261&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6402822612818821261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6402822612818821261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/aku-lelaki-feminis.html' title='Aku Lelaki Feminis!?'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-oloqS2TkI/AAAAAAAAAA8/kZjiN2qsXN4/s72-c/feminis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-9223097429570117738</id><published>2008-03-23T20:00:00.002+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:09.092+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Expresi Muda'/><title type='text'>Ilmuan Meninggalkan Penemuan; Wali Meninggalkan Kuburan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ofhKS2TiI/AAAAAAAAAAs/avmlv1p5eQo/s1600-h/kuburan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ofhKS2TiI/AAAAAAAAAAs/avmlv1p5eQo/s320/kuburan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181988975802732066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hari itu adalah Jumat (21/08). Aku dan beberapa sanak keluarga kembali ke Solo pukul 09.00 WIB. Dari desa Banjar meluncurlah mobil yang kami naiki melewati Bangkalan, Kamal dan sebelum langsung ke Solo mampir di Surabaya, tepatnya ke makam Sunan Ampel. Ini yang pertama kalinya sepanjang sejarahku berangkat ke Solo dengan acara mampir ke makam. biasanya ke rumah teman atau ke TP (mall Tunjungan Plaza), atau paling tdak ke Matahari Departement Store Terminal Purabaya Bungurasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hari Jumat, menurut orang-orang, adalah hari yang baik untuk berziarah ke makam para wali. Kami sampai di Ampel Denta (sebutan ini terkait dengan radio yang di asuh oleh mahasiswa yang belajar di Ampel dan sekitarnya) sekitar pukul 13.30. Dengan perasaan biasa saja karena sudah terlalu sering mengunjungi makam dan melihat kematian, aku masuk lewat pintu sebelah timur. Banyak mobil yang diparkir sampai mobil kami tidak mendapatkan tempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Langkah pertama aku dimulai. Di kanan-kiri jalan banyak pedagang berjualan pakain muslim, aksesoris islami, makanan islami seperti kurma dan sebagainya. Sebelum aku masuk ke kuburan aku mempir ke tempat wudhu untuk menyegarkan muka yang sudah kusut gara-gara tidur di mobil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lalu….dakkkkkkhhhh makam penuh sesak oleh manusia. Ah mungkin ini karena hari kemaren adalah ultahnya Muhammad Yang Terpilih, yang entah ke berapanya. Tapi hal ini selalu dirayakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan…ini berbeda dari yang biasanya aku rasakan pada saat berada di makam para wali. Kali ini ada “SETAN” yang berbisik ke aku: “Kenapa selalu banyak orang mengunjungi makam-makam para wali, kyai, ulama, dan orang-orang yag dianggap suci? Untuk berdoa kepada Tuhan Maha Pemurah? Jika iya, kenapa mesti di kuburan dan di tempat manapun, bukankah dengan ke-Mahamurah-annya Dia bisa mengabulkan apa saja tanpa melihat tempat dan siapa yang meminta?(Kalau tidak barang kali Tuhan punya sifat tidak adil?).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kenapa juga mereka terus berkunjung ke makam? Apakah ini (makam) menjadi satu-satunya peninggalan para wali? Tidakadakah yang lebih keren dan lebih ilmiah untuk aku kunjungi? Semacam lembaga pendidikan yang maju? Buku-buku karangan mereka yang bermutu atau paling tidak perpustakaan lengkap? Bisa juga museum ilmu pengetahuan? Atau penemuan yang bisa aku banggakan dan aku ikuti jejak penemuan dan etos kepenemuannya?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Uhhh…kenapa juga aku yang dipilih oleh setan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Gara-gara “bisikan setan” ini aku tidak khusu’ membaca doa-doa. Aku ingin sesuatu yang “lain”. Aku kira sudah saatnya kita berwisata yang lebih fres dan sedikit lebih menambah ilmu yang sesuai dengan zaman kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku takut jangan-jangan itulah penyebabnya kenapa kita menjadi terbelakang dan terbelakang dan terbelakang…Oleh karena rasa takut itu, barang kali, seorang Abu Nawas yang katanya wali itu berpesan agar kuburannya (dan dilaksanakan): Ada bingkai pintu besar tanpa daun pintu memakai gembok hiper besar namun tanpa kunci dan yang paling aneh ada pintu namum semua area makamnya tidak ada tedeng aling-aling apa-apa sama sekali, Cuma sebungkah batu nisan &lt;i&gt;tok&lt;/i&gt;!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Entah apa maksud dari sang sufi humoris kesohor itu. Aku was-was: jangan-jangan wali Cuma meninggalkan makam!? Dan oleh karena itu Abu Nawas membuat lelucon terakhirnya di makamnya sendiri supaya orang Cuma sekadar &lt;i&gt;tertawa&lt;/i&gt; kalau pergi kekuburan!!!?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surakarta, 23 Maret 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 0.5in;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:9;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-9223097429570117738?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/9223097429570117738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=9223097429570117738&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9223097429570117738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/9223097429570117738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/ilmuan-meninggalkan-penemuan-wali.html' title='Ilmuan Meninggalkan Penemuan; Wali Meninggalkan Kuburan'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ofhKS2TiI/AAAAAAAAAAs/avmlv1p5eQo/s72-c/kuburan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-2918259993452746626</id><published>2008-03-23T10:58:00.002+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:09.228+08:00</updated><title type='text'>Mencari, Memahami, Membuang Titik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ogZqS2TjI/AAAAAAAAAA0/UGwvMd5P2O0/s1600-h/milkyway.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ogZqS2TjI/AAAAAAAAAA0/UGwvMd5P2O0/s320/milkyway.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181989946465340978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Catatan Personal Untuk D. A.*&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;/1/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Titik, bagi sebagian besar manusia, adalah akhir, jika kita mengandaikan sebagai penanda kehidupannya. Akhir merupakan perhentian ke dunia hampa, sunyi-sepi. Maka kita takut padanya, seringkali. Titik, kadang kala, merupakan penantian panjang, entah baik atau buruk. Orang lelah-letih menjalani kehidupannya dalam penghampiran pada titik, namun tak juga ada. Titik, bisa juga, adalah rutinitas hidup, bagi yang lain. Dan begitulah titik telah membagi manusia dalam tiga kelompok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;/2/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Aku, entah di posisi yang mana (mungkin yang pertama), ingin menemukan titik, bahkan kalau perlu menjadi titik itu sendiri. Jiwa yang mulai terkikis oleh perih onak perjalanan hidup. Malam dan siang yang ditaburi oleh detik-detik waktu sungguh seperti menggiring diri ini pada lubang kecil yang sesak aku masuki. Kecil tidak sepadan dengan keangkuhan diri ini sebagai manusia. Bisa juga terlalu kecil jiwa ini (bukan berjiwa besar) untuk menampung sedikit saja resah, onar, gelisah, tanya-takberjawab, dan ah…masih banyak lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Aku, pada saat seperti ini, ingin lekas terakhiri, di secuil titik kehidupan. Tertitikkan di pojok kehidupan yang sunyi-gelap. Titik! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Guru-guruku pernah berkata: titik adalah akhir dari permulaan satu huruf yang menggerombol menjadi kata, menghimpun membentuk prasa, dan menyatu merangkai kalimat, pada akhirnya. Kalimat adalah yang diakhrinya pasti titik, atau dititik dan tertitik. Kalimat tanpa titik adalah kehampaan panjang, yang ironisnya tidak memberikan pemahaman, apalagi arti dan makna. Tanpa titik ia kosong di pojok deretan kalimat-kalimat. Titik yang mengakhiri itu memberikan makna, arti, dan pemahaman. Atu, kalau toh di sana ada makan, kau pasti menggeh-menggeh mengikuti jejaknya yang tak tentu ujung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Tapi sayangnya, titik itu, walau Cuma setitik saja, tidak pernah menghampiri singgah dalam diri ini. Ah…apakah aku salah dalam menyusun serpihan kehidupanku, sehingga tidak pernah titik nampak apalagi singgah. menoleh pun rasanya ia tidak pernah pada diri ini. Entahlah: iya atau tidak, aku tak sampai tahu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Karena, sebagai pengganti titik, aku sering terjepit oleh koma, sebagai penyela-penyesak kehidupanku. Beraneka koma menjejali langkahku, bukan untuk menghentikanku sementara supaya aku berpikir tenang, merefleksikan diri ini, atau menata langkah berikutnya. Tidak. Koma itu bukan halte tempat pemberhentian sementara atau oase untuk menyejukkan tenggorokan barang sejenak, sebagaimana koma berfungsi dalam barisan anak-anak kalimat yang panjang. Apakah guruku salah memberikan ilmu atau aku sembrono menangkap-menghimpun ilmu? Atau barangkali guruku menganggap belum sepatutnya aku mendapatkan ilmu sehingga dia tidak mau memberikannya padaku? Atau juga, maaf, guruku hendak menjadikan aku seorang Bima yang dia utus menjemput ajalnya sendiri dalam mencari Air Kehidupan? Jika yang terakhir ini berlaku pada aku, apakah pada akhirnya aku akan selamat dan mendapatkan ilmu yang aku harap itu, seperti halnya Bima? Ini terlalu nmulia uyntuk bisa dikerjakan oleh aku. Terlalu mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;/3/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Dan kalau seperti itu aku harus memulai dari awal, padahal aku berharap akhir, titik kehidupan. Ah, barang kali memang seperti itu hidup. Bodohkah aku memahami kehidupan? Barangkali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Dalam pertemuan yang lain dengan mu guru, kamu berkata: “Jika kamu berhenti bertanya, maka kamu akan berhenti berilmu.” Guru, apakah kamu ingin mengatakan bahwa Tanya adalah lebih baik dari pada titik; dan di tengah-tengahnya ada koma yang menajdi nafas di jalur gegasnya kehidupan, namun Cuma sebentar dan keresahan mengintip di depannya untuk dilalui? Tanya itu resah, ragu, menggugat, protes, tidak tetap. Titik itu tetap-mantap, kepastian, tegas tidak ragu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;/4/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;Ada juga TITIK BALIK. Aku tidak juga kunjung bertemu dengan titik balik yang akan mengangkat diri ini ke ujung penantian yang penuh dengan harapan. So, tulisan ini belum selesai. Aku sedang mencari sense untuk menulis TITIK BALIK (titik harapan). dan, tulisan ini sebenarnya untuk menanggapi “curhat” tertulis seorang teman yang dikasih ke aku beberapa waktu yang lalu (satu lembar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(99, 36, 35);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-2918259993452746626?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/2918259993452746626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=2918259993452746626&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2918259993452746626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/2918259993452746626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/mencari-memahami-membuang-titik.html' title='Mencari, Memahami, Membuang Titik'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R-ogZqS2TjI/AAAAAAAAAA0/UGwvMd5P2O0/s72-c/milkyway.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-918654976338859336</id><published>2008-03-16T19:16:00.004+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:09.633+08:00</updated><title type='text'>Jejak Terakhir…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R90ClNgWf4I/AAAAAAAAAAc/XPQr-TM86V8/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R90ClNgWf4I/AAAAAAAAAAc/XPQr-TM86V8/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178297984849706882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Catatan Pribadi Untuk F.T; Catatan Tentang Teman&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Aku terasing, di tempat itu, Zi,” ujarnya dingin, dengan nada yang mendalam. Ada rasa yang aneh yang aku tangkap dari perkataannya: hampa. Naluriku, berdasarkan nada bicaranya, sebenarnya merintih seraya berkata dalam hati: ‘kamu sebenarnya ingin mengatakan: “Aku telah diasingkan.” Entah secara manusiawi atau tidak, aku tidak tahu bagaimana dia merasakannnya dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kata-kata itu, menurutnya, adalah idiom yang paling tepat untuk menggambarkan suasana lingkungan hatinya saat itu. “Sebenarnya banyak yang ingin aku omongin, tapi aku cuma bisa memberikan kesimpulanku: Aku terasing di tempat ini,” dengan suara malas dia menambahkan. Dan entah mengapa kata-kata itu juga terus menggema dalam diri ini. Kata ini terus terpantul pada dinding hati dan karenanya ia terus menggema dan menggema. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jejaknya bagi aku barangkali sedikit panjang, meski tercecer di berbagai sel-sel otakku. Saat itu aku melihatnya pertama kali adalah dalam sebuah materi diklat yang dia pandunya. Selalu ada senyum lebar dari bibirnya. Geraknya sedikit berbeda dengan wanita Jawa yang pernah tertanam dalam benakku, ia cekatan penuh gegas. Kontras dengan senyum dingin-ironis yang dia tampilkna pada ku. Senyum itu bukan senyum. Ia pendar dari sebuah dunia yang sudah melain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku sepertinya dilempar ke negeri yang di sana tidak ada penghuni untuk aku ajak bicara sekadar untuk melepaskan kepenatan jiwa yang terkikis. Entah apa yag megikisnya, terlalu banyak barangkali atau ketiadaan yang mengada-ada saja. Ia semakin jauh tuk aku kejar. Melihat jejaknya sekarang pun aku sungguh sulit. Atau, barangkali dia memang tidak menginginkan aku untuk melihat apa lagi berbagi, setidaknya untuk sebuah dunia yang aku ingin (sudahkah?) bangun: Dunia Sahabat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dunia Sahabat? Ah, kosa kata apalagi ini! Nampak ia adalah sebuah dunia hayali belaka, tanpa makna yang mau ditawarkan pada diri ini yang lelah dan letih. Dalam sebuah catatan kegamangan aku mencoba memberikan sebuah gambaran walau tidak definitif. Sekali lagi dalam sebuah kegamangan. Dalam catatan yang tertera pada sebuah lembaran bertuliskan seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dunia Sahabat, dan…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 40.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa Itu Sahabat?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kala aku (kita?) mengatakan sebuah dunia, apalagi Dunia Sahabat, aku dengan seluruh imajinasiku membayangkan sekumpulan manusia, setidaknya dua orang, paling tidak seorang manusia dan seekor hewan. Seikat dualitas (dwi tunggal), yang di sana ada kebersamaan, kehangatan, haru-sedan, tangis-tawa…dan segudang perilaku kebersamaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di sini, di Dunia Sahabat, tidak ada yang lebih tinggi apalagi merasa terendahkan atau terasingkan, apalagi. Tidak ada yang Tuhan dan Hamba, setidaknya itulah kesepakatan hati dia antara keduanya atau lebih, meski mereka berdua tidak mengutarakan dalam kata. Karena, dengan lantang hati sudah cukup berkata.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dunia Sahabat dirajut dengan benang-benang kepercayaan…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan setiap jalinannya semakin erat dengan keterbukaan…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemanusian-Yang-Saling-Membutuhkan antara keduanya, yang sejatinya mengiringi setiap tarikan nafas mereka…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Ah, kamu telah berkata apa. Bagaimana bisa berkata dan berimajinasi tentang dunia sahabat, jika dengan diri kamu sendiri belum juga bersahabat?)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nampak secara implisit diri ini, aku, sudah mulai terbius oleh Revolusi Prancis dengan semboyannya: Fraternite, Egalite, et Liberte (Persaudaraan, Persamaan, Kebebasan).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Atau, bukankah risalah-risalah besar yang datang pada dunia ini melalui para nabi-nabi sebenarnya adalah sebuah ajakan ke Dunia Sahabat, bahkan bersahabat dengan tuhan sendiri?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hehh, kamu, wahai diriku…Ada yang menggelitik resah dalam dirimu, hendak bertanya:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah itu teman? Teman kos, teman sekelas, teman sepermainan, teman seperjuangan, teman curhat, teman hati, teman sepembelajaran, teman tapi mesra (apalagi ini?)…? Lalu bagaimana dengan kawan itu? Kalau Sahabat, yang engkau mengucapkannya dengan suara lembut-hangat? Sahabat Sejati?...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah kau, hei diriku, terlalu memikirkan definisi tanpa memandang arti dan esensi?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 40.5pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Surakarta, February, 12, 2008&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada tanggapan: “Buat Fz: Mengapa terlalu banyak mencoba mendefinisikan, coba saja jalani pasti juga bakal tahu dengan sendirinya…! Banyak-banyak refreshing yah….!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kalau aku tidak “memulai” mendefinisikannya, bagaimana aku bisa memurnikannya dari noda-noda berbagai pertalian dengan manusia yang akan mengkotorinya? Dan bukankah dari pendefinisian yang jelas maka akan tampak segala kebusukan diri ini untuk dibuang jauh dalam menjalani laku persahabatan…? Dan bukankah hidup tanpa dilalui dengan sebuah refleksi adalah hidup yang tidak layak dijalani? Oleh karenanya, adalah sebuah keniscayaan hidup untuk mendefinisikan. Aku tidak mau melangkahkan kaki dengan sepatu berduri yang menusuk-nusuk kaki.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ataukah: ia adalah sebuah dunia laku yang tinggal aku “jalani, (yang di sana) pasti juga bakal tahu dengan sendirinya..!” Seonggok dunia praksis nan praktis. Tapi aku resah: lalu apa bedanya dengan dunia yang dijalani oleh orang gila tanpa sebuah kesadaran diri?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terakhir: Catatan ini tertuju pada F.T. atau malah pada penulis catatan sendiri? Ataukah bisa juga bagi keduanya? Bukankah Dunia Sahabat itu adalah &lt;i&gt;Dreamland&lt;/i&gt;-nya setiap anak manusia?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;…dan aku belum juga sampai pada jawaban, pun menjalaninya, dan belum mau berakhir, semoga. Entah kapan bisa…Barang tentu, Dunia Sahabat tidak dimulai dengan sebaris pertanyaan: “apa itu sahabat?” Namun menjadi pertanyaan besar jika Dunia Sahabat berakhir dengan pertanyaan!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;Hujan belum juga berniat berhenti &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;menyirami Bumi Anak Manusia…(20.30 WIB)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;Surakarta, 20 February 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;“Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat dalam segala-galanya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;Jangan sepelekan persahabatan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;Kehebatannya lebih besar dari pada panasnya pernusuhan.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-weight: bold;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;--Nyai Ontosoroh kepada Minke, dalam &lt;i&gt;Anak Semua Bangsa&lt;/i&gt; oleh Pramoedya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-918654976338859336?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/918654976338859336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=918654976338859336&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/918654976338859336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/918654976338859336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/jejak-terakhir.html' title='Jejak Terakhir…'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R90ClNgWf4I/AAAAAAAAAAc/XPQr-TM86V8/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-8702387271651185772</id><published>2008-03-16T16:17:00.002+08:00</published><updated>2008-12-09T16:36:09.834+08:00</updated><title type='text'>…dan Aku Ingin Berjuang!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R9zYyNgWf2I/AAAAAAAAAAM/Bgt-vlTl2-A/s1600-h/IMG_0009.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R9zYyNgWf2I/AAAAAAAAAAM/Bgt-vlTl2-A/s320/IMG_0009.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178252028699639650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Kata-kata ini: ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan, kebodohan, kebobrokan, penyelewengan…adalah kata-kata yang sering aku dengar dari dulu. Sejak kecil. Dan setiap itu pula, ada dorongan energi yang menyembul kuat dalam setiap syaraf ini, untuk berjuang. Berjuang. Setiap nadanya selalu saja membawa diri ini pada keresahan jiwa, yang darinya memancar kekuatan perjuangan. Dan rasanya bukan Cuma aku. Ini adalah kata yang universal, walaupun tidak selesai didefinisikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Tanya pada sejarawan: dunia sebagaian besar digerakkan oleh Orang-orang Besar (Great Historical Force); dan tidak ada yang berani menggerakkan orang-orang ini kecuali kata-kata tersebut, yang tergambar jelas dalam kehidupan masyarakat mereka. Sastrawan memang masih terus berdebat masalah kata-yang-menggerakkan, namun bukan dalam arti bahwa kata-kata itu kosong, tidak menggerakkan, namun lebih pada keindahan kata, setidaknya menurut aku. Kesimpulan mereka: perjuangan berhenti pada kata. Lantas, sastrawan, ataukah pejuang, sang penegak dan pembuatnya. Tidak ada yang salah dalam posisi keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Peduli setan alas dengan semua itu: aku masih lemah yang mencari tenaga, sesuatu yang diperjuangkan, dengan sungguh. Apakah aku salah masuk zaman, yang seharusnya aku cukup bersenang tanpa perlu musuh kolonialisme, kapitalis-setan, dictator, teroris, atau yang lebih kecil, koruptor kelas kelurahan? Ah, sepertinya itu masih terlalu besar. Atau, bukankah itu terlalu kecil? Dan yang begitu besar adalah dirimu sendiri? Egomu, kebodohanmu, penyelewenganmu, kesesatanmu, bahkan “kekafiran-kemurtadan”-mu? Kurang besar apanya semua itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Ah, itu kan tidak nyata dan abstrak: bukankah selama ini teman-temanmu di kelas selalu menganggapmu orang yang “pintar” bahkan “cerdas”? Itukan yang selalu mereka dengungkan pada mu? Lantaran kesenangan anehmu, pergi ke kampus dan wajib ke perpus, setiap hari? Apakah ini penipuan cerdas ala detektif dan juga mafia, dan intel? Atau, inilah kebodohan yang tak tersadarkan dalam diri ini? Memang begitulah, yang tampak pada diri ini. &lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Setiap detik jarum jam bergerak, diri ini mulai tersisih, jauh tetinggal di belakang detak-detaknya yang terkadang terdengar sayup sunyi di telinga ini. Jiwa dan otakku mulai diseret-seret ke jurang ketidakberartian, mengerikan. Akupun sunyi dalam diri dan tidak berarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Di ujung semua itu: jangan pernah kau tanya: Kapan kau akan insaf, sadar diri, taubat? Cukup dengan kesombongan kecilku akan dijawab: jangan ceramahi aku dengan petuah kuno-bangkamu itu! Dan aku bertanya seraya membalikkan keadaan, dengan keyakinan penuh, “Bukankah aku selama ini berjuang membekuk peraturanmu yang kau anggap suci, yang kau anggap maha kebenaran, namun yang tidak manusiawi itu? Visi-misiku di dunia ini Cuma ada satu: membakar hangus segala yang engkau coba tanam dalam kedirianku, dalam pendidikan mu; aku akan terus menggugat. Namun entah pada siapa kata ini terlontar. Jangan-jangan itu adalah pada diri ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Dari ujung Fakultas, di pojok Jurusan, dengan selembar kertas kebenarannya, seseorang berkata, “Dengan bukti apa engkau berkata sedemikian angkuhnya di bumi kami? Tidak cukupkah sederet angka kelakuanmu (otak, emosi, raga, maksudnya) ini membuktikan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Tidak adakah secuil bukti selain angka-angka yang kau buat tergopoh-gopoh ini? Bukankah itu barang kualitatif yang kau kuantitatifkan dengan pemerkosaan atas nilai-nilai dirimu dan tempat kamu berlindung diri?” Demikian sang aku membela diri, sekali lagi mendemontrasikan kepintaran yang dungu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Kapan kau akan menyerah, heh?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;“Kau salah masuk zaman. Cepat balik sana ke zamanmu nan di ujung waktu yang sudah lama lewat!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Dan aku terbingung-bingung oleh diri ini, pun dengan waktu, ditambah mereka. Aku sudah terkalahkan oleh diri ini, zaman ini, manusia zaman ini… Seharusnya aku berkata dengan lantang: “Tai kucing semua perjuangan! Itu adalah ide murahan yang dicoba suntikkan oleh para hedonis-idolator hiroisme altruisme busuk!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt;"&gt;Dan pada saat-saat bingung itu teman saya berkata, “Zi, kuliahnya udah selesai. Bangun, ayo, makan siang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-8702387271651185772?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/8702387271651185772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=8702387271651185772&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8702387271651185772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/8702387271651185772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/dan-aku-ingin-berjuang.html' title='…dan Aku Ingin Berjuang!'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/R9zYyNgWf2I/AAAAAAAAAAM/Bgt-vlTl2-A/s72-c/IMG_0009.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5129915518020994890.post-6698743186383740535</id><published>2008-03-10T14:42:00.000+08:00</published><updated>2008-03-10T14:47:28.461+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sospol'/><title type='text'>Ruang Demokrasi: Di mana Kau?1</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Gedung Legislatif: Ruang Demokrasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kekuatan demokrasi pada dasarnya adalah kemampuannya untuk memberikan kekuasaan kepada mayoritas tanpa mengucilkan minoritas, kebebasan bagi setiap individu untuk berpendapat atau berkelompok, yang terlembagakan dan dilindungi, dan yang lebih penting adalah kemampuannya untuk melindungi kepentingan minoritas(???). Yang terkahir ini menjadi perbincangan yang tidak pernah selesai dalam polemik tentang demokrasi, terkait masalah &lt;i&gt;wadah&lt;/i&gt; bagi mereka yang terdesak oleh mayoritas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam badan legislatif yang mewakili masyarakat, sering kali minoritas saat perdebatan yang sengit, tidak mendapat corong untuk menyalurkan suara-suara mereka. Inilah dilema demokrasi sejak demokrasi pertama kali dalam ‘parlemen’ orang Yunani dan Magna Charta sampai “demokrasi gelombang ketiga” ini. Dalam perdebatan yang sengit dan alot suara minoritas sangat boleh jadi bukan suara sama sekali, karena biasanya dalam kaadaan yang seperti itu akan dibentuk panja (panitia kerja) yang biasanya terdiri dari orang mayoritas atau seorang ahli. Namun posisi tawar minoritas tetap sama, tidak punya suara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahkan dalam situasi ekstrem mayoritas dan minoritas sama-sama tidak punya suara sama sekali. Kendali kekuasaan berada ditangan mereka yang mengatas namakan rakyat. Mereka secara kuantitas bukan saja minoritas tapi juga elitis dan tertentu. Kasus dana rapelan anggota DPRD yang menjadi tragedy demokrasi bisa menjadi contoh kokret atas situasi di atas. Rakyat yang diwakili oleh mereka anggota DPRD tidak tahu sama sekali tentang kenaikan tunjangan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenaikan yang lainnya. Rakyat protes dan didukung oleh hampir seluruh media dan DPRD pun balik memprotes &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sikap pemerintah yang inkonsisten.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lalu dimana ruang demokrasi bagi rakyat dalam sistem politik demokrasi, jika gedung demokrasi teruntuk mereka yang menjabat atas nama rakyat tapi rakyat tidak punya suara?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ruang Publik: Ruang Demokrasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ruang publik merupakan tempat dimana setiap individu bisa melakukan berbagai aktivitas ekonomi, sosial, politik dan keagamaan tanpa adanya interfensi dari pemerintah. Ruang public yang paling fenomenal di Indonesia munhkin cuma Bundaran Hotel Indonesia. Sungguh aneh memang kalau jalan dipaksa menjadi tempat penganut demokrasi untuk menyalurkan aspirasinya, tapi harus di tengah jalan yang terkadang panas, dingin dan penuh dengan polusi udara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Monas yang begitu luas dan asri ternyata hanya ruang demokrasi untuk para kijang-kijang mungil. Kijang-kijang itu bebas berdemokrasi denagan kawan-kawan mereka; mau ngomong tentang ‘wakil’ mereka yang mewakili diri sendiri, &lt;i&gt;monggo mawon&lt;/i&gt;; mau rapat koordinasi tentang bencana yang menimpa sanak-famili mereka, silahkan; harus mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak merakyat, jangan sungkan-sungkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi jangan berharap itu akan terjadi untuk bangsa manusia Indonesia. Bapak polisi dan tangan kiri-kanannya bisa menciduk mereka yang mau berdemokrasi di Monas. Sebaiknya Anda berdemokrasi di jalan-jalan yang sepi dari mobil, sepeda, kecuali punya ijin untuk berdemokrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Atau Gladak yang penuh dengan mobil yang tidak mengenal arti sosial dan demokrasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demokrasi di negeri seribu tempat ibadah plus negara kepulauan dengan beragam suku dan etnis ini memang susah, sulit dan sering mahal. Ruang untuk berdemokrasi hampir tidak ada sama sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kampus: Ruang Demokrasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak mahsiswa yang sering berkata dengan nada penuh semangat dan percaya diri bahwa kampus adalah basis demokrasi. Maka tidak heran banyak spanduk dan pamflet yang bertuliskan “mari kita sukseskan pesta demokrasi” saat berlangsung pemilihan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiwa, mana legislative, yudikatif dan rakyatnya???), pemilihan dekan sampai pemilihan rektor sebagai pusat pimpinan universitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demokrasi kecil-kecilan atau demokrasi dengan huruf ‘D’ besar yang teman-teman mahasiswa jalankan? Bersama dengan para mahasiswa yang apatis-stylis? Dan juga dengan para dosen yang lulusan S1 samapi S3, pemabantu rektor dan juga para karyawan di lingkungan universitas? Kapan itu terjadi dan di kampus mana yang terjadi praktek-praktek demokrasi, di ruang-ruang perkuliahan dimana mahasiswanya secara cultural tidak mau ‘menyerang’ dosen dengan berbagai pertanyaan dengan taming &lt;i&gt;pakewuh &lt;/i&gt;meskipun dosen mereka salah dan dosennya yang merasa senang dengan sikap mahasiswa yang anti tanya-jawab. Juga terjadi di ruang rektorat yang angkuh dengan kedudukan mereka sebagai ketua dan anggota senat yang maha tinggi tidak terjangkau oleh pemikiran mahasiswa dan para karyawan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rak-Rak Perpustakaan yang Demokratis?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mungkin ruang ‘demokrasi’ yang benar-benar ‘demokrasi’ adalah rak-rak perpustakaan. Anda bisa menemukan berbagai pemikiran yang tertulis dalam lembaran-lembaran buku: komunis ada meskipun di situ ada filsafat Pancasila dan UUD ’45 yang mengharamkan ideology tersebut; sosialisme yang bermusuhan dengan kapitalisme dan feodalisme; liberalisme yang bersanding dengan kolonialisme; dan ada juga kaum konservatif yang kanan berjejer dengan mereka yang kiri; mau sejajar atau berlawanan semua boleh berada di ruang demokrasi ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi ruang demokrasi tersebut sungguh beku dan bisu. Sedangkan “Demokrasi yang hebat tidak bisa disebut demokrasi jika tidak progresif”, sebagaimana diucapkan oleh mantan presiden Theodore Roosevelt pada tahun 1910. Demokrasi yang seperti itu yang kita inginkan, dimana hanya yang merasa pintar dan bisa menulis saja yang boleh pamer otak dan komplain tentang kehidupan sosial-politik? Lalu dimana ruang demokrasi yang bagi orang yang tidak bisa bahasa tulis, masih berbahsa lisan dan bahasa emosi yang melingkupi hampir segenap manusia Indonesia? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kamar Mandi: Ruang Demokrasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kamar mandi bisa saja menjadi ruang-ruang demokrasi bagi diri yang tidak punya kemampuan untuk membuat suara menjadi benar-benar suara. Orang bisa berteriak tentang ketidakadilan, ngomel tentang tingkah laku para wakil rakyat yang cuma suka mengatasnamakan rakyat saja tanpa mau merakyat, mengalami penderitaan rakyat, bergaul dengan penderitaan rakyat dalam kehidupan real, dan di kamar mandi Anda boleh bersumpah serapah tentang sumpah yang pernah dijanjikan oleh wakil rakyat, semuanya boleh dilakukan dalam kamar mandi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demokrasi kamar mandi seperti ini yang kita inginkan? Kenapa kita tidak mengembalikan saja tampuk kepemimpinan ke tangan Bapak Pembangunan kita, Soeharto dengan segala sistem filsafat Pancasilanya yang tidak Pancasilais. Sehingga tidak akan terjadi lagi tragedy “dilarang menyanyi di kamar mandi” sebagaimana diceritakan oleh Seno Gumira Ajidarma. Relakah demokrasi yang kita impikan sejak kita mendeklarasikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun ’45 Cuma sekedar demokrasi kamar mandi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ruang Batin: Ruang Demokrasi?! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Akhirnya karena setiap orang pasti bunya ruang batin dalam dirinya masing-masing maka ‘solusi’ alternative untuk ruang demokrasi bagi setiap manusia Indonesia adalah ruang batin mereka. Setiap orang, kaya-miskin, bodah-intelek, pejabat-rakyat berhak untuk menggunkan ruang batin sebagai wadah untuk menyalurkan setiap aspirasi masing. Dan biarlah tuhan yang menjadi wakil bagi setiap keluhan kita. Dialah Maha Wakil dari segala wakil dalam kehidupan ini. Wakil kita saat suara bukan suara, wakil tatkala rintihan dan rengekan sedih-pilu bukan sebuah aspirasi bagi wakil kita yang sedang asik menghitung hasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi saya (mungkin juga Anda) akan sangat sedih jika ruang batin adalah ruang demokrasi. Bisa-bisa kita bisa kurus badan-batin? Di negeri belahan mana yang mempraktekkan demokrasi batin untuk kehidupan sosial-ekonomi-politik?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;[&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Ditulis oleh M. Fauzi.  Senin tanggal 9 April 2007 pukul 18. 15 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoEndnoteText"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5129915518020994890-6698743186383740535?l=ideobloger.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ideobloger.blogspot.com/feeds/6698743186383740535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5129915518020994890&amp;postID=6698743186383740535&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6698743186383740535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5129915518020994890/posts/default/6698743186383740535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ideobloger.blogspot.com/2008/03/ruang-demokrasi-di-mana-kau1.html' title='Ruang Demokrasi: Di mana Kau?1'/><author><name>ideoblogger</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04961183571134230675</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AHHXtKBau8c/SZPFwSEhXyI/AAAAAAAAAFU/QqGB4X5S_Zg/S220/Graphic1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
